Membangun Manusia Unggul di Tengah Perubahan Teknologi
Tulisan dari Ade Jona Prasetyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence telah mengubah cara perusahaan bekerja. Teknologi ini mampu mengolah data, menyusun laporan, membuat materi promosi, menerjemahkan dokumen, menjawab pertanyaan pelanggan, dan membantu pengambilan keputusan dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Perubahan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan banyak pekerjaan manusia. Kekhawatiran itu dapat dipahami, terutama ketika perusahaan mulai menggunakan otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi. Namun, menghadapi AI dengan rasa takut tidak akan menyelesaikan persoalan. Tantangan yang lebih mendesak adalah memastikan kompetensi sumber daya manusia Indonesia berkembang lebih cepat daripada perubahan teknologi.
AI memang dapat mengambil alih sejumlah tugas rutin. Namun teknologi tidak serta-merta menghilangkan seluruh pekerjaan. Yang lebih mungkin terjadi adalah perubahan pada isi pekerjaan, keterampilan yang dibutuhkan, dan cara manusia menghasilkan nilai tambah.
Organisasi Perburuhan Internasional memperkirakan satu dari empat pekerjaan di dunia memiliki tingkat keterpaparan tertentu terhadap AI generatif. Namun, perubahan tugas di dalam pekerjaan diperkirakan lebih dominan daripada penghapusan pekerjaan secara menyeluruh. Artinya, banyak profesi akan tetap ada, tetapi cara kerjanya berubah.
World Economic Forum juga memperkirakan transformasi ekonomi dan teknologi hingga 2030 dapat menciptakan sekitar 170 juta pekerjaan baru sekaligus menggeser sekitar 92 juta pekerjaan lama. Secara bersih, terdapat potensi penambahan 78 juta pekerjaan. Persoalannya, pekerjaan baru tersebut belum tentu dapat langsung diisi oleh orang-orang yang kehilangan pekerjaan lama.
Di sinilah letak tantangan Indonesia. Kita dapat memiliki peluang pekerjaan baru, tetapi tetap mengalami pengangguran apabila keterampilan tenaga kerja tidak sesuai dengan kebutuhan industri.
Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 147,67 juta penduduk Indonesia bekerja pada Februari 2026, sedangkan tingkat pengangguran terbuka berada pada angka 4,68 persen. Jumlah tenaga kerja kita sangat besar. Apabila berhasil meningkatkan keterampilannya, Indonesia dapat memperoleh keuntungan dari transformasi AI. Namun, apabila terlambat, bonus demografi justru dapat berubah menjadi kesenjangan kompetensi.
Karena itu, agenda utama kita bukan mempertahankan seluruh bentuk pekerjaan lama. Agenda yang lebih penting adalah mempersiapkan tenaga kerja agar mampu beralih menuju pekerjaan yang lebih produktif dan bernilai tinggi.
Pendidikan dan pelatihan tidak dapat lagi berjalan dengan pola lama. Dunia kerja berubah dalam hitungan bulan, sementara kurikulum sering membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbarui. Akibatnya, terdapat jarak antara kemampuan lulusan dan kebutuhan perusahaan.
Sekolah, kampus, lembaga vokasi, pemerintah, dan dunia usaha harus duduk bersama untuk mempercepat pembaruan kompetensi. Pelatihan tidak cukup hanya mengajarkan penggunaan satu aplikasi karena aplikasi dapat berubah dengan cepat. Tenaga kerja perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, membaca data, memecahkan masalah, berkomunikasi, beradaptasi, dan bekerja bersama teknologi.
Tidak semua orang harus menjadi pemrogram atau ahli AI. Namun setiap pekerja perlu memahami bagaimana AI dapat membantu pekerjaannya, bagaimana memeriksa ketepatan hasilnya, serta bagaimana menjaga keamanan data saat menggunakannya.
Seorang tenaga pemasaran perlu memahami cara memanfaatkan AI untuk membaca perilaku konsumen, tetapi tetap harus mampu merumuskan strategi dan membangun kepercayaan pelanggan. Seorang pekerja manufaktur perlu mengenal otomatisasi, tetapi juga harus mampu mengawasi kualitas produksi dan mengatasi gangguan mesin.
Tenaga kesehatan dapat menggunakan AI untuk membantu membaca pola data, tetapi empati, tanggung jawab, dan keputusan medis tetap membutuhkan manusia. Demikian pula dalam sektor kreatif, teknologi dapat membantu menghasilkan konsep, tetapi orisinalitas dan pemahaman budaya tetap menjadi keunggulan manusia.
Pengusaha juga tidak boleh merasa berada di luar ancaman perubahan. AI bukan hanya mengubah pekerjaan karyawan, tetapi juga mengubah cara perusahaan bersaing. Model bisnis yang berhasil hari ini dapat kehilangan relevansi apabila pemilik usaha tidak memperbarui kemampuan.
Pengusaha muda perlu meningkatkan pemahaman mengenai data, otomatisasi, keamanan siber, pemasaran digital, pengelolaan talenta, dan tata kelola teknologi. Memimpin perusahaan di era AI tidak cukup hanya dengan keberanian mengambil risiko. Pengusaha harus mampu menentukan proses mana yang dapat dibantu teknologi dan bagian mana yang tetap membutuhkan penilaian manusia.
Banyak pelaku usaha menggunakan AI hanya untuk membuat gambar, menulis keterangan produk, atau menjawab percakapan pelanggan. Pemanfaatan tersebut memang berguna, tetapi potensinya jauh lebih besar. AI dapat digunakan untuk memperkirakan permintaan, mengendalikan persediaan, membaca arus kas, mengurangi pemborosan bahan, meningkatkan efisiensi logistik, dan menemukan pasar baru.
Namun, adopsi teknologi harus berjalan bersama peningkatan kemampuan tim. Perusahaan tidak seharusnya hanya membeli sistem baru tanpa menyiapkan pekerja yang akan menggunakannya. Investasi pada teknologi dan investasi pada manusia harus menjadi satu paket.
Setiap perusahaan yang mengadopsi AI sebaiknya memiliki program peningkatan keterampilan. Sebelum mengurangi tenaga kerja, perusahaan perlu memetakan apakah pekerja dapat dialihkan ke fungsi baru. Petugas administrasi dapat dilatih menjadi pengelola data. Staf layanan pelanggan dapat dikembangkan menjadi pengawas kualitas pelayanan. Pekerja produksi dapat dilatih mengoperasikan dan merawat mesin otomatis.
Pendekatan tersebut juga menguntungkan perusahaan. Pekerja lama telah memahami proses bisnis, pelanggan, dan budaya organisasi. Meningkatkan keterampilan mereka sering lebih efisien daripada merekrut orang baru dan memulai proses penyesuaian dari awal.
Pemerintah dapat memberikan insentif kepada perusahaan yang secara konsisten melatih pekerjanya. Dukungan fiskal, pembiayaan, atau kemudahan tertentu dapat dikaitkan dengan jumlah tenaga kerja yang memperoleh peningkatan kompetensi dan sertifikasi.
Program pelatihan nasional juga perlu disusun berdasarkan kebutuhan setiap sektor. Industri manufaktur membutuhkan kemampuan yang berbeda dari pertanian, pariwisata, perdagangan, kesehatan, atau ekonomi kreatif. Pelatihan yang terlalu umum sering menghasilkan sertifikat, tetapi tidak selalu menghasilkan kemampuan yang dapat digunakan.
Indonesia juga memerlukan pusat pelatihan dan pemanfaatan AI yang dapat diakses UMKM. Tidak semua pengusaha kecil mampu membeli perangkat, menyewa konsultan, atau merekrut ahli teknologi. Fasilitas bersama dapat memberikan pelatihan praktis, konsultasi, dan pendampingan sesuai persoalan usaha.
Organisasi pengusaha dapat menjadi penghubung antara kebutuhan industri dan program peningkatan keterampilan. Dunia usaha mengetahui jenis pekerjaan yang mulai berubah dan kompetensi yang semakin dibutuhkan. Informasi tersebut harus disampaikan kepada pemerintah dan lembaga pendidikan agar pelatihan tidak tertinggal dari perkembangan pasar.
Pengusaha pun perlu mengubah cara merekrut. Gelar pendidikan tetap penting, tetapi kemampuan nyata harus memperoleh ruang yang lebih besar. Sertifikasi kompetensi, portofolio, pengalaman proyek, dan kemampuan menggunakan teknologi dapat menjadi bagian dari penilaian.
Pada saat yang sama, penggunaan AI harus tetap disertai etika dan tanggung jawab. Teknologi tidak boleh digunakan untuk mengambil keputusan penting mengenai pekerja tanpa pengawasan manusia. Proses rekrutmen, penilaian kinerja, promosi, dan pemutusan hubungan kerja harus tetap dapat dijelaskan dan dikoreksi.
AI tidak memiliki empati, tanggung jawab moral, dan pemahaman utuh mengenai kehidupan manusia. Karena itu, keunggulan manusia tidak hanya terletak pada kemampuan teknis, tetapi juga kreativitas, kepemimpinan, kerja sama, kejujuran, dan keberanian mengambil keputusan.
Kita tidak perlu berlomba melawan mesin dalam mengerjakan tugas yang dapat dilakukan mesin dengan lebih cepat. Kita perlu memperkuat kemampuan yang membuat manusia tetap relevan dan menggunakan mesin untuk meningkatkan kualitas pekerjaan.
Masa depan dunia kerja tidak akan menjadi pertarungan antara manusia dan AI. Masa depan akan menjadi persaingan antara manusia yang mampu menggunakan AI dan manusia yang tidak memperoleh kesempatan mempelajarinya.
Tugas pemerintah adalah memperluas akses pelatihan. Tugas lembaga pendidikan adalah memperbarui kompetensi. Tugas pengusaha adalah meningkatkan kemampuan diri dan pekerjanya. Sementara itu, setiap tenaga kerja perlu memiliki kemauan untuk terus belajar.
AI seharusnya tidak membuat Indonesia kehilangan pekerjaan. AI harus menjadi momentum untuk meningkatkan produktivitas, melahirkan profesi baru, memperkuat daya saing usaha, dan menaikkan kualitas tenaga kerja.
Kita tidak boleh kalah dari AI karena berhenti belajar. Dengan kompetensi yang tepat, manusia tetap menjadi pusat dari setiap kemajuan teknologi.

