Konten dari Pengguna

Prokartinasi Menghambat Tugas Akhir

Adelin Aprilia

Adelin Aprilia

Mahaasiswa S2 Psikologi Terapan Universitas Airlangga

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adelin Aprilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tulisan ini related dibaca bagi mahasiswa akhir yang saat ini hidupnya tidak bisa jauh dari laptop, jurnal, uji data bahkan revisi. Diliputi cemas, khawatir, takut bahkan nangis tiap hari, dikejar ekspektasi dan deadlie semakin memperburuk suasana hati, memang terkesan lebay jika kesulitan menyelesaikan tugas akhir sampai harus jadi konsumsi public, tapi siapa tau tulisan ini related dan mampu memberikan sedikit motivasi bagi manusia-manusia bernasib sama. Mungkin terlihat sepeleh bagi mereka yang telah mampu melewati masa-masa mencekam ini. Tidak masalah, mari kita nikmati prosesnya

Dokumen Pribadi Edit by Canva
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi Edit by Canva

Sulit banget nulis tesis, berhari-hari diliputi cemas dan takut gak bisa lulus semester ini, karena ngerasa tertinggal jauh dari teman-teman, alih-alih bukannya ngejar malah santai-santai seperti gak ada beban. Sebenarnya pikiran ini tengah berkecamuk tak karuan, jam tidur jadi berantakan, tiap detik kepikiran tapi saat duduk di depan laptop rasanya susah banget nemu insight nya. Berkali-kali buka laptop sampai colokan nancep biar gak kehabiasan daya, tapi tetep saja tidak ada penambahan paragrap alias stagnan. Sering kali niat tulus mengerjakan teralihkan ke hal-hal yang kurang produkitf dan berujung terbuai di media sosial.

Nasib mahasiswa akhir yang salah jurusan tapi tengah berjuang agar bisa wisudah bareng teman angkatan. Rasanya mau kabur jadi volunter sebulan siapa tau pulang-pulang proposal siap diujikan, tapi siapa yang berani menjamin? Diri sendiri pun tidak yakin. Menunda-nunda pekerjaan ini jadi penyakit yang sulit banget dihilangkan, semakin ditunda semakin menumpuk, tapi mau dikerjain kok sulitnya ndak karuan. Sebenernya semua tergantung kemauan karena setiap kemauan pasti ada jalan. Tapi tuhan, tolong kali ini benar-benar stagnan, rasanya macet banget buat mikir, semangat juga ogah-ogahan, pengen nyerah tapi udah dipenghujung jalan.

Ternyata Prokastinasi

Jika kalian merasakan hal yang sama, coba kenali perilaku prokastinasi atau menunda-nunda pekerjaan yang sepertinya sudah melekat di bendak mahasiswa, karena sering menganggap enteng padahal berujung kejar-kejaran dengan deadline. Mahasiswa dari mulai masuk dunia perkuliahan sampai mau lulus umumnya akan mendunda pekerjaan atau tugas yang sulit. Mereka sering melakukan kecurangan dengan prokrastinasi, menurut Kuntjoro (2020) prokrasti akademik merupakn perilaku menunda-nunda tugas akademik.

Penundaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan hal atau perbuatan menunda, menunda sendiri berarti menghentikan dan akan dilangsungkan lain kali atau lain waktu. Perilaku mahasiswa yang sering menunda-nunda dalam mengerjakan tugas akhir dikenal dengan istilah prokrastinasi. Prokrastinasi diambil dari bahasa Inggris disebut Procrastination berasal dari bahasa Latin Procrastinare. Procrastinare merupakan dua akar kata yang dibentuk dari awalan “Pro” yang memiliki arti mendorong maju atau bergerak maju dan akhiran “crastinus” yang berarti keputusan hari esok. Jika digabungkan menjadi “menangguhkan” atau “menunda sampai hari berikutnya”. Orang yang sering menunda pekerjaan dikenal dengan sebutan prokrastinator.

Prokrastinasi atau menunda-nunda seringkali disebabkan oleh kecemasan dan ketakutan terhadap kegagalan. Menunda-nunda dianggap sebagai hambatan mahasiswa dalam mencapai kesuksesan akademis karena dapat menurunkan kualitas dan kuantitas pembelajaran, menambah tingkat stress, dan berdampak negatif dalam kehidupan mahasiswa yang mengalaminya.

Jeritan Mahasiswa Akhir

Pada siapa lagi mengadu? Padahal setiap sujud sudah menuangkan segudang beban, mengatakan pada tuhan bahwa manusia ini butuh bantuan, semoga saja segera tersambar keajaiban agar bisa mengejar ketertinggalan, dan paling penting adalah melawan kemalasan. Terbebani ekspktasi orangtua semakin menumpuk perasaan bersalah, setika sengaja ndak pulang kampung demi menyelesaikan tugas akhir yang padahal berakhir rebahan dan hanyut pada gemerlap media sosial. Memilih ndak pulang kerumah karena kehabisan jawaban setiap kali ibu tanya “Kapan wisudah?, tesis nya sampai mana?” tuhan topeng apalagi yang harus kugunakan untuk menutup semua hal yang sebenarnya tidak baik-baik saja

Semoga perilaku menunda-nunda ini segera hilang dari diri, semoga juga diberikan kekuatan dan motivasi agar bisa segera menyelesaikan tugas akhir agar tujuan-tujuan yang sudah ditargetkan segera tercapai. Mari susun target penyelesaian sebaik mungkin, buat komitment dengan diri sendiri bahwa apa-apa yang sudah dimulai harus diakhiri dengan ucapan “selamat”. Yakini kita masih punya Allah sang penolong abadi, apa-apa yang terasa susah semoga segera dipermudah.