Konten dari Pengguna

Menjadikan Investasi Jalan Pemerataan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ade Jona Prasetyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI

Ada perkembangan menarik dalam perekonomian Indonesia yang perlu dibaca lebih jauh. Investasi mulai bergerak melampaui pusat-pusat ekonomi tradisional. Sepanjang semester pertama 2026, realisasi investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp507,8 triliun atau 50,2 persen dari keseluruhan investasi nasional.

Angka tersebut menunjukkan bahwa daya tarik ekonomi Indonesia tidak lagi hanya bertumpu pada Jakarta dan kawasan industri di Pulau Jawa. Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua mulai memperoleh ruang lebih besar sebagai pusat produksi, pengolahan sumber daya, dan pertumbuhan baru.

Perubahan ini patut diapresiasi. Pemerintah telah memperluas infrastruktur, membangun konektivitas, mengembangkan kawasan industri, dan mendorong hilirisasi di berbagai wilayah. Kebijakan tersebut membantu mengubah cara investor memandang daerah. Daerah tidak lagi hanya dilihat sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga sebagai tempat membangun industri dan menciptakan nilai tambah.

Namun pemerataan lokasi investasi belum tentu langsung menghasilkan pemerataan manfaat. Sebuah proyek besar dapat berdiri di daerah, tetapi barang, jasa, tenaga ahli, pembiayaan, dan teknologinya masih didatangkan dari luar. Aktivitas ekonomi memang berlangsung di daerah, tetapi sebagian besar nilai tambahnya dapat mengalir kembali ke pusat.

Di sinilah tantangan pembangunan berikutnya berada. Investasi tidak cukup hanya hadir secara geografis. Investasi harus berakar di dalam ekonomi lokal, mengembangkan pengusaha daerah, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan membangun rantai pasok yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Akan tetapi, Pulau Jawa masih menyumbang 56,47 persen struktur perekonomian nasional. Data tersebut memperlihatkan bahwa pemerataan mulai bergerak, tetapi konsentrasi kegiatan ekonomi masih kuat.

Ketimpangan pusat pertumbuhan juga berhubungan langsung dengan kesempatan kerja. Setiap tahun, banyak anak muda meninggalkan daerah asalnya karena pekerjaan berkualitas lebih banyak tersedia di kota besar. Perpindahan penduduk merupakan bagian yang wajar dari pembangunan, tetapi menjadi persoalan ketika seseorang harus berpindah bukan karena pilihan, melainkan karena daerahnya tidak menyediakan masa depan.

Karena itu, penciptaan lapangan kerja perlu dimulai dari pembangunan ekosistem usaha sesuai kekuatan setiap wilayah. Daerah pertanian membutuhkan industri pengolahan pangan. Wilayah perkebunan memerlukan fasilitas pengolahan, pengemasan, dan distribusi. Kawasan pesisir membutuhkan penyimpanan dingin, pengolahan hasil laut, industri pakan, serta jaringan logistik.

Jika rantai ekonomi tersebut dibangun secara lengkap, satu komoditas dapat menciptakan pekerjaan jauh lebih banyak. Nilai ekonomi tidak hanya dinikmati saat bahan baku dipanen atau ditambang, tetapi juga tumbuh pada tahap pengolahan, pengujian mutu, desain, pengemasan, transportasi, pemasaran, dan ekspor.

Investasi besar dapat menjadi jangkar bagi pertumbuhan semacam ini. Namun hubungan antara investor dan pelaku usaha lokal tidak akan selalu terbentuk dengan sendirinya. Banyak pengusaha daerah memiliki semangat dan pengetahuan lokal, tetapi belum mengetahui kebutuhan industri atau belum mampu memenuhi standar yang ditetapkan perusahaan besar.

Pemerintah daerah bersama organisasi dunia usaha seperti HIPMI dapat mempertemukan kedua sisi tersebut. Kebutuhan investor perlu dipetakan secara terbuka, mulai dari bahan baku, konstruksi, transportasi, konsumsi, pemeliharaan, hingga jasa profesional. Pengusaha lokal kemudian dipersiapkan agar mampu memenuhi standar kualitas, kapasitas, dan ketepatan waktu.

Pendampingan harus bergerak melampaui pelatihan. Pengusaha daerah membutuhkan kesempatan memperoleh kontrak dan membangun rekam jejak. Jika belum mampu menjadi pemasok utama, mereka dapat memulai sebagai pemasok lapis kedua, kemudian berkembang seiring meningkatnya kemampuan.

Pendekatan ini akan membuat investasi menghasilkan efek berganda. Satu perusahaan besar tidak hanya menyerap pekerja secara langsung, tetapi menghidupkan puluhan usaha di sekitarnya. Setiap usaha lokal yang tumbuh kemudian menciptakan pekerjaan baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat daya beli daerah.

Pemerintah juga dapat memberikan penghargaan atau insentif kepada investasi yang membangun rantai pasok lokal. Selama ini, kualitas investasi sering dinilai berdasarkan besarnya modal yang masuk. Ke depan, penilaian perlu memasukkan jumlah pekerjaan permanen, belanja kepada pemasok daerah, pelatihan tenaga kerja, dan transfer kemampuan.

Hal tersebut bukan dimaksudkan untuk membebani investor. Dunia usaha justru membutuhkan hubungan yang sehat dengan masyarakat di sekitar proyek. Dukungan publik akan semakin kuat apabila masyarakat merasakan bahwa investasi membuka pekerjaan, mengembangkan usaha lokal, dan menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pembangunan ekonomi daerah juga tidak berarti setiap kabupaten harus mempunyai seluruh fasilitas industri. Beberapa daerah dapat membangun koridor ekonomi bersama. Satu wilayah menjadi pusat bahan baku, wilayah lain melakukan pengolahan, sedangkan kota terdekat menyediakan jasa keuangan, pendidikan, teknologi, dan logistik.

Kolaborasi semacam ini jauh lebih produktif daripada persaingan antardaerah untuk memperebutkan proyek yang sama. Pemerintah daerah perlu melihat wilayah tetangga sebagai mitra dalam rantai nilai, bukan semata-mata pesaing.

Kampus dan pendidikan vokasi juga harus terhubung dengan arah ekonomi daerah. Jika sebuah wilayah dikembangkan menjadi pusat industri pangan, lembaga pendidikan setempat perlu menyiapkan ahli pengolahan, teknisi mesin, pengawas mutu, tenaga logistik, dan pemasaran. Pendidikan harus bertemu dengan pekerjaan yang benar-benar tersedia.

Kerja sama antara dunia pendidikan dan dunia usaha memungkinkan kurikulum terus mengikuti kebutuhan industri. Program magang dapat menjadi pintu masuk menuju pekerjaan, sementara riset kampus membantu perusahaan lokal menyelesaikan persoalan produksi dan meningkatkan kualitas produk.

Persoalan lain yang perlu dijawab adalah pembiayaan. Pengusaha daerah sering mendapatkan pesanan, tetapi tidak memiliki modal kerja untuk memenuhinya. Perbankan perlu semakin berani menggunakan kontrak, arus transaksi, dan rekam usaha sebagai dasar penilaian, bukan hanya mengandalkan aset sebagai agunan.

Bank pembangunan daerah seharusnya memainkan peran lebih besar sebagai penggerak kegiatan produktif. Dengan tata kelola yang baik, lembaga ini dapat membantu pengusaha lokal masuk ke dalam rantai pasok investasi dan meningkatkan kapasitas produksi.

Semua upaya tersebut membutuhkan kepastian usaha. Perizinan harus mudah, biaya logistik perlu ditekan, pasokan energi harus andal, dan kepastian hukum harus dijaga. Pada saat yang sama, standar lingkungan, keselamatan, dan hak masyarakat tetap tidak boleh diabaikan.

Keberhasilan pembangunan daerah pada akhirnya tidak cukup ditandai oleh peresmian kawasan industri atau besarnya angka investasi. Ukurannya adalah berapa banyak pengusaha lokal yang tumbuh, berapa banyak tenaga kerja yang memperoleh keterampilan baru, dan berapa banyak anak muda yang menemukan kesempatan di daerah asalnya.

Pemerintah telah membuka jalan melalui pembangunan infrastruktur, hilirisasi, dan pemerataan investasi. Dunia usaha perlu melanjutkannya dengan membangun kemitraan yang lebih kuat bersama pelaku lokal. Organisasi pengusaha dapat menjadi jembatan yang mempertemukan modal besar dengan potensi daerah.

Membangun ekonomi dari daerah bukan berarti mengecilkan ambisi nasional. Justru melalui ribuan pusat usaha di kabupaten dan kota, Indonesia dapat memiliki fondasi pertumbuhan yang lebih seimbang dan tahan menghadapi perubahan.

Ketika investasi berakar, usaha lokal naik kelas, dan pekerjaan tumbuh lebih dekat dengan tempat masyarakat tinggal, pemerataan tidak lagi berhenti sebagai gagasan. Ia hadir sebagai kesempatan yang dapat dilihat, dikerjakan, dan dirasakan.