Bahasa Cinta, Harapan, dan Humor dalam Lirik Lagu Sunda “Jomblo”
Tulisan dari Syahrul Ramadhan Official tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lagu bukan sekadar rangkaian nada dan kata-kata yang menghibur pendengarnya. Di dalam lirik, bahasa bekerja sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan, membangun hubungan, menyampaikan maksud, bahkan menyamarkan kegelisahan melalui humor. Hal tersebut dapat ditemukan dalam lirik lagu Sunda “Jomblo”, yang mengisahkan seorang laki-laki yang tertarik kepada seorang perempuan, berharap menemukan pasangan, dan berhadapan dengan ketidakpastian mengenai jodoh. Di balik kesederhanaan bahasanya, lirik ini menyimpan persoalan yang menarik bagi kajian pragmatik: bagaimana seseorang menggunakan tuturan untuk mendekati orang lain, menyampaikan harapan, dan menghadapi kemungkinan bahwa keinginannya tidak terwujud. Salah satu ungkapan yang menonjol ialah “Suga aya jodo”. Ungkapan ini memperlihatkan harapan penutur agar pertemuannya dengan seorang perempuan dapat berlanjut menjadi hubungan yang lebih dekat. Kata jodo tidak sekadar menunjuk pada pasangan, tetapi menjadi pusat harapan yang mengarahkan penutur pada kemungkinan masa depan. Dari perspektif pragmatik, tuturan tersebut dapat dipahami sebagai ekspresi sikap psikologis penutur terhadap sesuatu yang diinginkannya. Harapan itu belum menjadi kepastian. Justru karena belum pasti, tuturan tersebut memperlihatkan jarak antara keinginan pribadi dan kenyataan yang masih harus dihadapi. Ketertarikan itu kemudian bergerak menuju usaha mengenali perempuan yang ditemuinya. Dalam lirik terdapat pertanyaan, “Na anjeun teh saha”, yang diulang pada bagian berikutnya. Secara literal, pertanyaan tersebut meminta informasi mengenai identitas lawan tutur. Namun, konteks romantis memungkinkan pertanyaan itu menjalankan fungsi interpersonal yang lebih luas: membuka percakapan dan menjadi jalan awal untuk mengenal seseorang. Dalam teori tindak tutur, bentuk interogatif semacam ini dapat dipahami sebagai tindakan meminta informasi. Pengulangannya menonjolkan pertanyaan tersebut dalam struktur lagu, meskipun pengulangan saja belum cukup untuk membuktikan bahwa penutur sedang mendesak atau memiliki maksud tersembunyi tertentu. Persoalan menjadi lebih menarik ketika penutur berkata, “Geulis / Uulah osok ngabobodo”. Secara umum, ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai permintaan atau larangan agar perempuan yang disapa tidak membohongi atau mempermainkannya. Kata geulis berfungsi sebagai sapaan yang menandai ketertarikan, sedangkan bagian berikutnya mengarahkan tuturan pada permintaan tertentu. Keduanya menghadirkan dua sisi komunikasi romantis: keinginan untuk mendekat dan kebutuhan untuk memperoleh kejelasan. Dari sudut pragmatik, tuturan ini termasuk tindak tutur direktif karena penutur mengarahkan lawan tutur agar tidak melakukan sesuatu yang dianggap tidak diinginkan. Ungkapan tersebut juga membuka kemungkinan pembacaan melalui implikatur percakapan. Ketika seseorang meminta agar dirinya tidak dibohongi, pendengar dapat menduga bahwa ia mengkhawatirkan kemungkinan dipermainkan atau dikecewakan. Akan tetapi, dugaan itu tidak boleh langsung dianggap sebagai fakta tentang pengalaman penutur. Lirik tidak secara eksplisit menyatakan bahwa perempuan tersebut pernah berbohong. Karena itu, analisis yang lebih cermat perlu membedakan antara makna yang disampaikan secara langsung dan makna tambahan yang muncul melalui penafsiran konteks. Di sinilah pragmatik membantu pembaca memahami bahasa tanpa terjebak pada anggapan bahwa semua tuturan selalu menyimpan pesan rahasia. Nuansa humor muncul melalui rangkaian nama dan lokasi: “Di banjaran neng vera / Di soreang neng eva / Di pangalengan neti / Aslinamah uti”. Penyebutan beberapa nama perempuan bersama nama tempat membentuk rangkaian informasi yang terasa dinamis. Bagian “Aslinamah uti” kemudian menghadirkan perubahan informasi yang dapat menimbulkan kejutan bagi pendengar. Jika keseluruhan lagu dan cara penyajiannya mendukung pembacaan tersebut, rangkaian ini dapat dianalisis sebagai pembentukan humor melalui penundaan informasi dan perubahan ekspektasi. Pendengar mengikuti informasi yang diberikan secara bertahap, kemudian menafsirkan ulang bagian sebelumnya setelah memperoleh informasi baru. Dengan demikian, kelucuan tidak hanya terletak pada kata tertentu, tetapi juga pada cara informasi disusun dan disampaikan. Pada bagian akhir, muncul ungkapan “Meureun lain / Jodo na”. Kata meureun, yang menyatakan kemungkinan, menandai bahwa penutur tidak menyampaikan kesimpulan secara mutlak. Ia hanya menduga bahwa perempuan yang diharapkannya mungkin bukan jodohnya. Jika pada bagian awal lagu penutur menampilkan harapan untuk memperoleh pasangan, bagian ini menghadirkan kemungkinan yang berlawanan. Pergeseran tersebut menciptakan kontras antara harapan dan ketidakpastian. Secara pragmatik, ungkapan itu dapat dibaca sebagai pernyataan yang memperlihatkan sikap penutur terhadap kemungkinan hasil dari situasi yang sedang dihadapinya. Namun, untuk menyebutnya sebagai implikatur percakapan, tetap diperlukan bukti bahwa ada makna tambahan yang disimpulkan dari konteks, bukan sekadar makna kemungkinan yang telah dinyatakan oleh kata meureun. Dari lirik “Jomblo”, kita dapat melihat bahwa bahasa dalam lagu populer memiliki fungsi yang lebih luas daripada menyampaikan cerita. Bahasa dapat menjadi sarana membuka komunikasi, menyatakan ketertarikan, mengarahkan perilaku lawan tutur, dan mengekspresikan ketidakpastian. Melalui kajian tindak tutur dan implikatur, pendengar dapat menelusuri bagaimana maksud dibangun dalam konteks serta bagaimana susunan tuturan memengaruhi penafsiran. Lagu ini juga mengingatkan kita bahwa humor dalam komunikasi tidak selalu lahir dari kata-kata yang lucu secara mandiri. Humor dapat muncul ketika informasi diberikan secara bertahap, harapan dibangun, dan penafsiran pendengar berubah pada bagian berikutnya. Pada akhirnya, bahasa cinta dalam “Jomblo” memperlihatkan satu hal sederhana: ketika seseorang berbicara tentang perasaan, yang terdengar mungkin hanya beberapa kata, tetapi maknanya selalu bergantung pada situasi, hubungan antarpembicara, dan cara pendengar memahaminya.
Syahrul Ramadhan - Dosen Universitas Insan Pembangunan Indonesia

