Konten dari Pengguna

Merawat Memori "Pajajaran" di Tengah Arus Zaman

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahrul Ramadhan Official tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Arus zaman menggerus banyak hal. Lahan-lahan hijau perlahan berubah menjadi hutan beton, nilai-nilai komunal terdesak oleh gaya hidup individualis, dan identitas kebudayaan lokal kerap dipandang sebelah mata. Di tengah pusaran modernisasi yang membuat banyak orang 'mabuk' dan kehilangan pijakan ini, untaian lirik lagu 'Tanah Sunda' karya Mang Koko kembali mengingatkan kita bahwa lirik ini bukan sekadar sebagai senandung pelipur lara, melainkan sebagai jangkar pelestari ingatan.

Melalui kacamata antropolinguistik, lirik lagu ini merupakan media warisan pandangan leluhur masyarakat Sunda yang sangat canggih. Hasil analisis menunjukkan panggilan emosional Mang Koko pada bait kedua: "Seuweu Pajajaran, muga tong kasmaran". Kata “kasmaran” dikontekstualisasikan dengan kondisi masyarakat saat ini yang kerap terlalu terlena oleh kemajuan zaman, gempuran budaya luar, hingga gaya hidup instan. Pada lirik “Keturunan Pajajaran”, Mang Koko sedang membangkitkan kebanggaan historis. Tujuannya jelas, agar generasi masa kini tidak mudah tergerus arus perkembangan dan kehilangan arah. Dalam konteks ini, Pajajaran bukan lagi kepingan sejarah kerajaan di masa lampau, melainkan simbol kedaulatan mental.

Falsafah hidup ini semakin menonjol saat kita melihat bagaimana lagu ini memberikan tanggapan terhadap tata ruang dan ekologi. Pujian atas alam lewat lirik "Tanah Sunda wibawa / Gemah ripah tur endah" langsung disandingkan dengan sebuah kewajiban moral: "Miara pakaya, memang sawajibna" dan "Rumawat tanah pusaka". Secara filosofis, masyarakat Sunda memandang alam bukan sebagai pusat ekonomi atau komoditas alam yang dapat dieksploitasi sesuka hati, melainkan sebagai warisan sakral. Tentu saja hal ini sesuai dengan falsafah Tritangtu di Buana, tepatnya pada dimensi Buana Panca Tengah (dunia antara), di mana tugas mutlak manusia adalah menjaga harmoni dan keseimbangan ekosistem, bukan malah menggerusnya demi pragmatisme semata.

Lebih jauh, lagu ini dengan tegas menepis stereotip usang yang kerap melabeli masyarakat agraris sebagai kelompok yang santai atau malas. Lewat lirik "Sing toweksa perceka / Nyangga darma, anu nyata", terdapat tuntutan etos kerja yang progresif. Diksi "perceka" yang bermakna terampil dan cekatan, merepresentasikan pilar Lampah dalam Tritangtu, yang di mana sebenarnya menuntut masyarakat Sunda untuk terus produktif. Namun, sehebat apa pun kemajuan dan keterampilan yang diraih, ternyata harus tetap diimbangi dengan kedewasaan batin (Tekad) melalui diksi “rumasa”. Sikap “rumasa” berarti mawas diri, tahu batas, dan tidak arogan. Karena keseimbangan antara kerja keras fisik dan kerendahan hati batiniah inilah yang menjadi puncak kedewasaan (sawawa) masyarakat Sunda seutuhnya.

Pada akhirnya, Tanah Sunda adalah sebuah pedoman bertahan hidup kultural era modern. Warisan terbesar dari masa lalu ternyata bukan sekadar alam yang “gemah ripah”, melainkan mentalitas dan etika manusia yang merawatnya. Selama generasi masa kini masih menghayati makna “perceka” untuk terus berkarya dan “rumasa” untuk tetap membumi, maka memori kejayaan Pajajaran akan terus hidup. Dengan ini, masyarakat Sunda akan menjaga Tanah Sunda tetap lestasi dan berwibawa, tak peduli seberapa deras arus zaman mencoba mengubahnya.

Syahrul Ramadhan – Dosen Universitas Insan Pembangunan Indonesia