Pengaruh Makanan Cepat Saji Terhadap Kesehatan Jangka Panjang
Tulisan dari Ade Nurhayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menurut World Health Organization (WHO) pola makan adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan maksud tertentu, pola makan sehari-hari merupakan pola makan seseorang yang berhubungan dengan kebiasaan makan setiap harinya. pola makan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi yang selanjutnya bertindak menyediakan energi bagi tubuh, mengatur proses metabolisme, memperbaiki jaringan tubuh serta untuk pertumbuhan (Suci, 2011). Kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi produk pangan ini dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat yang sudah makin dinamis dikarenakan tuntutan pekerjaan atau customer yang makin tinggi. Kebutuhan hidup yang makin tinggi menyebabkan masyarakat melakukan upaya-upaya yang lebih keras untuk menutupi kebutuhannya tersebut.
Seiring berkembangnya masyarakat kini mulai beralih ke makanan-makanan cepat saji atau instan. Banyak sekali makanan Instan yang beredar, baik dalam bentuk cair maupun padat. Bahkan sebagian masyarakat menjadikan makanan cepat saji sebagai makanan pokok sehari–hari. Makanan cepat saji adalah makanan yang tersedia dalam waktu cepat dan siap disantap, seperti fried chiken, hamburger atau pizza (Sihaloho, 2012). Sedengkan Menurut Wulansari (2009), makanan cepat saji adalah makanan cepat saji yang dikonsumsi secara instan. Makanan cepat saji tidak baik untuk jangka panjang karena cara pengolahannya yang serba instan dan tidak secara alami dapat memicu dampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang. Efek tersebut tidak dapat di rasakan dalam jangka pendek melainkan dalam jangka yang lama.
Penggunaan zat aditif pada makanan yang tidak bijaksana dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan misalnya keracunan, kerusakan saraf, ginjal, hati, cacat kelahiran, gangguan gastroenteritis, kejang-kejang, anomalia kaki, kelainan pertumbuhan, kemandulan bahkan kematian. Penggunaan zat aditif berupa bahan pengawet, penyedap, pemanis mapun suplemen pada makanan dewasa ini tidak dapat dihindari untuk menjamin persediaan dan peningkatan mutu makanan. Selain manfaatnya seperti tersebut, zat aditif juga dapat berdampak negatif terhadap kesehatan manusia, namun hanya sedikit orang yang mengetahuinya.
Hasil laporan Riset Kesehatan Dasar JATIM (Riskesdas JATIM) 2018 diketahui bahwa 36,2% remaja di Jawa Timur mengalami obesitas dan overweight di umur 18 tahun. Menurut penelitian Shinta (2011), responden dengan kategori status gizi lebih yaitu sebanyak 46,7% mempunyai frekuensi konsumsi Junk food 1-2 kali dalam seminggu. Sesuai data dari beberapa sektor Industri di Indonesia pada tahun 2008 pertumbuhan industri makanan mencapai 19,4% pertahunnya. Hal ini membuktikan bahwa konsumen makanan Junk food makin meningkat dan makin digemari banyak kalangan. Dari data survei tahun 2007 didapatkan hasil bahwa 28% masyarakat Indonesia mengonsumsi Junk food minimal setiap satu minggu sekali, sebanyak 33% lebih sering mengonsumsi Junk food pada siang hari. Dari hasil ini, Indonesia termasuk ke dalam negara ke 10 yang paling banyak mengonsumsi makan makananan Junk food. (Damapoliet al, 2013)
Makanan cepat saji atau yang lebih dikenal Junk food mengandung asam jenuh yang tinggi, omega 6 asam lemak, asupan omega 3 lemak yang kurang dan garam serta gula yang berlebihan, sehingga makanan tersebut dapat merusak jantung, ginjal, dan obesitas. Namun makin jelas terlihat bahwa Junk food juga merusak sisitem kekebalan tubuh (Gopal, 2012). Sedangkan pada remaja putri yang terlalu banyak mengonsumsi Junk food mengakibatkan status gizi yang tidak baik atau overweight akan memproduksi hormon esterogen lebih banyak dibanding remaja putri lain, sehingga masalah ini memerlukan perhatian penting (Roshental, 2009). Konsumsi beragam dan bergizi seimbang memengaruhi perkembangan organ reproduksi remaja. berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Susanti (2012), dapat disimpulkan bahwa asupan konsumsi lemak yang berlebih merupakan faktor risiko terjadinya status gizi tidak normal (obesitas,gemuk,overweight).
Makanan cepat saji tidak harus dihindari, tetapi dibatasi. Tidak dikonsumsi setiap hari, tetapi sebaiknya cukup sekali atau dua kali sebulan. Pada prinsipnya, segala sesuatu bila dikonsumsi secara seimbang dan tidak berlebihan, termasuk (fast food), akan aman bagi kesehatan tubuh. Kita perlu lebih efektif dalam memilih makanan, lalu dikombinasikan dengan kebiasaan hidup sehat lainnya. Misalnya, berolahraga secara teratur akan memberikan hasil lebih optimal pada kesehatan tubuh (Siswono, 2008).
Referensi ;
Al-Insyirah, L. P. P. M. (2016). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pola Makan Siap Saji (Fast Food) pada Mahasiswa Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKes Hangtuah Pekanbaru. Al-Tamimi Kesmas: Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (Journal of Public Health Sciences), 5(2), 102-110.
Budiarti, A., & Utami, M. P. P. (2021). Konsumsi Makanan Cepat Saji Pada Remaja Di Surabaya. Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA, 11(2), 8-14.
Yamin, M., Jufri, A. W., Jamaluddin, J., & Khairuddin, K. (2021). Makanan Siap Saji dan Dampaknya terhadap Kesehatan Manusia. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 4(3).
Widodo, T. (2014). respons Konsumen Terhadap Produk Makanan Instan. Among Makarti, 6(2).

