Konten dari Pengguna

Merawat Jejak Iman dan Ingatan Lewat Batik Rifa’iyah di Kalipucang Wetan

syifa adellia

syifa adellia

Diponegoro University Social Anthropology Student

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari syifa adellia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proses pewarnaan dilakukan secara manual sebagai bagian dari tahapan pembuatan Batik Rifa’iyah di Kampung Batik Rifa’iyah, Desa Kalipucang Wetan, Batang. Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Proses pewarnaan dilakukan secara manual sebagai bagian dari tahapan pembuatan Batik Rifa’iyah di Kampung Batik Rifa’iyah, Desa Kalipucang Wetan, Batang. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Batang — Batik Rifa’iyah merupakan salah satu produk budaya yang berkembang di Desa Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Keberadaannya berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Rifa’iyah, termasuk nilai keagamaan, kebiasaan masyarakat, serta pengetahuan membatik yang diwariskan antargenerasi.

Salah satu karakteristik Batik Rifa’iyah terdapat pada aturan dalam penggambaran motif. Berdasarkan keterangan pembatik dan masyarakat setempat, penggambaran hewan secara utuh dihindari. Sehingga sebagai solusi, bentuk hewan dapat dibuat secara tidak utuh, disamarkan, atau dialihkan menjadi bentuk tumbuhan seperti bunga dan daun. Aturan tersebut menjadi salah satu ciri khas yang membedakan Batik Rifa’iyah dengan batik dari daerah lain.

Pengetahuan mengenai motif juga diwariskan melalui keluarga. Beberapa pembatik mulai belajar sejak usia sekolah dasar dengan memperhatikan dan membantu orang tua ketika membatik. Proses belajar dilakukan secara bertahap hingga mereka mampu membatik secara mandiri.

Perempuan memiliki peran penting dalam keberlangsungan aktivitas membatik. Dalam kehidupan masyarakat Rifa’iyah, aktivitas perempuan secara tradisional lebih banyak dilakukan di lingkungan domestik. Membatik kemudian menjadi salah satu kegiatan produktif yang dapat dilakukan dari rumah sekaligus menjadi sumber penghasilan tambahan. Aktivitas tersebut banyak dilakukan di pawon (dapur), yang juga menjadi ruang berlangsungnya proses pewarisan keterampilan membatik.

Batik Rifa’iyah dibuat menggunakan teknik batik tulis, bukan menggunakan stempel atau cap. Proses pembuatannya dilakukan secara manual dengan menggunakan canting dan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Satu kain dapat dikerjakan selama berbulan-bulan hingga sekitar satu tahun, tergantung pada kerumitan motif dan intensitas pembatik dalam mengerjakannya.

Dalam pembuatan motif, pembatik secara tradisional tidak selalu menggunakan sketsa atau pola baku. Mereka mengandalkan ingatan terhadap bentuk motif yang telah dipelajari. Hal tersebut membuat pengalaman dan keterampilan pembatik menjadi bagian penting dalam mempertahankan bentuk-bentuk motif yang telah diwariskan.

Selain proses produksi, aktivitas membatik juga mengalami perubahan akibat perkembangan zaman. Dahulu, pembatik sering mengerjakan kain secara bersama-sama sambil melantunkan saratan atau sholawat. Namun saat ini, aktivitas tersebut semakin jarang dilakukan. Pembatik lebih banyak bekerja secara individual dan memanfaatkan media digital seperti YouTube atau TikTok sebagai hiburan selama membatik.

Perubahan tersebut menjadi salah satu bentuk modernisasi dalam praktik membatik masyarakat Rifa’iyah. Di sisi lain, keberlanjutan tradisi juga menghadapi tantangan berupa berkurangnya jumlah pembatik dan tidak semua generasi muda memilih untuk meneruskan keterampilan tersebut.

Batik Rifa’iyah juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Harga kain bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung pada motif dan proses pembuatannya. Pemasaran dilakukan melalui keluarga, perantara dari ketua pembatik, dan media sosial. Batik Rifa’iyah juga telah diperkenalkan melalui sejumlah pameran di dalam negeri maupun di luar negeri.

Melihat pentingnya pengetahuan tersebut untuk didokumentasikan, Syifa Adellia Putri Aprifianto, mahasiswi KKN-T IDBU 68 Universitas Diponegoro, menyusun majalah mengenai Batik Rifa’iyah sebagai bagian dari program multidisiplin KKN di Desa Kalipucang Wetan. Majalah tersebut memuat informasi mengenai karakteristik Batik Rifa’iyah, aturan dan larangan dalam penggambaran motif, proses membatik, peran perempuan, pewarisan pengetahuan, modernisasi, fakta-fakta menarik, serta ragam motif yang berkembang di masyarakat.

Penyusunan majalah dilakukan berdasarkan hasil wawancara dengan pembatik dan masyarakat setempat. Informasi yang diperoleh kemudian disusun menjadi media dokumentasi dan informasi yang dapat digunakan untuk memperkenalkan Batik Rifa’iyah kepada masyarakat yang lebih luas.

Melalui dokumentasi tersebut, pengetahuan mengenai Batik Rifa’iyah diharapkan tidak hanya tersimpan dalam ingatan para pembatik, tetapi juga dapat diakses oleh generasi berikutnya. Majalah ini menjadi salah satu upaya untuk mendokumentasikan pengetahuan dan memperkenalkan Batik Rifa’iyah sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kalipucang Wetan.