Konstruksi Wacana Sejarah dan Legenda dalam Lirik Lagu Sunda ‘Sancang’
Tulisan dari Syahrul Ramadhan Official tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Musik dan lagu populer bukan sekadar hiburan pendengar, melainkan salah satu media efektif dalam mereproduksi memori sejarah, mitos, dan identitas budaya lokal. Hal ini tercermin nyata dalam lirik lagu berbahasa Sunda yang menghidupkan kembali legenda Prabu Siliwangi, penolakan atas ajakan Islamisasi sang putra Raden Kiansantang, hingga kisah miksanya di Leuwung Sancang. Jauh dari sekadar penuturan ulang cerita rakyat, penataan bahasa dalam lirik tersebut menyimpan negosiasi nilai dan ingatan kolektif yang mendalam. Lewat kacamata Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough, karya musik ini sejatinya menjadi arena pertaruhan identitas budaya Sunda, kompromi atas transisi keagamaan, sekaligus bentuk sakralisasi atas ruang ekologis lokas.
Jika dianalisis pada dimensi tekstual, kontruksi pengetahuan tentang masa lalu langsung dibangun sejak bait awal melalui frasa “Cenah ceuk béja, baheula aya nagara". Di mana pada penanda tersebut menegaskan wacana yang berbasis pada tuturan lisan. Pilihan kata ini mengukuhkan bahwa narasi tentang Kerajaan Pakuan Pajajaran disajikan sebagai warisan tutur yang tersebar luas dari mulut ke mulut yang hidup di tengah masyarakat. Di saat yang sama, terlampir legitimasi moral dan kekuasaan Prabu Siliwangi yang dikonstruksikan melalui leksikon “Sakti mandraguna", hal ini yang menempatkan sang prabu pada kedudukan yang superior dan transendental.
Kemudian, saat terjadi dilema transisi keagamaan dan penyikapan atas hadirnya Islam yang digambarkan secara arsitektur melalui frasa "Badé diislamkeun, anjeunna alim". Dalam bahasa Sunda, kata “alim” bermakna ‘tidak mau’ atau ‘menolak’. Namun, pemilihan kata ini cukup krusial: penolakan sang prabu tidak dibingkai sebagai rasa benci atau permusuhan terhadap Islam, melainkan sebagai bentuk menjaga keteguhan dan ketidakinginan untuk meninggalkan nilai-nilai ajaran leluhur. Setelah itu, terjadi ketegangan histroris yang diperuncing melalui dinamika kekerabatan "Diudag putrana, Raden Kiansantang". Konflik ini dikemas melalui aksi mengejar, menciptakan penceritaan yang emosional antara kewajiban dakwah seorang anak dan keteguhan prinsip seorang ayah.
Menariknya, narasi konflik ini tidak diakhiri dengan kekalahan atau kematian, melainkan melalui pilihan leksikal "Ilang di leuweung éta, tilem di leuweung éta". Kata "tilem" sendiri bermakna moksa atau menghilang secara metafisi, dan "ilang" dipilih menggantikan kata "wafat", "gugur", atau "meninggal". Pilihan diksi tersebut memberikan status spiritual yang abadi bagi seorang Prabu Siliwangi. Adapun Hutan Sancang sendiri digambarkan melalui leksikon "Sancang nu canéom geueuman". Kata tersebut tentu saja menghadirkan sifat ruang yang gelap, seram, sekaligus magis, yang secara efektif membangun lanskap geografis yang sakral dan penuh misteri.
Selain itu, konstruksi Leuweung Sancang sebagai ruang yang "canéom geueuman” secara tidak langsung berfungsi sebagai mekanisme perlindungan lingkungan. Hal ini ditandai dengan mengaitkan kawasan Hutan Sancang di Garut dengan mitos keberadaan sang prabu dan bersifat keramat. Dengan begitu, wacana lirik lagu ini turut merawat ingatan budaya yang membentengi ruang ekologis tersebut. Sancang tidak lagi dianggap sekadar alam atau komoditas lahan, melainkan sebuah ruang spiritual yang harus dihormati serta dilindungi oleh masyarakat Sunda secara turun-temurun.
Pada akhirnya, lirik lagu Sancang merupakan cermin komposit dari kognisi sosial masyarakat Sunda. Di dalam setiap bait liriknya, terdapat rasa hormat pada tradisi masa lalu, penyikapan bijak atas transisi kegamaan, serta pembentukan memori kolektif atas ruang hidup yang sakral. Prabu Siliwangi mungkin telah tilem di dalam pekatnya Leuweung Sancang, tetapi lewat untaian lirik lagu populer, sosoknya tak pernah benar-benar hilang. Ia terus hidup di dalam ruang memori dan narasi kebudayaan Sunda yang menolak lupa pada akarnya.
Syahrul Ramadhan – Dosen Universitas Insan Pembangunan Indonesia

