Bukan Kopinya yang Mahal, Tapi Cara Kita Menikmati Nongkrong yang Berubah

Mahasiswa Statistika Universitas Airlangga
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Adela Khoirunnisa FST UNAIR tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dulu, nongkrong sering kali berarti duduk bersama teman, memesan minuman sederhana, lalu menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang banyak hal. Tempatnya tidak harus nyaman, apalagi estetik. Yang penting adalah kebersamaan.
Kini, pengalaman itu terasa berbeda.

Bagi banyak anak muda, nongkrong tidak lagi sekadar aktivitas untuk melepas penat atau bertemu teman. Ada pertimbangan lain yang ikut hadir: apakah tempatnya nyaman untuk berfoto, apakah menunya sedang viral, atau apakah suasananya cukup menarik untuk dibagikan di media sosial.
Akibatnya, biaya nongkrong pun ikut berubah. Secangkir minuman yang sebenarnya bukan kebutuhan utama menjadi bagian dari pengalaman yang lebih besar. Ada harga untuk tempat, suasana, akses internet, hingga nilai simbolis yang melekat pada gaya hidup tertentu.
Media sosial memiliki peran yang tidak kecil dalam perubahan ini. Kita terbiasa melihat unggahan teman yang mencoba tempat baru, menikmati makanan yang sedang populer, atau menghabiskan waktu di kafe dengan interior yang menarik. Tanpa sadar, muncul keinginan untuk ikut merasakan pengalaman serupa agar tidak tertinggal dari lingkungan sekitar.
Fenomena ini sering disebut sebagai fear of missing out atau FOMO, yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman yang dinikmati orang lain. Dalam batas tertentu, hal tersebut wajar. Manusia memang memiliki kebutuhan untuk merasa terhubung dan menjadi bagian dari kelompok sosialnya.
Namun, masalah muncul ketika nongkrong berubah menjadi beban finansial. Ketika seseorang merasa harus mengikuti standar tertentu agar tetap dianggap relevan, pengeluaran yang semula bersifat hiburan dapat berubah menjadi tekanan.
Padahal, esensi nongkrong sejak awal bukanlah tentang seberapa mahal minuman yang dipesan atau seberapa estetik tempat yang dipilih. Nongkrong adalah tentang percakapan, tawa, dan waktu yang dibagikan bersama orang-orang terdekat.
Bukan berarti menikmati kafe atau mencoba tempat baru adalah sesuatu yang salah. Sesekali memanjakan diri tetap penting sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri. Yang perlu dijaga adalah kesadaran terhadap alasan di balik keputusan tersebut.
Apakah kita benar-benar ingin menikmati waktu bersama teman, atau sekadar takut tertinggal dari tren yang sedang berlangsung?
Mungkin tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar atau salah. Namun, pertanyaan itu layak kita renungkan. Sebab, bisa jadi yang berubah bukan harga minumannya, melainkan cara kita memaknai kebersamaan dan menikmati hidup.
