Konten dari Pengguna

Gema Moderasi: Antara Substansi Moral dan Formalitas Administratif

Zahran Farabi

Zahran Farabi

Mahasiswa Prodi Perbandingan Mazhab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahran Farabi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah "Moderasi Beragama" telah bertransformasi dari sekadar konsep teologis menjadi sebuah megaproyek nasional. Di setiap sudut kantor pemerintahan, sekolah, hingga universitas, spanduk bertuliskan narasi toleransi terpampang nyata. Namun, di balik riuhnya jargon dan seremonial tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang menggelitik: Apakah moderasi ini sedang meresap ke dalam sumsum kehidupan berbangsa, atau sekadar menjadi komoditas administratif untuk memenuhi laporan serapan anggaran?

Jargon di Atas Kertas

Secara konseptual, moderasi beragama adalah tawaran jalan tengah (wasathiyah) di tengah polarisasi ekstrem yang kian tajam. Tujuannya mulia: memastikan agama menjadi inspirasi perdamaian, bukan legitimasi kekerasan. Namun, kritisisme muncul ketika moderasi mulai kehilangan nyawanya akibat birokratisasi yang berlebihan.

Seringkali, kegiatan moderasi terjebak pada pola "proyekan". Seminar-seminar diselenggarakan di hotel berbintang, deklarasi ditandatangani di depan kamera, dan modul-modul dicetak ribuan eksemplar. Namun, di saat yang sama, gesekan di tingkat akar rumput terkait pendirian rumah ibadah atau pengucilan kelompok minoritas masih saja meletup. Ada diskoneksi yang menganga antara kemewahan narasi di atas panggung dengan realitas pahit di gang-gang sempit masyarakat.

Ilustrasi di ambil dari gemini ai sebagai sebuah metafora visual yang kuat tentang ketidakseimbangan antara "Gema Moderasi" (narasi formal pemerintah) dan "Realitas Akar Rumput" (kehidupan masyarakat sehari-hari).

Jebakan Penyeragaman

Sisi kritis lainnya yang perlu dicermati adalah potensi moderasi beragama menjadi alat "penjinak" pemikiran kritis. Ketika negara terlalu dominan mendefinisikan apa itu "moderat", ada kekhawatiran bahwa kelompok yang memiliki pandangan berbeda—meskipun tidak melakukan kekerasan—dengan mudah diberi label ekstrem atau tidak toleran.

Moderasi seharusnya menjadi ruang dialog yang jujur, bukan instrumen untuk menyeragamkan cara beragama. Jika moderasi hanya dimaknai sebagai kepatuhan buta pada narasi tunggal pemerintah, maka ia kehilangan esensi demokratisnya. Kerukunan yang dipaksakan lewat instruksi struktural cenderung rapuh dan artifisial. Kita tidak membutuhkan kerukunan kosmetik yang tampak indah di permukaan, namun menyimpan bara api di bawahnya.

Tantangan Akar Rumput

Relevansi moderasi beragama saat ini diuji oleh tantangan ekonomi dan ketidakadilan sosial. Sejarah membuktikan bahwa radikalisme seringkali tumbuh subur di tanah yang gersang akan keadilan. Jika pemerintah hanya sibuk berkampanye tentang moderasi tanpa dibarengi dengan penegakan hukum yang adil dan pemerataan ekonomi, maka kampanye tersebut akan terdengar seperti orasi kosong bagi mereka yang merasa terpinggirkan.

Masyarakat membutuhkan moderasi yang hidup dalam praktik. Moderasi yang hadir saat tetangga kesulitan, moderasi yang bersuara saat ada ketidakadilan, dan moderasi yang merangkul tanpa harus memandang perbedaan keyakinan sebagai ancaman.

Menuju Moderasi yang Autentik

Agar moderasi beragama tidak berakhir sebagai artefak birokrasi, perlu ada pergeseran paradigma. Pertama, moderasi harus dikembalikan kepada tokoh agama dan komunitas organik, bukan sekadar menjadi agenda top-down dari kementerian. Kedua, indikator keberhasilan moderasi tidak boleh lagi diukur dari berapa banyak sosialisasi yang dilakukan, melainkan dari seberapa menurunnya angka konflik keagamaan di lapangan.

Pada akhirnya, moderasi beragama adalah kerja kebudayaan yang panjang dan sunyi. Ia membutuhkan kesabaran dalam berdialog, bukan kecepatan dalam menghabiskan anggaran. Jika kita gagal membawa moderasi dari spanduk ke dalam hati sanubari, maka kita hanya sedang merayakan sebuah sandiwara toleransi yang mahal.