Konten dari Pengguna

Mimpi Anak di Tengah Keterbatasan Ekonomi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adeline Ayu Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar ini diambil oleh penulis ketika sedang mengajar di salah satu SMA Tangerang Selatan
zoom-in-whitePerbesar
gambar ini diambil oleh penulis ketika sedang mengajar di salah satu SMA Tangerang Selatan

Setiap anak memiliki mimpi tentang masa depannya. Ada yang ingin menjadi guru, dokter, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya. Namun, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang mereka butuhkan.

Bagi keluarga dengan ekonomi terbatas, pendidikan terkadang menjadi tantangan tersendiri. Orang tua harus membagi penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Buku, seragam, transportasi, uang sekolah, hingga akses internet menjadi pengeluaran yang harus dipikirkan.

Persoalan ini menjadi semakin penting karena kondisi ekonomi keluarga dapat memengaruhi kesempatan anak dalam memperoleh pendidikan yang layak. Ketika penghasilan orang tua terbatas, kebutuhan pendidikan terkadang harus disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga. Ada orang tua yang harus memilih antara memenuhi kebutuhan rumah tangga atau membeli perlengkapan belajar anak.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Maret 2025 masih terdapat sekitar 23,85 juta penduduk Indonesia yang berada dalam kondisi miskin. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan ekonomi masih menjadi realitas bagi sebagian masyarakat Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan pendidikan anak tentu dapat menjadi tantangan tersendiri karena keluarga harus membagi pendapatan untuk berbagai kebutuhan dasar.

Keterbatasan ekonomi juga tidak selalu terlihat dalam bentuk anak berhenti sekolah. Hambatannya bisa muncul dalam bentuk yang lebih sederhana, tetapi tetap berpengaruh terhadap proses belajar. Misalnya, anak tidak memiliki buku yang lengkap, kesulitan membeli alat tulis, tidak mempunyai perangkat untuk mengikuti pembelajaran digital, atau harus mengeluarkan biaya transportasi yang cukup besar untuk pergi ke sekolah.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil jika dilihat satu per satu. Namun, jika terjadi terus-menerus, kondisi tersebut dapat membuat pengalaman belajar anak menjadi berbeda dibandingkan dengan anak yang memiliki dukungan ekonomi lebih baik. Anak yang memiliki fasilitas lengkap dapat lebih mudah mengakses informasi dan mengikuti perkembangan teknologi, sedangkan anak dengan keterbatasan fasilitas harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan belajarnya.

Lalu, apakah kondisi ekonomi keluarga harus menentukan seberapa tinggi seorang anak boleh bermimpi?

Menurut saya, tentu tidak. Kondisi ekonomi bukan ukuran kemampuan dan potensi seseorang. Anak dari keluarga sederhana juga berhak memiliki cita-cita yang tinggi dan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya. Banyak juga orang tua yang rela bekerja lebih keras dan mengurangi kebutuhan pribadi agar anaknya tetap bisa bersekolah. Bagi mereka, pendidikan bukan hanya kewajiban, tetapi juga harapan agar anak memiliki kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Saya juga melihat pendidikan sebagai salah satu jalan yang dapat membuka kesempatan bagi seseorang untuk memperbaiki kehidupannya. Karena itu, akan sangat disayangkan apabila seorang anak memiliki kemampuan dan keinginan belajar, tetapi kesempatan tersebut terhambat hanya karena kondisi ekonomi keluarganya.

Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa pendidikan membutuhkan biaya. Meskipun sekolah memberikan pembelajaran, masih ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi oleh keluarga. Anak membutuhkan buku, alat tulis, seragam, transportasi, makanan, bahkan perangkat dan koneksi internet ketika pembelajaran membutuhkan teknologi.

Di sinilah peran orang tua menjadi penting, tetapi tanggung jawab tersebut tidak seharusnya dibebankan kepada keluarga saja. Sekolah, pemerintah, dan masyarakat juga memiliki peran dalam menciptakan kesempatan pendidikan yang lebih luas bagi anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.

Beasiswa, bantuan pendidikan, bantuan perlengkapan sekolah, fasilitas belajar, perpustakaan yang mudah diakses, serta dukungan terhadap akses teknologi dapat menjadi beberapa bentuk bantuan yang membantu mengurangi hambatan tersebut.

Menurut saya, bantuan pendidikan juga sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai bentuk bantuan sesaat. Bantuan tersebut merupakan investasi untuk masa depan. Ketika seorang anak mendapatkan kesempatan untuk belajar dengan baik, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh anak tersebut, tetapi juga dapat dirasakan oleh keluarganya dan lingkungan sekitarnya.

Anak yang mendapatkan pendidikan memiliki kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya. Dengan kemampuan tersebut, mereka dapat memiliki peluang yang lebih luas untuk melanjutkan pendidikan, mendapatkan pekerjaan, atau menciptakan usaha di kemudian hari.

Tentu saja, pendidikan bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang. Kemauan belajar, lingkungan keluarga, kualitas sekolah, kemampuan individu, serta kesempatan yang tersedia juga memiliki peran. Namun, kondisi ekonomi tidak seharusnya menjadi alasan seorang anak kehilangan kesempatan untuk mencoba.

Pendidikan yang adil bukan berarti semua anak harus memiliki fasilitas yang sama persis. Kondisi setiap keluarga memang berbeda. Pendidikan yang adil justru berarti setiap anak mendapatkan kesempatan yang cukup untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan potensinya, termasuk ketika mereka berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Karena itu, menurut saya, kita perlu berhenti melihat anak dari keluarga kurang mampu hanya dari kondisi ekonominya. Seorang anak mungkin berasal dari keluarga sederhana, tetapi bukan berarti ia memiliki mimpi yang sederhana. Di balik keterbatasan fasilitas, bisa saja terdapat anak yang memiliki kemampuan besar dan cita-cita yang tinggi.

Pada akhirnya, pendidikan memang membutuhkan biaya, tetapi jangan sampai biaya tersebut membuat seorang anak kehilangan kesempatan untuk mengejar cita-citanya.