Konten dari Pengguna

Menelusuri Tradisi dan Kehidupan Rifa’iyah di Desa Kalipucang Wetan

syifa adellia

syifa adellia

Diponegoro University Social Anthropology Student

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari syifa adellia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perempuan Rifa’iyah beraktivitas di lingkungan Kampung Batik Rifa’iyah, Desa Kalipucang Wetan, Batang. Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan Rifa’iyah beraktivitas di lingkungan Kampung Batik Rifa’iyah, Desa Kalipucang Wetan, Batang. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Batang — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 68 Universitas Diponegoro (UNDIP) mengembangkan majalah yang mengangkat tradisi dan kehidupan masyarakat Rifa’iyah di Kampung Batik Rifa’iyah, Desa Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang. Majalah yang berjudul “Hidup dalam Balutan Tradisi” tersebut menjadi salah satu luaran Program Multidisiplin 1 yang bertujuan mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya dan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Rifa’iyah. Salah satu mahasiswa yang terlibat dalam penyusunan majalah tersebut adalah Syifa Adellia Putri Aprifianto, yang turut mengolah hasil wawancara dan informasi mengenai tradisi masyarakat Rifa’iyah menjadi materi publikasi yang lebih mudah diakses oleh masyarakat luas.

Pembuatan majalah dilakukan dengan mengumpulkan informasi mengenai berbagai tradisi dan kebiasaan masyarakat melalui wawancara dengan sejumlah warga serta tokoh masyarakat. Informasi yang diperoleh kemudian diolah menjadi tulisan populer agar dapat dibaca oleh masyarakat luas tanpa menghilangkan nilai dan konteks budaya yang terkandung di dalamnya.

Majalah tersebut mengangkat beragam aspek kehidupan masyarakat Rifa’iyah, mulai dari nilai-nilai keagamaan, pola interaksi antara laki-laki dan perempuan, kegiatan pengajian, tradisi pernikahan, tradisi ngirim, hingga khitan perempuan. Kehidupan perempuan dan tradisi membatik juga menjadi bagian penting dalam pembahasan, mengingat aktivitas membatik telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kampung Batik Rifa’iyah, Desa Kalipucang Wetan.

Salah satu hal yang turut diangkat adalah hubungan antara ajaran keagamaan dan perkembangan zaman. Masyarakat Rifa’iyah memiliki sejumlah kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk dalam hal hiburan, interaksi sosial, serta tata kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, perkembangan teknologi dan media sosial mulai hadir dalam kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menjadi gambaran mengenai bagaimana tradisi dan nilai keagamaan tetap hidup di tengah perubahan sosial.

Tradisi membatik juga mendapat perhatian khusus dalam majalah. Batik Rifa’iyah tidak hanya dipandang sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat. Proses membatik yang diwariskan antargenerasi, keterlibatan perempuan, serta nilai-nilai keagamaan yang turut memengaruhi motif dan proses pembuatannya menjadi bagian dari cerita yang diangkat.

Selain mendokumentasikan tradisi, majalah ini juga menjadi upaya untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat Rifa’iyah kepada khalayak yang lebih luas. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi media informasi bagi masyarakat sekaligus arsip sederhana mengenai tradisi dan kebudayaan yang berkembang di Kampung Batik Rifa’iyah, Desa Kalipucang Wetan.

Melalui rilisnya majalah ini, harapannya tidak hanya menghasilkan luaran berupa publikasi, tetapi juga berupaya mengangkat pengetahuan masyarakat setempat sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya. Majalah tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah desa maupun pengelola Batik Rifa’iyah sebagai media informasi dan dokumentasi budaya lokal.

Dengan adanya majalah ini, tradisi Rifa’iyah diharapkan tidak hanya tetap hidup dalam keseharian masyarakat, tetapi juga dapat dikenali dan dipahami oleh generasi muda serta masyarakat yang lebih luas.