Artificial Intelligence: Peran dalam Konten Viral dan Kreativitas Digital

Mahasiswi Sistem Informasi di Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Adelia Rahma Haliza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Artificial Intelligence (AI) kini menjadi kekuatan utama di balik fenomena konten viral yang menyebar cepat di berbagai platform media sosial . Pernahkah kita bertanya mengapa dalam hitungan menit sebuah video bisa viral dan muncul di mana-mana? Jawabannya ada pada peran AI yang semakin besar dalam dunia kreatif. Teknologi ini tidak lagi hanya digunakan oleh perusahaan besar, tetapi juga telah menjadi alat bantu bagi content creator, digital marketer, pelaku usaha, hingga mahasiswa yang ingin menghasilkan konten menarik secara lebih cepat dan efisien.
Gambar 1. Visualisasi konsep Artificial Intelligence untuk pembuatan konten digital
Sumber: Unsplash – AI Content Creation - https://unsplash.com
Perkembangan AI semakin pesat seiring meningkatnya penggunaan media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya. Terutama sejak 2023, ketika teknologi generative AI meledak ke permukaan dan mengubah cara konten diproduksi secara global. Kebutuhan akan konten yang terus-menerus diperbarui membuat para kreator harus bekerja lebih cepat untuk mengikuti tren. Dalam situasi tersebut, AI hadir sebagai solusi yang mampu membantu proses pencarian ide, penulisan naskah, pembuatan desain, editing video, hingga analisis performa konten. Berbagai tools seperti ChatGPT, Canva AI, Midjourney, DALL-E, Runway, dan ElevenLabs menjadi contoh nyata bagaimana AI membantu proses produksi konten digital.
Pemanfaatan AI tidak hanya berdampak pada kreator konten. Brand, perusahaan periklanan, digital marketer, hingga konsumen juga merasakan pengaruhnya. Bagi perusahaan, AI membantu menganalisis perilaku audiens sehingga iklan yang ditampilkan menjadi lebih personal dan relevan. Misalnya, brand kosmetik kini menggunakan AI untuk membuat ratusan variasi copywriting iklan yang disesuaikan dengan minat masing-masing segmen konsumen, sementara pelaku UMKM memanfaatkan Midjourney untuk menghasilkan visual produk profesional tanpa perlu menyewa fotografer. Sementara itu, konsumen mendapatkan pengalaman digital yang lebih sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Hal ini membuat strategi pemasaran menjadi lebih efektif dibandingkan metode konvensional yang bersifat umum.
Gambar 2. Artificial Intelligence dalam pemasaran digital
Sumber: Pexels – Artificial Intelligence and Digital Marketing - https://www.pexels.com
Di berbagai platform digital, AI telah digunakan untuk berbagai tujuan. Pada media sosial, AI membantu merekomendasikan konten yang kemungkinan besar disukai pengguna. Dalam dunia e-commerce, AI digunakan untuk memberikan rekomendasi produk berdasarkan riwayat pencarian dan pembelian. Pada aplikasi desain grafis, AI mampu menghasilkan ilustrasi, logo, hingga konsep visual hanya melalui perintah teks. Bahkan dalam produksi video, AI dapat membantu membuat subtitle otomatis, menghapus latar belakang, hingga menghasilkan suara narasi yang terdengar alami.
Alasan utama mengapa AI semakin populer adalah kemampuannya meningkatkan produktivitas. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Seorang content creator, misalnya, dapat menggunakan AI untuk mencari ide konten, membuat draft naskah, menghasilkan gambar pendukung, dan menganalisis performa unggahan dalam satu alur kerja yang lebih efisien. Selain menghemat waktu, AI juga membantu mengurangi biaya produksi sehingga peluang berkarya menjadi lebih terbuka bagi individu maupun usaha kecil.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan AI juga menghadirkan sejumlah tantangan. Salah satu risiko terbesar adalah penyebaran informasi yang tidak akurat atau misinformasi. AI dapat menghasilkan teks yang terlihat meyakinkan tetapi belum tentu benar. Selain itu, penggunaan AI secara berlebihan berpotensi menurunkan orisinalitas karya apabila pengguna hanya menyalin hasil yang diberikan tanpa melakukan penyuntingan dan pengembangan ide. Permasalahan lain yang juga sering dibahas adalah isu hak cipta, privasi data, serta kemungkinan penyalahgunaan teknologi untuk membuat konten manipulatif seperti deepfake.
Gambar 3. Kolaborasi manusia dan Artificial Intelligence
Sumber: Unsplash – Human and AI Collaboration - https://unsplash.com
Menurut saya, AI seharusnya dipandang sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kreativitas manusia. Ide, empati, pengalaman, dan kemampuan memahami konteks sosial tetap menjadi keunggulan yang sulit digantikan oleh teknologi. AI memang mampu menghasilkan gambar, tulisan, atau video dengan cepat, tetapi nilai kreativitas sejati tetap berasal dari manusia yang memberikan arah, tujuan, dan makna pada karya tersebut. Oleh karena itu, pengguna perlu melakukan verifikasi informasi, menghargai hak cipta, serta menggunakan AI secara bertanggung jawab agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.
Pada akhirnya, masa depan kreativitas digital kemungkinan besar akan dibentuk oleh kolaborasi antara manusia dan AI. Konten viral di masa mendatang bukan hanya soal siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi juga siapa yang mampu memanfaatkan teknologi tersebut secara kreatif, etis, dan bertanggung jawab. Dengan penggunaan yang tepat, AI dapat menjadi mitra yang membantu manusia menciptakan karya-karya inovatif sekaligus membuka peluang baru dalam dunia konten digital dan periklanan.
