Konten dari Pengguna

Katanya Satu, Mengapa Kita Gemar Saling Menyindir?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahrul Ramadhan Official tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi satu, tapi saling sindir di sosial media dibuat oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi satu, tapi saling sindir di sosial media dibuat oleh AI

Setiap tanggal 28 Oktober, kita kembali mengingat Sumpah Pemuda sebagai tonggak penting dalam sejarah persatuan Indonesia. Kita mengucapkan ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Namun, ada satu pertanyaan yang rasanya perlu diajukan di tengah perayaan itu: apakah kita sungguh-sungguh memahami arti persatuan ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat? Di media sosial, perbedaan pilihan, pandangan, bahkan selera personal sering kali menjadi alasan untuk saling melempar sindiran. Orang yang tidak sejalan dengan pendapat kita mudah dianggap tidak memahami persoalan, sedangkan mereka yang berbeda pilihan tidak jarang dijadikan sasaran ejekan. Kita merayakan persatuan sebagai warisan sejarah, tetapi dalam percakapan sehari-hari, kita masih kerap memperlakukan perbedaan sebagai sesuatu yang harus dikalahkan. Media sosial sebenarnya menyediakan ruang yang luas bagi masyarakat untuk bertukar pikiran, menyampaikan kritik, dan memperdebatkan berbagai persoalan. Sayangnya, ruang tersebut juga dapat berubah menjadi arena untuk menunjukkan ketidaksukaan terhadap orang lain. Perdebatan yang semula membicarakan gagasan perlahan bergeser menjadi serangan terhadap pribadi. Seseorang yang menyampaikan pendapat berbeda tidak lagi ditanggapi berdasarkan alasan yang dikemukakannya, tetapi justru disindir karena identitas, pilihan, atau hal-hal personal yang melekat pada dirinya. Dalam situasi semacam ini, persoalannya bukan semata-mata perbedaan pendapat, melainkan cara kita merespons perbedaan tersebut. Kita seolah-olah lebih sibuk mencari kalimat yang dapat mempermalukan lawan bicara daripada menyusun argumen yang dapat menjelaskan mengapa kita tidak sepakat. Akibatnya, percakapan yang seharusnya membuka kemungkinan untuk saling memahami justru memperlebar jarak antarmanusia. Salah satu bentuk komunikasi yang menarik untuk diperhatikan adalah sindiran. Dalam kehidupan sehari-hari, sindiran sering dianggap sebagai cara yang lebih halus untuk menyampaikan kritik atau ketidaksukaan. Seseorang tidak selalu mengatakan secara langsung bahwa ia tidak setuju, kecewa, atau merendahkan pendapat orang lain. Sebaliknya, ia memilih kalimat yang sekilas terdengar seperti pujian, tetapi dalam konteks tertentu justru bermakna sebaliknya. Komentar seperti “Wah, pendapatmu memang paling benar sedunia” dapat terdengar sebagai pujian apabila dibaca secara harfiah. Namun, ketika diucapkan sebagai tanggapan terhadap seseorang yang dianggap keras kepala dalam perdebatan, kalimat itu dapat menjadi sindiran. Di media sosial, tuturan semacam ini bahkan bisa mendapatkan dukungan dari orang-orang yang memiliki pandangan serupa. Bagi kelompok yang sepemikiran, sindiran mungkin dianggap lucu dan cerdas. Bagi orang yang menjadi sasaran, tuturan tersebut dapat terasa sebagai ejekan. Perbedaan penafsiran inilah yang membuat sindiran tidak cukup dipahami hanya berdasarkan kata-kata yang tampak di permukaan. Dalam kajian pragmatik, makna sebuah tuturan tidak hanya ditentukan oleh arti harfiah kata-katanya, tetapi juga oleh konteks dan maksud penuturnya. Konsep ironi, misalnya, membantu kita memahami bagaimana suatu ungkapan dapat menyampaikan makna yang berbeda, bahkan bertentangan, dengan makna yang tampak secara literal. Ironi dapat muncul ketika seseorang mengatakan sesuatu yang secara harfiah terdengar positif, padahal konteksnya menunjukkan kritik atau ketidaksetujuan. Akan tetapi, tidak semua sindiran otomatis merupakan ironi. Ada sindiran yang berbentuk sarkasme, ejekan langsung, atau kritik yang disampaikan secara tersirat. Untuk memahami perbedaannya, kita perlu memperhatikan situasi percakapan, hubungan antarpihak, tuturan yang mendahului, dan respons orang yang menerimanya. Penelitian mengenai komentar media sosial di Indonesia juga telah mengkaji penggunaan sarkasme dan humor politik sebagai sarana menyampaikan kritik. Hal ini memperlihatkan bahwa bahasa digital bukan sekadar kumpulan kata, melainkan ruang tempat maksud, emosi, relasi sosial, dan pertentangan pandangan saling berinteraksi. Persoalannya, sindiran tidak selalu digunakan untuk mengkritik gagasan atau mengungkap ketidakadilan. Dalam sejumlah percakapan, sindiran justru menjadi cara untuk menyerang seseorang yang tidak disukai. Kita mungkin pernah menjumpai ungkapan seperti, “Katanya paling toleran, tetapi berbeda pendapat sedikit langsung menyerang.” Kalimat semacam itu dapat berfungsi sebagai kritik terhadap ketidakkonsistenan seseorang, bergantung pada konteks dan bukti yang menyertainya. Namun, bahasa yang serupa juga dapat dipakai sekadar untuk mempermalukan pihak lain di hadapan banyak orang. Di sinilah kita perlu membedakan kritik yang memiliki dasar dengan sindiran yang hanya memanfaatkan kelemahan personal sebagai bahan ejekan. Kritik seharusnya membantu kita melihat persoalan dengan lebih jernih, sedangkan serangan personal cenderung mengalihkan perhatian dari persoalan menuju harga diri orang yang menjadi sasaran. Kita tentu tidak harus menghilangkan humor, sindiran, atau perbedaan pendapat dari kehidupan sosial. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa kita terkadang merasa perlu merendahkan seseorang agar pendapat kita terlihat lebih unggul. Kita juga perlu mengakui bahwa sindiran memiliki fungsi sosial yang tidak selalu negatif. Dalam situasi tertentu, ironi dapat menjadi cara untuk menyampaikan kritik terhadap kemunafikan, ketidakadilan, atau perilaku yang bertentangan dengan nilai yang diklaim seseorang. Kritik tidak harus selalu disampaikan dengan bahasa yang kaku, dan humor tidak harus kehilangan ketajamannya demi menjaga kesopanan. Akan tetapi, kebebasan berekspresi juga menuntut tanggung jawab terhadap apa yang kita sampaikan. Ketika sebuah sindiran diarahkan pada tindakan atau gagasan, pembaca masih memiliki kesempatan untuk menilai persoalannya. Sebaliknya, ketika sindiran hanya bertujuan menyerang identitas, merendahkan pilihan, atau mempermalukan seseorang, ruang dialog menjadi semakin sempit. Kita tidak lagi sedang memperdebatkan sesuatu, melainkan berusaha memenangkan pertarungan harga diri. Dalam keadaan seperti itu, bahasa kehilangan sebagian fungsinya sebagai sarana untuk saling memahami dan berubah menjadi alat untuk mempertahankan permusuhan. Karena itu, makna bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda perlu kita baca lebih jauh daripada sekadar kesepakatan menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memang menjadi penghubung masyarakat yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya berbeda, tetapi persatuan tidak berhenti pada kemampuan menggunakan bahasa yang sama. Persatuan juga berkaitan dengan bagaimana bahasa digunakan untuk menghadapi perbedaan. Kita tidak harus memiliki pilihan politik, pandangan sosial, atau selera yang seragam untuk hidup sebagai satu bangsa. Kita juga tidak harus selalu menyetujui pendapat orang lain untuk tetap menghormatinya. Justru ketika perbedaan muncul, kedewasaan berbahasa diuji: apakah kita mampu menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan, memberikan kritik tanpa mengubahnya menjadi penghinaan, dan mendengarkan pendapat yang tidak kita sukai tanpa terburu-buru menyerang pribadi penuturnya? Jika bahasa persatuan hanya kita rayakan dalam upacara, tetapi tidak kita hadirkan dalam cara berkomunikasi, nilai persatuan itu akan kehilangan makna dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, kita tidak perlu berhenti menyindir, mengkritik, atau berdebat untuk membuktikan bahwa kita menghargai persatuan. Kita hanya perlu lebih sadar terhadap tujuan dan dampak bahasa yang kita gunakan. Sebelum menuliskan komentar, ada baiknya kita bertanya: apakah kita sedang mengkritik sebuah gagasan, atau sekadar melampiaskan ketidaksukaan kepada orang yang mengemukakannya? Apakah kalimat kita membantu orang lain memahami persoalan, atau hanya membuatnya menjadi bahan tertawaan? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini tidak akan menghapus semua konflik di media sosial, tetapi dapat membantu kita membedakan keberanian berpendapat dari kebiasaan merendahkan orang lain. Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa perbedaan tidak menghalangi terbentuknya persatuan. Tantangannya sekarang adalah membawa semangat itu ke dalam percakapan yang kita bangun setiap hari. Sebab, menjadi satu bangsa tidak berarti kita harus selalu sepakat, tetapi setidaknya kita perlu belajar berbeda pendapat tanpa kehilangan penghormatan terhadap sesama.