Pot Hias Dari Galon Bekas Dalam Program "Pilah-pilih Sampah"

Mahasiswa Statistika Universitas Airlangga
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Adelia Rizky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BANYUWANGI – Kesadaran lingkungan perlu ditanamkan sejak dini. Itulah yang mendasari mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 8 Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar program edukatif bertajuk "Pilah-Pilih Sampah" di SD Negeri 3 Tegalrejo, Desa Tegalrejo, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, pada Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan yang menyasar siswa kelas 5 dan 6 ini berlangsung di lapangan sekolah, tepat setelah senam mingguan rutin yang biasa digelar setiap hari Sabtu. Aktifitas dilanjutkan dengan Seminar Pilah-Pilih Sampah yang dimulai dengan materi edukasi yang menjelaskan tentang cara sederhana untuk memilah dan memilih sampah berdasarkan jenisnya yang mudah untuk dipahami oleh anak-anak.
“Saya jadi tahu kalau sampah plastik dan sampah daun itu beda tempat buangnya,” ujar salah satu siswa kelas 5 dalam sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif.
Yang menarik, SD Negeri 3 Tegalrejo ternyata telah menyediakan tempat sampah terpisah untuk sampah organik dan anorganik. Hal ini memudahkan para siswa untuk langsung mempraktikkan ilmu yang baru mereka dapatkan. Dalam seminar tersebut, mahasiswa juga mengenalkan tiga prinsip utama pengolahan sampah, yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (memakai kembali), dan Recycle (mendaur ulang).
Setelah sesi teori usai, suasana berubah menjadi semakin seru. Para siswa dibagi menjadi lima kelompok, masing-masing terdiri dari tujuh orang, dan didampingi satu panitia mahasiswa BBK. Mereka diajak mempraktikkan salah satu metode pengolahan sampah, yaitu Recycle.
Galon bekas yang telah dibentuk menyerupai buah stroberi oleh panitia kemudian diwarnai dengan cat minyak merah, hijau, dan putih. Setiap kelompok mendapat tiga kuas untuk berkreasi. Hasilnya pot tanaman unik berbentuk stroberi yang nantinya akan digunakan sebagai aksen hias di lingkungan sekolah.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya mendengar teori, tetapi juga merasakan langsung bahwa sampah bisa memiliki nilai estetika dan manfaat jika dikelola dengan kreatif,” ujar salah satu mahasiswa BBK UNAIR.
Program ini tidak hanya sekadar kegiatan seru, tetapi juga merupakan bentuk kontribusi nyata dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) , khususnya SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim (Climate Action) dan SDG 15 tentang pelestarian ekosistem darat (Life on Land) . Dengan mengolah sampah menjadi barang bernilai, anak-anak diajak menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa BBK UNAIR berharap kesadaran lingkungan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi terus tumbuh dalam keseharian generasi muda. Sebab, menjaga bumi bukanlah tugas orang dewasa saja, hal tersebut adalah tanggung jawab bersama, dari usia dini hingga dewasa.
