Konten dari Pengguna

Instagram dan Cara Baru Menikmati Momen Tanpa Harus Sempurna

Adelin Aprilia

Adelin Aprilia

Mahaasiswa S2 Psikologi Terapan Universitas Airlangga

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adelin Aprilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini saya justru menemukan kesenangan kecil dari sesuatu yang sebenarnya sederhana: membagikan apa yang sedang terjadi. Sebagai seseorang yang senang mengambil gambar dan cukup sering ingin semuanya terlihat sempurna di media sosial, fitur ini terasa menyenangkan. Ada kemudahan untuk berbagi tanpa harus kehilangan kesan dari setiap momen.

Kita tidak perlu menunggu foto yang paling bagus, tidak perlu mengedit terlalu lama, tidak perlu memikirkan caption berulang-ulang. Bahkan tidak perlu terlalu jauh memikirkan, “Orang-orang akan berpikir apa?” atau “Apa kata orang nanti?” Cukup ambil gambar, bagikan, dan biarkan momen itu berjalan apa adanya.

Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi

Pada fitur ini kita cukup jepret, bagikan, lalu kembali menjalani hari, tanpa beban respon orang. Bagi saya, kemudahan fitur Instagram belakangan ini bukan hanya soal teknologi yang semakin praktis. Ada sesuatu yang lebih menarik, ia membuat aktivitas berbagi terasa lebih ringan. Selama ini, media sosial sering kali membuat kita merasa bahwa apa yang dibagikan harus terlihat baik, foto harus bagus, wajah harus terlihat menarik, tempat yang dikunjungi harus instagramable. Bahkan momen sederhana pun terkadang baru terasa layak dibagikan setelah melewati proses memilih, mengedit, mempertimbangkan caption, kemudian berpikir lagi sebelum akhirnya menekan tombol unggah. Kita mungkin pernah berada di fase itu.

Sudah mengambil beberapa foto, tetapi tidak jadi mengunggah karena merasa kurang bagus, sudah menulis caption panjang, tetapi dihapus lagi karena takut dianggap berlebihan atau sekedar ingin membagikan sesuatu, tetapi akhirnya memilih menyimpannya sendiri karena merasa, “Ah, ini biasa saja.” Padahal, bukankah sebagian besar hidup memang terdiri dari hal-hal yang biasa?

Dimualai dari hal-hal sederhana, seperti makan siang, duduk di meja kerja, catatan kuliah, perjalanan pulang, makanan yang tiba-tiba terlihat menarik, percakapan singkat, suasana ruangan, atau sekadar sebuah momen kecil yang kita pikir, “Lucu juga kalau disimpan.”Hal-hal seperti itu mungkin tidak cukup spektakuler untuk menjadi sebuah unggahan yang sempurna, namun di situlah kehidupan sedang berlangsung apa adanya

Ketika Media Sosial Tidak Harus Selalu Tentang Kesempurnaan

Saya melihat ada sesuatu yang menarik dari perubahan cara kita berbagi di Instagram. Ketika proses membagikan sesuatu menjadi lebih mudah dan spontan, kita seperti tidak memiliki cukup waktu untuk terlalu banyak memikirkan penilaian orang lain. Dan mungkin, justru itu yang membuatnya terasa menyenangkan.

Kita tidak lagi sibuk bertanya apakah sesuatu cukup bagus untuk dibagikan. Kita cukup membagikannya karena memang sedang terjadi. Hal ini terasa relevan jika melihat bagaimana media sosial selama ini juga dapat menciptakan tekanan dalam menampilkan diri.

Penelitian terhadap 333 remaja akhir pengguna Instagram di Indonesia menemukan adanya hubungan antara perfeksionisme dan kecenderungan kecemasan sosial. Penelitian lain terhadap 109 dewasa awal pengguna second account Instagram di Surabaya juga menemukan hubungan positif antara kecemasan sosial dan perilaku self-presentation.

Tentu, bukan berarti setiap orang yang menggunakan Instagram akan mengalami kecemasan sosial. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa urusan “bagaimana saya terlihat di mata orang lain” memang bukan sesuatu yang sepenuhnya sepele dalam pengalaman bermedia sosial. Karena itu, saya justru melihat kemudahan dalam berbagi secara spontan sebagai sesuatu yang menarik. Ketika kita tidak terlalu lama memoles sebuah momen, ada kemungkinan kita juga menjadi sedikit lebih berdamai dengan ketidaksempurnaan.

Bukan Sekadar Foto, tetapi Rekaman Kehidupan

Ada satu hal lain yang membuat saya menikmati cara berbagi seperti, sifatnya yang real time. Ketika seseorang membagikan sesuatu saat itu juga, kita tahu bahwa apa yang terlihat di layar memang sedang terjadi.

Sedang makan, ya sedang makan.

Sedang bekerja, ya sedang bekerja.

Sedang menemukan sesuatu yang menarik, ya langsung dibagikan saat itu.

Ada sensasi yang berbeda dibandingkan melihat unggahan yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa, rasanya lebih dekat, lebih spontan, dan mungkin sedikit lebih manusiawi. Penonton tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi seperti mendapatkan potongan kecil dari kehidupan seseorang pada saat itu.

Bahkan hal-hal yang terlihat sepele bisa menjadi penanda waktu. Beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian, kita mungkin tidak lagi mengingat detail hari tersebut. Tetapi sebuah foto sederhana bisa mengingatkan kita, “Oh, ternyata waktu itu saya sedang berada di sini.” Pada akhirnya, media sosial tidak selalu harus menjadi panggung untuk menunjukkan kehidupan terbaik kita. Ia juga bisa menjadi semacam album digital, tempat kita menyimpan potongan kecil dari kehidupan yang sedang berlangsung.

Mungkin Kita Memang Tidak Perlu Berpikir Terlalu Lama

Saya kemudian berpikir, mungkin kesenangan dari fitur seperti ini bukan hanya karena Instagram membuat proses berbagi menjadi lebih mudah. Mungkin karena kita juga sedang diberi kesempatan untuk tidak terlalu serius terhadap cara kita terlihat di depan orang lain.

Tidak semua foto harus estetik.

Tidak semua momen harus menarik.

Tidak semua unggahan harus mendapatkan banyak respons.

Dan tidak semua hal yang kita bagikan harus memiliki cerita besar.

Kadang kita hanya ingin mengabadikan bahwa hari ini pernah terjadi. Mungkin itulah alasan saya menyukai cara berbagi yang lebih spontan seperti ini. Karena hidup tidak selalu datang dalam keadaan siap kamera, ada meja yang berantakan, makanan yang tidak tersusun cantik, catatan yang penuh coretan, dan hari-hari yang berjalan biasa saja.

Tetapi bukankah semuanya tetap bagian dari hidup kita? Pada akhirnya, fitur mungkin hanya sebuah fitur. Namun jika sebuah fitur bisa membuat kita lebih mudah mengabadikan momen, lebih santai dalam berbagi, dan sedikit mengurangi kekhawatiran untuk terlihat sempurna, menurut saya itu bukan hal yang kecil. Sebab terkadang, yang paling berkesan bukanlah foto yang paling sempurna. Melainkan foto yang berhasil mengingatkan kita pada apa yang sedang kita jalani.

Tidak perlu menunggu hidup terlihat sempurna untuk mengabadikannya. Karena ketika kita terlalu sibuk menyempurnakan momen, bisa jadi momennya sudah lebih dulu lewat.