Legenda Naga dan Buaya di Sungai Kahayan Pada Masyarakat Kota Palangka Raya

Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam, UIN PALANGKA RAYA
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Adelia Nur Ekawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sore itu di Palangkaraya, langit mulai berubah warna perlahan dari biru yang sudah mulai pudar jadi campuran jingga lembut dan ungu tua yang dalam. Langitnya sedikit buram karena asap tipis dari kebakaran lahan yang terjadi jauh di kejauhan, tapi tetap aja cantik pas mau masuk maghrib. Udara panas dan lengket khas hutan Kalimantan membuat badan jadi merasakan suasana sungguh khas sini.
Suara motor ketinting yang sering ada di tepi sungai nyatu sama suara riak air yang pelan menyapa dermaga kayu yang udah sedikit usang di pinggir Sungai Kahayan. Buat turis yang baru datang ke sini, Sungai Kahayan hanya kelihatan sebagai jalan air gede yang membuat kota jadi terbagi dua, dan juga jadi sarana buat orang bolak-balik antar daerah. Tapi buat warga setempat, terutama suku Dayak Ngaju yang udah tinggal di sekitar sini ratusan tahun lamanya, sungai ini jauh lebih dari sekadar garis di peta.
Cerita tentang naga di Sungai Kahayan ini harusnya kita liat ke arah utara, ke arah kaki Bukit Tangkiling yang jadi ikon kota ini. Bukit itu kayak tombak yang terancang di tanah Kalimantan, kelihatan jelas dari jauh-jauh. Kata orang Dayak Ngaju, bukit ini bukan cuma gundukan batu dan pepohonan sembarangan, tapi dianggap sebagai badan makhluk yang sedang tidur nyenyak, atau bahkan sebagai pintu gerbang yang bisa masuk ke dunia bawah.
Dulu banget, waktu belum ada jalan aspal yang mulus atau gedung beton yang menjulang tinggi, Sungai Kahayan bukan hanya jalan buat orang, tapi juga jadi jalan bagi roh-roh leluhur. Salah satu roh paling hebat yang selalu jadi bahan nyanyian dalam nyanyian adat Nyaru Tenun adalah Naga Besaung. Dari apa yang saya dengar dari obrolan santai sama para tetua di desa Pahandut, naga ini dianggap sebagai penjaga utama yang menjaga keseimbangan air di seluruh sungai. Dia tinggal di gua-gua rahasia yang ada di balik tebing-tebing curam yang ada sepanjang sungai dan juga cabang-cabangnya.
"Tak ada yang pernah bisa liat bentuk naga itu secara utuh sekarang," kata salah seorang pak tua yang sering duduk ngobrol di pinggir pasar Palangkaraya sambil asik hisap rokok gulung yang dibuatnya sendiri. "Tapi dia pasti ada kok, jangan salah. Kalau ada banjir gede yang datang tanpa ada hujan sama sekali di sini, itu tandanya dia lagi bergerak di hulu sungai. Atau kalau perahu tiba-tiba jungkir balik gara-gara ombak yang aneh banget, itu dia lagi berguling-guling di dalam air."
Dalam kepercayaan Kaharingan yang dianut banyak orang Dayak Ngaju, naga ini juga punya hubungan erat sama dunia bawah atau yang mereka sebut Tanjung Sarang. Dia bukan cuma dianggap sebagai binatang ajaib, tapi sebagai roh yang punya tugas penting untuk menjaga supaya manusia nggak jadi tamak dalam mengambil apa yang ada di alam. Makanya kalau kita liat peta Sungai Kahayan dari atas, bentuk alirannya seperti naga raksasa yang lagi merayap perlahan di tanah Kalimantan lengkungan-lengkungan tajamnya dianggap sebagai jejak gerakan makhluk purba itu yang masih terlihat sampai sekarang.
Kalau naga adalah penjaga roh yang tidak pernah kelihatan secara langsung, buaya di Sungai Kahayan malah jadi raja nyata yang bisa langsung dilihat dan sering membuat orang merinding kalau berpikir tentangnya. Sungai Kahayan beserta cabang-cabangnya dan juga rawa-rawa yang ada di sekitarnya memang cocok banget jadi tempat tinggal Buaya Muara. Tapi untuk warga Palangkaraya, buaya di sini tidak hanya hewan buas yang ditakuti, tapi dianggap sebagai makhluk yang mulia dan memiliki hubungan erat sama kehidupan mereka.
Hubungan orang-orang di sini sama buaya telah ada sejak lama, bahkan tercatat dalam legenda terkenal tentang Tambun dan Bungai dua bersaudara yang jadi pahlawan bagi suku Dayak Ngaju dan dipercaya bisa berubah bentuk jadi buaya.
Buaya yang gede dan tua di Sungai Kahayan sering dianggap sebagai penjaga roh keluarga yang sudah meninggal, tugasnya untuk menjaga dan merawat keturunannya yang masih hidup. "Kalau ada buaya yang mendekatin perahu kita atau bahkan naik ke dermaga kayu, itu bukan berarti dia mau nyerang kita," cerita salah satu warga senior yang tinggal di daerah Panarung. "Itu tandanya dia lagi 'ziarah' mau liat cucu-cucunya yang masih hidup di sini."
Waktu dulu pas orang Belanda datang ke sini dengan kapal uap mereka, para pelaut Eropa itu langsung takut sekali sewaktu melihat buaya-buaya besar berjemur di lumpur tepi sungai. Tapi buat warga lokal, ini hal biasa aja. Mereka bahkan punya mantra-mantra lama yang diturunin dari generasi ke generasi untuk bisa menghindari bahaya dan bisa hidup berdampingan sama buaya.
"Dulu sewaktu saya masih kecil, kita sering mandi di pinggir sungai dengan bebas aja," cerita pak tua yang dulu sering main di tepi Kahayan itu lagi sambil menggosok tangan yang keriput. " hanya orang tua saja yang mengatakan, jangan pernah mandi di tengah sungai, ya. Juga jangan pernah ludah atau pipis sembarangan di dalam air buaya tahu mana anak yang bandel dan mana yang sopan sama alam."
Ada juga cerita tentang buaya putih yang sering muncul di salah satu cabang sungai yang dekat dengan kawasan konservasi. Orang bilang kalau buaya putih itu muncul, itu tandanya sungai dalam kondisi sehat dan segar. Kalau dia tidak muncul lama-lama, bisa jadi tandanya ada musibah yang mau datang atau sungai sedang dalam kondisi tidak baik. Yang paling seru dari semua ini adalah, naga dan buaya di sini bukan jadi musuhan atau saling bersaing. justru mereka selalu saling melengkapi satu sama lain dalam cerita dan budaya orang Palangkaraya. Kota Palangkaraya memang baru dibangun tahun 1957 buat jadi ibukota yang modern di tengah hutan Kalimantan, tapi dasar dari kota ini penuh dengan simbol-simbol dari dua makhluk ajaib itu.
Motif naga dan buaya seringkali muncul bersama-sama entah di lambang daerah, ukiran tradisional Dayak, hiasan di pintu rumah panjang, atau bahkan di sandung makam yang jadi tempat peristirahatan roh leluhur. Naga biasanya jadi lambang air yang subur dan memberi kehidupan, sedangkan buaya jadi penjaga yang menghubungkan dunia manusia dengan alam roh.
Di tengah kota yang sekarang sudah punya jembatan besar dan mall-mall modern, cerita tentang naga dan buaya ini jadi pegangan penting buat menjaga identitas diri mereka. Walaupun sekarang banyak orang yang sudah pake mobil dan HP canggih, tapi kalau ada banjir yang datang atau ada buaya yang keluar ke tempat yang tidak biasa, ingatan tentang cerita lama itu langsung muncul lagi dalam pikiran mereka.
Beberapa tahun lalu, kalau ada berita tentang buaya raksasa yang muncul atau ada kejadian tidak biasa di sungai, selalu jadi pembicaraan hangat di kalangan warga. Tapi beda sama daerah lain yang mungkin langsung buru-buru mau membunuhnya, di sini warga jadi lebih sabar. Mereka bakal langsung menelepon BKSDA buat datang evakuasi, dan selalu bilang kalau itu adalah keluarga atau penjaga yang tidak boleh dibunuh sembarangan. Kalau ada bencana alam yang terjadi di sekitar Bukit Tangkiling kayak tanah longsor atau banjir yang luar biasa besar seringkali orang-orang mengaitkannya dengan kemarahan sang naga.
Mereka bilang mungkin karena ada tambang yang tidak sesuai aturan atau ada orang yang tebang kayu liar di hulu sungai, jadi sang penjaga merasa tidak senang. Sekarang ini, anak muda di Palangkaraya mulai melihat sosok naga sebagai simbol dari ekosistem sungai yang harus dijaga dengan baik tidak lagi dianggap sebagai makhluk ajaib yang bertanduk dan mengerikan.
Spesies Buaya Muara sendiri sudah hampir punah di banyak tempat di Indonesia, tapi di Sungai Kahayan mereka masih bisa bertahan dengan baik, salah satunya karena budaya lokal yang melarang membunuh mereka sembarangan. Cerita tentang naga dan buaya ini juga punya hubungan erat dengan ritual Tiwah upacara kematian yang penting bagi suku Dayak Ngaju, di mana roh leluhur dipercaya akan menyeberangi sungai untuk melanjutkan perjalanan mereka ke alam lain. Dan dipercaya bahwa tanpa perlindungan dari naga dan buaya, perjalanan roh tersebut tidak akan berjalan dengan mulus.
Di era modern yang serba cepat ini, cerita-cerita lama ini juga mulai dijadikan sebagai daya tarik wisata yang edukatif. Banyak turis yang datang tidak hanya buat melihat matahari terbenam dari atas jembatan, tapi juga mau paham tentang filosofi yang ada di balik sungai ini. Mereka belajar bahwa sungai tidak hanya air yang mengalir, tapi juga sebagai tempat yang menyimpan banyak makna dan cerita.
Ada sore lain yang saya alami di dermaga yang sama. Anak-anak kecil lagi asik main lompat-lompat di bagian air yang dangkal, sambil tertawa riang. Sambil bermain, mereka denger cerita dari nenek mereka yang duduk di atas batu besar, cerita tentang naga yang suka membantu nelayan kalau mereka sedang kesusahan menangkap ikan. "Kalau dia goyang ekornya dengan pelan-pelan, ikan-ikan itu bakal ngumpul di satu tempat," kata neneknya sambil tertawa lembut, mata penuh dengan cinta saat melihat cucunya bermain.
Di pasar malam Palangkaraya yang selalu ramai, para pedagang yang menjual ikan segar sering bercerita tentang buaya yang kadang malam-malam naik ke darat buat cari mangsa, tapi selalu balik lagi ke sungai tanpa pernah mengganggu orang-orang yang ada di sekitar pasar. "Itu penjaga kita semua, jadi kita juga harus menjaganya," kata mereka sambil hati-hati menimbang dagangan ikan yang baru mereka tangkap. Salah satu pengalaman yang tidak akan terlupakan adalah perjalanan naik perahu ke arah hulu sungai.
Melewati satu kelokan demi kelokan lain yang bentuknya mirip sisik naga yang bersusun rapi, rasanya bikin bulu kuduk merinding dengan sendirinya. Warga yang jadi juru bicara kita bilang, kalau angin tiba-tiba jadi kencang padahal tidak ada awan hitam di langit, itu tandanya sang naga lagi bicara mungkin mau memberi pesan atau peringatan untuk kita semua. Legenda Tambun dan Bungai sendiri makin hidup lagi saat cerita mereka mulai diukir kembali di kayu-kayu rumah betang yang ada di beberapa desa adat. Gambar buaya dengan mata yang dipercaya bisa menyala merah di malam hari jadi penjaga pintu rumah, melindungi semua penghuninya.
Anak muda sekarang bahkan mulai membuat video TikTok tentang cerita ini, mereka menggabungkan cerita lama dengan lagu Dayak modern yang lebih menarik buat generasi muda, agar cerita ini tidak pernah pudar dan tetap hidup. Tahun lalu ada banjir besar yang melanda sebagian daerah di sekitar Sungai Kahayan. Waktu itu, banyak orang langsung pergi ke tepi sungai buat melakukan acara kecil mereka membawa makanan dan benda-benda kecil yang dianggap memiliki makna, lalu minta maaf ke sang naga atas sampah plastik yang banyak numpuk di sungai.
Tidak lama setelah itu, buaya-buaya mulai muncul lebih sering dari biasanya, seperti jadi jawaban bahwa mereka sudah menerima permintaan maaf itu. Sekarang juga ada paket wisata khusus yang mengajak pengunjung naik perahu di malam hari. Dengan membawa lampu sorot, kita bisa melihat mata buaya yang bersinar seperti titik kuning di tengah kegelapan sungai. Sambil berlayar pelan, kita juga bisa mendengar nyanyian adat yang dinyanyikan oleh pemandu wisata yang juga berasal dari suku Dayak Ngaju. Banyak pengunjung yang pulang bukan hanya membawa foto sebagai kenang-kenangan, tapi juga membawa cerita baru yang mereka dapatkan cerita yang membuat mereka lebih menghargai alam dan budaya di sini.
Di sekolah-sekolah di Palangkaraya juga telah mulai ada pembelajaran tentang cerita ini. Guru-guru mulai mengajarkan anak-anak bahwa naga bisa dijadikan sebagai simbol penting tentang alam yang harus dijaga lestari, sedangkan buaya jadi pengingat tentang pentingnya harmoni antara manusia dan binatang. Generasi baru mulai paham bahwa Sungai Kahayan tidak hanya bagian dari tempat tinggal mereka, tapi juga sebagai warisan yang harus dijaga dan dilestarikan buat anak cucu kelak. Tiap kali maghrib tiba, banyak warga yang suka duduk santai di tepi sungai.
Malam akhirnya tiba di tepian Sungai Kahayan. Lampu-lampu dari rumah-rumah yang ada di pinggir sungai menyala seperti kunang-kunang yang bersinar di malam hari. Suara kendaraan yang ramai di kota mulai tergantikan dengan suara alam yang lebih tenang suara angin yang menyapu dedaunan, suara riak air yang terus mengalir, dan kadang suara binatang kecil yang bersuara di dekat hutan. Tapi Sungai Kahayan sendiri tetap mengalir dengan tenang, seolah-olah menyimpan semua rahasia dan cerita yang ada di dalamnya.
Cerita tentang naga dan buaya ini tetap hidup dalam berbagai cara dari rasa takut yang dimiliki nelayan yang harus keluar malam hari, dari doa-doa yang selalu diucapkan saat melihat Bukit Tangkiling, dari sikap menghormati yang muncul setiap kali ada buaya yang lewat dekat perahu. Naga yang bentuknya jadi alur sungai menjaga keseimbangan kosmos, buaya yang jadi raja di lumpur tepi sungai menjadi saksi hidup dari sejarah panjang suku Dayak Ngaju. Pada akhirnya, manusia hanyalah tamu di sini harus tunduk pada hukum alam yang sudah ada jauh sebelum kota ini pernah dibangun. Kalau kamu punya kesempatan datang ke Palangkaraya, jangan hanya melihat air sungai yang keruh itu sebagai sesuatu yang kotor atau penuh sampah.
