Konten dari Pengguna

Mbah Cipto Gandung, Penjual Brongkos Legendaris sejak Era Kolonial di Klaten

Adelia Dwi Wahyu Febriyanti

Adelia Dwi Wahyu Febriyanti

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret Surakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adelia Dwi Wahyu Febriyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mbah Cipto menyiapkan brongkos di dapur Warung Brongkos Cipto Gandung di Desa Gondangan, Kecamatan Jogonalan, Klaten, Minggu (12/11/2023). Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Mbah Cipto menyiapkan brongkos di dapur Warung Brongkos Cipto Gandung di Desa Gondangan, Kecamatan Jogonalan, Klaten, Minggu (12/11/2023). Foto: Dok. Pribadi

Mbah Cipto Gandung atau yang kerap disapa Mbah Cipto lahir pada tahun 1930 dan merupakan pemilik warung brongkos legendaris di Klaten. Mbah Cipto mengaku telah berjualan brongkos sejak era kolonial Belanda, meskipun ia tak ingat persis tahun berapa warung brongkos itu berdiri. Brongkos merupakan olahan daging sapi berkuah hitam dengan rasa dominan pedas dan manis. Umumnya masakan brongkos terdiri dari daging, telur, kacang tolo, dan koyor. Brongkos sendiri adalah makanan khas Yogyakarta dan merupakan salah satu makanan favorit Sultan Hamengkubuwono IX dan Sultan Hamengkubuwono X.

Meski jalannya telah membungkuk, semangat Mbah Cipto untuk berjualan dan menyajikan brongkos masih terus membara hingga kini. Warungnya yang sangat sederhana berada di Desa Gondangan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten. Pelanggan Mbah Cipto tidak hanya berasal dari Klaten saja, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Bantul, dan Magelang. Warungnya biasanya ramai saat hari libur karena banyak pelanggan dari luar kota yang berdatangan. Seporsi nasi brongkos sudah bisa dinikmati hanya dengan harga Rp 25.000 saja. Warung yang buka mulai dari jam 16.00-22.00 WIB itu hanya menyediakan satu meja berukuran cukup besar untuk pelanggan yang ingin menikmati brongkos di warungnya. Vibes yang dirasakan saat menyantap makanan di meja itu rasanya seperti memakan masakan nenek, ditambah dengan bangunan warungnya yang masih tempo dulu.

Cerita Mbah Cipto dan Brongkos Legendarisnya

Mbah Cipto sedikit berkaca-kaca saat bercerita sejarahnya berjualan brongkos. Foto: Dok. Pribadi

Mbah Cipto bercerita mengenai sejarahnya berjualan brongkos sambil matanya sedikit berkaca-kaca, mungkin teringat akan masa kecilnya. Mbah Cipto lahir di Klaten dan tumbuh di rumahnya yang saat ini ia jadikan warung brongkos, bahkan bangunannya tidak pernah berubah sejak dahulu. Sejak kecil, Mbah Cipto memang sudah mengenal brongkos karena dirinya sudah terbiasa membantu orang tuanya berjualan brongkos, mulai dari menyiapkan bahan-bahannya, cara memasaknya, hingga menyajikannya. Setelah orang tuanya wafat, Mbah Cipto ingin meneruskan warung brongkos milik keluarganya. Ia meracik dan mengolah sendiri brongkos dengan aneka lauknya tanpa bantuan orang lain, bahkan hingga sekarang saat usianya telah menginjak 93 tahun. Bedanya, dahulu saat masih berjualan dengan orang tuanya, menu yang disajikan sangat lengkap, mulai dari brongkos, bakmi, nasi goreng, opor, sambal goreng, baceman, dan masih banyak lagi. Namun, saat ini Mbah Cipto hanya menyajikan brongkos, opor, dan baceman saja karena badannya yang sudah tak sekuat dulu.

Semangat Mbah Cipto

Umurnya memang telah sedikit membatasi aktivitas Mbah Cipto, tetapi tidak dengan semangat Mbah Cipto dalam melakoni usaha brongkosnya. Biasanya saat pagi, salah satu anaknya yang kerap membantu di warung akan berbelanja kebutuhan bahan-bahan di pasar, mulai dari daging sapi, telur, tahu, tempe, hingga segala macam bumbu. Setelah bahan-bahan dan bumbu sudah ada, Mbah Cipto lalu memasaknya sendiri. Salah satu keistimewaan brongkos Cipto Gandung yaitu masih diolah dengan cara tradisional. Mbah Cipto mengatakan bahwa dirinya tidak berani menggunakan alat-alat modern seperti kompor gas.

“Ngagem kajeng ageng-ageng punika. Sampun sepuh, boten wantun ngagem kompor gas. Mangkih manawi kliru ngagemipun malah sulaya, saget bledhos [Pakai kayu bakar yang besar-besar. Sudah tua soalnya, tidak berani menggunakan kompor gas. Nanti kalau salah mengoperasikannya malah berbahaya, bisa meledak],” ungkap Mbah Cipto saat ditemui di warungnya pada Minggu (12/11/2023).

Putra Mbah Cipto membantu menyajikan salah satu pesanan makanan. Foto: Dok. Pribadi

Saat ditanya apakah warung brongkos akan diteruskan oleh anaknya yang kerap membantu di warung brongkos itu, Mbah Cipto langsung menjawab jika anaknya tidak akan meneruskan warung brongkosnya. “Putra kula niki namung ngrencangi mawon lajeng kondur ten griyane, caket mriki. Boten ngelanjutake usaha brongkos [Anak saya ini cuma membantu dan menemani saja terus pulang ke rumahnya, dekat dari sini. Tapi tidak melanjutkan usaha brongkos ini],” jelas Mbah Cipto.

Alasan Mbah Cipto Tetap Ingin Berjualan

Sebagian orang mungkin akan bertanya mengapa Mbah Cipto yang sudah berusia 93 tahun masih tetap berjualan? Diungkapkan oleh Mbah Cipto sendiri, ia masih ingin untuk terus berjualan karena dirinya tidak bisa membiarkan tubuhnya menganggur. Menurutnya, jika tubuhnya hanya dianggurkan malah membuatnya merasa tidak sehat.

“Manawi kula boten nyambut damel raosipun malah boten sehat. Mripat kula tasih bening, waja kula tasih asli boten ompong, tasih mireng cetha, dados eman-eman manawi boten nyambut damel [Kalau saya tidak berjualan malah tubuh saya rasanya tidak sehat. Mata saya masih bisa melihat dengan jelas, gigi saya masih asli tidak ompong, dan masih bisa mendengar dengan jelas, jadi sayang kalau hanya menganggur saja tidak bekerja],” jelas Mbah Cipto sambil menunjuk mata, telinga, lalu menampilkan giginya yang terbilang masih bagus.

Penghasilan yang didapatkan dari warung brongkos memang tidak terlalu besar, tetapi bagi Mbah Cipto, dengan berjualan brongkos badannya terasa lebih sehat karena banyak keluar keringat, juga bisa bertemu dan bercengkerama dengan orang lain. Warung brongkosnya itu bukan semata-mata bertujuan untuk mencari uang saja, tetapi juga untuk kepuasan hati Mbah Cipto.

Mbah Cipto sedang menyajikan brongkos. Foto: Dok. Pribadi

Sore itu cukup tenang, tak banyak kendaraan berlalu di depan warungnya karena memang berada di tengah kampung. Sambil menepuk-nepuk pahanya, Mbah Cipto bercerita jika dirinya tak pernah merasa sakit keras atau sakit yang serius. Katanya, sakit yang pernah ia rasakan hanya masuk angin biasa, itupun tidak sering.

“Kadang kala masuk angin, boten nate gerah ingkang drawasi [Kadang-kadang hanya masuk angin biasa, tidak pernah sakit yang sampai parah],” kata Mbah Cipto sambil tertawa yang membuat matanya menyipit.

Seperti kebanyakan nenek yang gemar menasehati cucunya, di bangunan tua yang sangat sederhana itu Mbah Cipto memberi nasehat dan wejangan agar anak-anak tetap rajin bekerja dan berusaha, “Nyambut damel punika kagem masa depanipun supados sekeca, dados ampun ngantos lena utawi males ngrakit masa depan [Kerja dan usaha itu agar masa depannya baik, jadi jangan sampai terlena dan malas menyusun masa depan],” pesan Mbah Cipto sambil menatap keluar jendela warungnya.