Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Sulit Merasa Cukup?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adelia Dian Paramitha Prasetyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: ChatGPT

Ketika rasa “kurang” bukan lagi tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang bagaimana kita menilai kehidupan itu sendiri.

Kapan terakhir kita merasa puas dengan apa yang kita dapatkan? Ketika mendapat kenaikan gaji, jabatan yang diimpikan, pencapaian akademis, atau barang yang selama ini diinginkan?

Namun, seberapa lama rasa puas itu bertahan? Setelah satu pencapaian selesai, sering kali muncul standar dan keinginan baru. Rasa cukup ternyata hanya sebentar, sebelum kita kembali bertanya: Apa lagi yang harus saya capai?

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berkembang. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: Mengapa pencapaian yang semakin banyak tidak selalu membuat kita merasa semakin cukup?

Jawabannya mungkin karena rasa “cukup” tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi juga oleh standar yang kita gunakan untuk menilai kehidupan dan standar itu dapat terus berubah.

Ketika kita menilai diri dengan membandingkan

Manusia memiliki kecenderungan mengevaluasi dirinya melalui perbandingan dengan orang lain (social comparison theory), terutama ketika ukuran objektif mengenai kemampuan atau posisi diri tidak tersedia (Festinger, 1954).

Perbandingan sosial tidak selalu dilakukan secara sadar. Kita dapat mulai mengevaluasi diri ketika mengetahui usia, pendapatan, jabatan, rumah, pasangan, pendidikan, penampilan, atau pencapaian orang lain.

Perbandingan sebenarnya tidak selalu buruk. Orang lain dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi. Seorang pegawai, misalnya, dapat terdorong mengembangkan kompetensi setelah melihat keberhasilan rekannya. Seorang mahasiswa dapat memiliki standar baru setelah melihat prestasi temannya.

Persoalan muncul ketika perbandingan menjadi kebiasaan dan ukuran diri semakin bergantung pada posisi kita dibandingkan dengan orang lain.

Kita tidak lagi bertanya, “Apakah kehidupan saya sesuai dengan nilai dan kebutuhan saya?” Kita mulai bertanya, “Apakah saya lebih baik daripada dia?”

Hal yang kemarin dianggap sebagai keberhasilan dapat tiba-tiba terasa seperti kegagalan. Bukan karena kehidupan kita berubah, tetapi karena cara kita menilainya berubah.

Ketika ukuran keberhasilan terus bergerak

Kita sering mengira rasa cukup akan datang ketika jumlah yang kita miliki mencapai angka tertentu. Padahal, standar tersebut dapat terus bergerak.

Dalam psikologi dikenal istilah hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk beradaptasi terhadap perubahan dalam kehidupannya. Proses ini tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya respons emosional, tetapi juga dengan perubahan cara menilai, menetapkan standar, dan memandang kehidupan (Bortolotti & Antrobus, 2021).

Ketika penghasilan meningkat, kebutuhan yang dianggap normal dapat ikut meningkat. Ketika jabatan naik, posisi yang dahulu terasa istimewa dapat menjadi biasa. Ketika satu target tercapai, target berikutnya segera mengambil tempat. Garis finis pun seolah berpindah setiap kali kita mendekatinya.

Bukan berarti pencapaian tidak penting. Masalah muncul ketika kita berharap pencapaian baru akan membuat kita merasa cukup untuk selamanya, padahal rasa kurang dapat muncul kembali karena standar kita terus berubah.

Masalahnya bukan keinginan untuk memiliki lebih

Merasa cukup tidak berarti berhenti bertumbuh atau memiliki ambisi. Seseorang tetap dapat bersyukur atas pekerjaan yang dimiliki sekaligus menginginkan karier yang lebih baik. Kita dapat menghargai rumah yang dimiliki sekaligus berusaha mendapatkan rumah yang lebih sesuai bagi keluarga.

Yang membedakan bukan ada atau tidaknya keinginan untuk mendapatkan lebih, tetapi dari mana keinginan tersebut berasal.

Apakah kita mengejar sesuatu karena memang kita inginkan, atau karena takut tertinggal dari orang lain? Apakah target itu benar-benar kita inginkan, atau hanya mengikuti standar orang lain?

Self-Determination Theory menjelaskan bahwa kesejahteraan dan perkembangan manusia berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan psikologis dasar akan autonomy, competence, dan relatedness—merasa memiliki pilihan atas hidup, mampu berkembang, dan memiliki hubungan bermakna dengan orang lain (Ryan & Deci, 2000).

Karena itu, kehidupan yang baik tidak cukup diukur dari “berapa banyak yang saya punya,” tetapi juga dari “apakah kehidupan yang saya jalani memang saya anggap bernilai?”

Belajar melihat apa yang sudah ada

Bersyukur bukan berarti menyangkal kekurangan. Bersyukur adalah kemampuan memperhatikan dan menghargai hal-hal yang bernilai dalam kehidupan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa intervensi gratitude dapat memberikan peningkatan kecil tetapi nyata pada kesejahteraan (Choi et al., 2025).

Jika perhatian hanya diarahkan pada apa yang belum dimiliki, kehidupan akan terasa seperti daftar kekurangan yang tidak pernah selesai. Sebaliknya, ketika kita mampu melihat apa yang sudah ada tanpa kehilangan keinginan untuk memperbaiki keadaan, kita membangun cara pandang yang lebih seimbang.

Mengubah pertanyaan

Barangkali kita tidak perlu terus bertanya, “Apa lagi yang harus saya miliki agar merasa cukup?” Pertanyaan itu hampir tidak memiliki akhir.

Kita dapat mengubahnya menjadi:

“Apa yang sebenarnya saya anggap penting dalam hidup?”

“Apakah standar keberhasilan saya benar-benar milik saya?”

“Apakah saya mengejar sesuatu karena menginginkannya, atau karena takut tertinggal?”

Atau, “Kalau saya tidak membandingkan diri dengan orang lain, bagaimana saya melihat hidup saya sendiri?”

Ini bukan berarti kita harus berhenti berusaha. Justru, pertanyaan tersebut membantu kita membedakan antara pertumbuhan dan perlombaan yang mungkin terlihat sama, tetapi memiliki pengalaman psikologis yang berbeda.

Pertumbuhan membuat kita bergerak karena ada sesuatu yang bermakna untuk dikembangkan. Perlombaan yang tidak pernah selesai membuat kita bergerak karena takut tertinggal.

Pada akhirnya, merasa cukup bukan berarti, “Saya tidak membutuhkan apa-apa lagi.” Merasa cukup adalah kemampuan untuk mengatakan, “Saya masih ingin bertumbuh, tetapi saya tidak harus membenci kehidupan saya sekarang agar mau bergerak menuju kehidupan yang lebih baik.”

Sebab mungkin masalahnya bukan karena hidup kita terlalu sedikit, melainkan karena kita terlalu sering menggunakan kehidupan orang lain sebagai penggaris untuk mengukur kehidupan sendiri—penggaris yang tidak pernah memiliki angka terakhir.