Konten dari Pengguna

"Ekonomi Kelas Menengah Hari Ini: Bukan Lagi Soal Uang, Tapi Ruang Bernapas"

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adeline Ayu Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.freepik.com/free-vector/men-business-teamwork-with-coins-chat-bubble_5685768.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=c617edf9-ccd4-4805-b08c-dfb100578235&query=Judul%3A+Bukan+Uang+yang+Dicari%2C+Tapi+Kendali+atas+Hidup+Sendiri+minimal+dibawah+200+mb?sign-up=google
zoom-in-whitePerbesar
https://www.freepik.com/free-vector/men-business-teamwork-with-coins-chat-bubble_5685768.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=c617edf9-ccd4-4805-b08c-dfb100578235&query=Judul%3A+Bukan+Uang+yang+Dicari%2C+Tapi+Kendali+atas+Hidup+Sendiri+minimal+dibawah+200+mb?sign-up=google

Selama ini kita diajarkan bahwa keputusan ekonomi selalu didorong oleh keinginan untuk memaksimalkan keuntungan. Bahwa manusia adalah makhluk rasional yang akan memilih opsi dengan nilai utilitas tertinggi. Tapi apakah benar begitu kenyataannya, terutama di kalangan kelas menengah hari ini? Coba perhatikan baik-baik: banyak dari kita bukan sedang mengejar uang lebih banyak—melainkan sedang berjuang mati-matian untuk merebut kembali kendali atas hidup sendiri.

Contoh paling nyata adalah ledakan pekerja freelance, pedagang online kecil, atau karyawan yang resign demi "mencari ketenangan". Secara teori ekonomi mikro, ini bisa dianggap keputusan berisiko tinggi. Tapi dalam praktiknya, keputusan ini jauh lebih dalam daripada soal untung-rugi. Banyak orang meninggalkan gaji tetap demi satu hal yang tak bisa dihitung: ruang untuk bernapas. Inilah bentuk nyata ekonomi mikro menengah yang tak dibahas dalam buku teks: ekonomi yang digerakkan oleh rasa lelah.

Ekonomi mikro menengah hari ini tak bisa lagi dipahami hanya dengan kurva permintaan atau biaya marjinal. Di balik setiap keputusan konsumsi dan produksi, ada tekanan sosial, kecemasan eksistensial, dan pencarian makna. Misalnya, seseorang memilih membeli kopi mahal bukan karena tidak mampu menabung, tapi karena ingin memberi jeda di tengah hari yang padat. Rasional? Tidak menurut teori. Tapi sangat logis dalam konteks psikologis dan sosial.

Hal serupa juga tampak pada pelaku UMKM yang memilih membuka usaha kecil meski tahu risikonya besar. Tujuannya bukan hanya mencari penghasilan, tetapi mendapatkan kebebasan: bisa mengatur waktu, menghindari tekanan bos, atau bahkan menjaga anak di rumah. Ekonomi mikro menengah ini lebih menyerupai upaya menyusun ulang hidup daripada sekadar mencari profit.

Sayangnya, kebanyakan analisis ekonomi masih kaku. Kita masih menilai sukses ekonomi dari seberapa besar pendapatan, bukan dari seberapa besar kendali atas waktu dan pilihan hidup. Padahal, banyak kelas menengah hari ini merasa "cukup secara finansial", tapi tetap merasa miskin secara waktu dan kendali. Mereka bukan kekurangan uang—mereka kekurangan arah dan ruang bernapas.

Kita juga terlalu sering mengabaikan bahwa keputusan ekonomi bisa menjadi bentuk perlawanan diam-diam. Menolak lembur, memilih cuti tanpa dibayar, atau membeli produk lokal meski lebih mahal, semuanya adalah bentuk resistensi mikro terhadap sistem yang makin menekan. Ekonomi mikro, dalam hal ini, juga menjadi ruang perlawanan, bukan sekadar kalkulasi.

Sudah saatnya kita memperluas cara pandang terhadap ekonomi mikro menengah. Ia bukan lagi tentang angka dan grafik semata, tapi tentang pilihan-pilihan kecil yang dibuat untuk mempertahankan martabat, menjaga kewarasan, dan merebut kembali kontrol atas hidup. Di balik warung kecil, laptop di kafe, atau motor ojek daring, tersembunyi perjuangan manusia untuk tetap merasa hidup.

Jadi jika hari ini kamu merasa lebih memilih ketenangan daripada kenaikan gaji, lebih ingin waktu luang daripada bonus akhir tahun, percayalah: kamu tidak sendiri. Ekonomi mikro yang kamu jalani mungkin tidak rasional menurut textbook, tapi sangat masuk akal dalam kehidupan nyata. Dan itu sah-sah saja.