Konten dari Pengguna

Cerpen: Bisikan Itu

Adela Dwi Yanti

Adela Dwi Yanti

Mahasiswa Politeknik Ketenagakerjaan program studi Relasi Industri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adela Dwi Yanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bisikan demi bisikan hadir memberitahuku akan banyak hal yang akan dia ceritakan. Aku yang ingin melupakan halusinasi ini menjadi bertanya-tanya, apakah dia ada atau ini hanya mimpi burukku yang belum kulupakan. Hingga butuh mental dan keberanian yang kuat harus ku kumpulkan seiring dengan bisikan itu yang memaksa agar aku dapat mendengarkan rintihannya dengan cepat.

Nenek dan kakek merupakan orang paling tua, paling dewasa yang mengerti seluk beluk kehidupan, mereka telah merasakan dahulu pahit dan manisnya hidup. Mereka jugalah orang yang berjasa dalam masalah pembelaan dan merekapun orang yang kelak menjadi pahlawan dari keluarga besarnya. Hingga perpisahan itupun tiba, membuat semua bersedih dan menyalahkan keadaan, tetapi itu telah jalan takdir Tuhan yang tidak dapat diubah dan dihindarkan. Kejadiannya meminta semua orang untuk ikhlas, untuk bisa melepas hal yang tentunya itu sangat sulit.

Namaku Tiva, anak dari perceraian orang tuaku. Setelah aku lulus dari bangku sekolah dasar, aku diminta untuk tinggal bersama nenek dan kakek, dengan alasan biar aku dapat menjaga mereka. Saat itu aku anak kecil yang tidak tahu apa-apa, seperti prajurit yang patuh kepada tuannya. Beberapa bulan setelah aku pindah, aku mendapat kabar bahwa orang tuaku akan datang ke rumah, mendengar itu aku seperti mendapatkan tiket jalan-jalan gratis mengelilingi dunia, segitu bahagia mendengarnya. Tetapi berbeda dengan kakakku, dia seakan mendapatkan hari kesialan dihari itu, dia memarahiku, “Kalo pulangnya berdua itu pasti ada masalah, ini kamu malah bahagia.” ucapnya dengan nada tinggi ke arah ku.

Dari perkataannya membuatku bingung, emang aku tidak boleh bahagia akan kedatangan kedua orang tuaku?? pasti mereka sangat merindukanku .

Setelah beberapa saat terdengar bunyi klakson mobil, dan akupun bergegas keluar untuk menyambut mereka. Sayangnya hanya mama yang kutemui,

“Papa mana??” tanyaku.

“Di rumah adeknya” jawab mama langsung masuk rumah.

***

Besoknya papa tiba, dia sendirian dan langsung menemui nenek dan kakekku. Kata-kata yang ku petik saat itu adalah “Saya ingin mengembalikan anak om dan tante”. Aku tidak paham apa maksud papa, aku melihat raut wajah orang sekitar berubah, seakan sedang berada di pemakaman, sedih tapi berusaha kuat. Aku ingin bertanya, tapi aku disuruh keluar dan bermain.

Beberapa hari setelah itu aku menemani saudaraku, di jalan kita bertemu orang yang mungkin dia adalah saudara jauh dari nenek, dia mengatakan “Kamu yang sabar ya, masih banyak yang sayang sama kamu, dan harus rajin-rajin belajar”, dengan nada rendah yang terdengar kasihan ditelingaku. Hanya ku jawab dengan senyuman dan wajah yang tidak tahu maksud perkataannya.

Hari demi hari bagai hujan yang tak henti, semakin banyak yang berbicara hal yang sama kepadaku, aku hanya bisa tersenyum. Mendegar hal itu lagi aku bingung, mengapa orang-orang seperti mangasihaniku, menganggap aku orang yang sedih, amat sedih, yang akan terus sedih, dan akan hancur selamanya. Aku ini kenapa?

Hingga mulut orang bagaikan api naga yang mengambil senyumku membuat aku muak dengan cemoohan yang terlontar dari mulut busuknya dengan kalimat ‘anak yatim’. Sontak terkejut, mengapa kesana?, papaku masih hidup.

Hingga akhirnya aku bertanya kepada nenek tentang orang-orang katakan, dan ternyata yang mereka katakan itu tertuju pada permasalahan keluargaku. Malu sangat malu, merasa jadi tontonan seisi dunia, semua orang seharusnya tidak perlu tahu akan masalah pribadiku. Awalnya kukira perceraian hanya ada di dunia selebritas dan ternyata sekarang terjadi kepadaku.

Semenjak perceraian itulah aku diasuh nenek, nenek dan kakeklah penguatku, di rumah mereka selalu melakukan tingkah-tingkah lucu yang sedikit banyaknya dapat menutupi kesedihanku. Momen nenek yang lagi ngumpul sering kentut, kentutnya seperti terompet yang tidak ada habisnya, apalagi kalau jalan, setiap hentakan kaki diselingi dengan bunyi kentut yang merdu.

Nenek dan kakek adalah orang tua keduaku, mereka orang baik dari yang terbaik. Tinggal bersama mereka tidak mengurangi kecantikanku, malah aku bersyukur aku bisa menjadi wanita yang lebih dewasa, disiplin dan tidak manja. Yang awalnya aku seorang anak bak putri raja dan sekarang bak putri kampung. Aku bahagia bisa memiliki mereka, senyum mereka yang indah dan tatapan yang tulus membuatku tenang.

Aku merasa seperti anak mereka yang paling kecil. Pernah suatu ketika, kami pergi untuk memancing. Setelah itu, nenek langsung memasak hasil tangkapannya. Saat makan aku melihat tangan yang hendak berlabuh ke tempat ikan itu berada, tetapi tangan itu seketika pulang dengan cepat karena ada serangan yang kuat dari tetangga yang mengakibatkan tangan itu tidak dapat sampai pada tujuannya. Aku yang masih kecil hanya diam melihat dan tidak dapat membantah agar tangan itu jadi mengambil ikannya.

Sebegitu sayangnya mereka kepadaku.

Selama aku di sana, aku jarang merasakan kesepian, meskipun diisi dengan kami bertiga, tetapi berwarna, tidak ada yang kurang. Sederhana, namun bermakna. Makan selalu bersama, melakukan ibadah bersama, benar-benar aku tidak merasa sedih sedikitpun. Terkadang tertawa melihat sikap mereka yang seakan muda kembali bak anak remaja yang sedang pubertas sesi kedua. Sempat terlintas dibenakku, apakah mereka melakukan ini karena ingin menghiburku atau emang sebelum aku datang mereka emang seperti ini?

Di tempat inilah aku benar-benar merasakan keluarga itu hadir kembali.

***

Pada bulan Agustus, nenek dan kakek memutuskan untuk terbang ke Kalimantan untuk berlibur di rumah tanteku. Setelah aku mengantar mereka ke bandara, malamnya aku mendapat kabar bahwa mereka belum berangkat karena adanya kendala. Panik bercampur takut akan hal-hal yang terjadi, apakah mereka baik-baik saja atau bagaimana? Hingga akhirnya, pesawat merekapun dapat terbang dan tiba di Kalimantan dengan selamat. Setibanya di sana, mereka dijemput oleh teman tanteku.

Besoknya aku dapat kabar, bahwa mobil yang mereka naiki kecelakaan. Mereka belum sadar sama sekali. Seketika air mata jatuh dipipiku tanpa memberi aba-aba, aku yang jauh dari mereka hanya dapat memanjatkan doa semoga mereka baik-baik saja.

Kejadian itu membuat semua orang menyalahkan tanteku, karena dia terlalu ceroboh menitipkan orang tuanya kepada orang lain.

Kecelakaan yang menimpa pahlawanku itu tidak memberi luka dibagian luar melainkan pada bagian dalam, katanya nenek dan kakek tidak menggunakan sabuk pengaman sehingga membuat mereka terpental dan terhempas. Hal itu aku bayangkan bagaimana orang yang sudah tua bangka, tulangnya tidak begitu kuat mengalami hal yang semiris itu.

Hanya satu pintaku saat itu kepada Tuhan, jangan ambil mereka, sehatkan mereka kembali, tetapkan mereka jadi orang tua yang selalu ada untukku, yang dapat memberiku kebahagiaan.

***

Setelah beberapa bulan dirawat, para pahlawanku itupun tidak dapat diselamatkan, aku sangat sedih, hancur, seketika momen-momen yang pernah dilewati bersama terlintas dibenakku yang membuat aku tak berdaya. Mimpi buruk yang aku takutkan itupun menjadi nyata, perpisahan dari dahulu yang ingin ku hapus dari kamus kehidupanku, tetapi terjadi lagi. Tidak sanggup rasanya hal yang sama akan terjadi lagi, perpisahan, kesedihan, pasti akan menyelimutiku, tidak akan ada lagi yang peduli dan akan menghiburku.

Sulit bagiku untuk ikhlas dan masih tidak percaya bahwa mereka meninggalkanku secepat ini. Baru sedikit hal yang kita lakukan, aku masih ingin selalu bersama kalian. Air mata bagai hujan petir yang bergemuruh ditubuhku, tak henti dan tak kuat untuk menahannya. Telah banyak ungkapan berduka cita datang, baik yang terlihat maupun yang berhembus ketelingaku.....

Segitu menyayat hati cerita yang disampaikannya kepadaku, dia gadis malang yang pasti sangat terpuruk akan kehilangan untuk sekian kalinya. Dia emang ada, dan dia sudah lama ingin berbagi ceritanya kepadaku, melewati bisikan-bisikan yang ku anggap hanya halusinasi mimpi burukku. Kini dia sudah bahagia dan tenang dengan keluarga keduanya itu, ia ikut pergi meninggalkan dunia setelah 10 tahun perpisahannya itu.