Dikepung Libur Panjang, Bagaimana Agar Tetap Produktif?

Ade Nurhidayah
Bachelor of Economics Education - State University of Jakarta, Certified of Associate Wealth Planner, Contributing Author of Anthology Book
Konten dari Pengguna
5 Juli 2023 18:05 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ade Nurhidayah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Source : Personally Documentation, Mengisi waktu luang ditemani kopi dan buku
zoom-in-whitePerbesar
Source : Personally Documentation, Mengisi waktu luang ditemani kopi dan buku
ADVERTISEMENT
Bulan Juni selalu punya banyak cerita. Mulai dari lahirnya tokoh pertama pada peristiwa kemerdekaan Indonesia yakni Bung Karno pada 6 Juni 1901, disusul dengan kelahiran pemimpin militer di masa Hindia Belanda dan Kekaisaran Jepang yakni Jenderal Soeharto pada 8 Juni 1921. Kemudian kelahiran Bapak Teknologi Indonesia, Bacharudin Jusuf Habibie pada 25 Juni 1936. Terakhir, jangan lupakan karya Pujangga Kebanggaan Bangsa, Sapardi Djoko Damono tentang Hujan di Bulan Juni.
ADVERTISEMENT
Sedikit saja mengutip karya Sang Pujangga, bahwa tak ada yang lebih tabah dari hujan di Bulan Juni. Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon yang berbunga itu. Beberapa tokoh yang menjadi pembuka pada artikel ini bisa menjadi contoh, utamanya dalam memanfaatkan waktu luang. Mayoritas dari tokoh di atas memilih mengisi waktu luangnya dengan membaca, mempelajari banyak hal, juga menciptakan suatu karya. Begitulah kiranya tahun-tahun yang penuh dengan karya dan pembelajaran berharga.
Kembali pada masa sekarang, pertengahan tahun yang hampir saja selesai. Ada yang sibuk meniti karier, menyelesaikan studi, mengembangkan bisnis, juga menabung rindu pada kampung halaman. Awal bulan kemarin telah dibuka dengan libur panjang, ada yang memutuskan healing ke luar kota juga ada yang memilih stay di Ibukota. Hidup memang penuh pilihan. Jika ada yang bilang bahwa menentukan pilihan itu perkara sulit, sepertinya ada yang keliru. Perkara sulitnya bukan ada pada saat memilih, tapi pada saat kita bisa bertahan dengan pilihan itu.
ADVERTISEMENT
Ketika dihadapkan dengan banyak pilihan, kemudian dituntut mengambil beberapa pilihan, gimana tuh? Apakah sebuah kata multitasking mulai berfungsi di kondisi seperti ini? Apakah betul multitasking ini bisa mengefisienkan waktu? Menurut ilmu psikologi, multitasking atau kerap disebut rapid task-switching ialah kondisi di mana kita dituntut melakukan peralihan tugas dengan cepat.
Pada dasarnya otak manusia hanya bisa berfokus pada satu kegiatan yang membutuhkan proses kognitif. Ketika kita melakukan multitasking, sejatinya kita bukan melakukan 2 hal di waktu yang bersamaan, tapi kita hanya beralih atensi (perhatian) dari dua hal yang kita sedang lakukan. Itulah yang disebut task-switching.
Source : Personally Documentation, Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Menurut hasil riset University of London, didapatkan hasil bahwa multitasking dapat memicu penurunan produktivitas kita sebanyak 40%. Selain itu, multitasking juga memicu kita untuk meningkatkan risiko kesalahan pada saat mengerjakan sesuatu.
ADVERTISEMENT
Sebab di saat itu memungkinkan informasi yang kita terima cenderung tidak relevan. Stephen Covey, seorang penulis yang mahsyur asal Amerika Serikat, dalam salah satu karyanya beliau menyampaikan bahwa The key is not to prioritize what’s on your schedule, but to schedule you priorities, jadi kuncinya bukanlah memprioritaskan apa yang ada di jadwal Anda, tetapi menjadwalkan prioritas Anda.
Menuju pertengahan tahun ini nampaknya kita kembali mendapatkan kesempatan libur panjang lagi. Senang? Pastinya. Setelah lelah menghadapi kesibukan yang tiada habisnya, alhamdulillah dipertemukan kembali dengan yang namanya libur. Beberapa orang bilang, bulan Mei terasa lama sekali dan bulan Juni justru berjalan cepat sekali. Kira-kira menutup pertengahan tahun ini diisi dengan apa ya? Akankah lima hari ini kita lewati begitu saja?
ADVERTISEMENT
Ada beberapa pilihan yang bisa kita ambil untuk mengisi libur panjang pertengahan tahun ini, selain mengisi waktu luang tentu juga beberapa hal ini yang akan meningkatkan produktivitas kita. Here we go!
Pertama, bentuk kebiasaan baru dengan cara memperbaiki kebiasaan yang pernah dilakukan sebelumnya. Cara ini lebih dikenal dengan sebutan habit stacking. James Clear dalam karyanya “Atomic Habits” mengungkapkan bahwa dengan cara ini dapat memanfaatkan kebiasaan yang sudah ada untuk memicu dan memperkuat kebiasaan baru yang ingin kita bentuk.
Bukan sesuatu yang instan untuk diubah, tetapi melalui cara ini kita bisa lebih fokus dalam membuat perubahan kecil, melalui set small goals secara bertahap, nantinya bisa menjadi tolak ukur apakah kita berhasil atau justru gagal untuk menjalankannya. Contohnya, di pagi hari sebelum beraktivitas kita punya spare time 15 menit untuk scrolling media sosial. Nah, kita bisa menggunakan spare time 5-10 menit tadi untuk baca buku. Lumayan kan beberapa menit bisa menambah kosakata, pengetahuan dan meningkatkan daya berpikir.
ADVERTISEMENT
Kedua, lakukan the five-minutes rule. Untuk kita yang terkadang suka menunda sebuah pekerjaan, bukan hanya pekerjaan di kantor saja, pekerjaan rumah juga termasuk dalam hal ini. Cara ini mungkin cukup tepat untuk dibiasakan. Alokasikan waktu dengan baik untuk menyelesaikan satu pekerjaan, tentukan waktu yang dibutuhkan sejak awal.
Harapannya dengan cara seperti ini kita bisa menyelesaikan sesuatu dengan waktu yang lebih efisien. Selain itu, bisa juga belajar dari Prinsip Pareto 80/20. Dari 20% sesuatu yang kita kerjakan seharusnya dapat 80% sesuatu yang dihasilkan. Nah, untuk mencapai ini semua kita perlu menghilangkan hal-hal yang dirasa kurang penting dan justru berdampak pada tingkat produktivitas yang kita lakukan.
Ketiga, stop confusing productivity with laziness. Berhenti mengacaukan produktivitas kita dengan kemalasan yang tiba-tiba datang. Sebetulnya kemalasan ini jadi hal yang paling berdampak pada produktivitas kita. Secara ngga sadar ternyata waktu juga terus berjalan, sementara kita belum ada kemajuan.
ADVERTISEMENT
Cobalah alihkan atensi kita untuk memilih hal-hal yang lebih bernilai. Misalnya saja dengan menekuni bidang yang kita suka. Memasak, membuat konten, membuat artikel, membuat podcast. Lebih menghasilkan nilai kan? Meski tidak secara materi, at least waktu kita ngga terbuang dengan bermalas-malasan.
Terakhir, evaluasi diri. Jika dirasa sudah ada beberapa cara yang kita lakukan tapi belum mengubah kebiasaan kita, bisa jadi ada yang salah ketika melakukannya. Entah kita yang cenderung terburu-buru untuk bisa mengubah kebiasaan, atau kita yang terlalu cuek untuk mengevaluasi apa yang sudah dijalankan.