Cara Menjaga Harga Diri Anak di Depan Umum

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Anggota ICA, APJIKI, ASPIKOM. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang anak perempuan tiba-tiba memotong antrean, ketika kami mengantre wudu di sebuah masjid, karena lantainya licin, anak itu terpeleset dan jatuh tepat di depan saya. Saya mencoba menolongnya namun belum sempat anak itu berdiri, seorang wanita yang berdiri di depan saya menoleh dan menarik anak tersebut dengan paksa. Ternyata, wanita itu adalah ibunya. Ibu itu memarahi anaknya dengan suara yang cukup keras. Di tengah tangisannya, sang anak mengatakan bahwa ia menyusul ibunya karena ingin ikut berwudu.
“Jangan menangis, biasanya kamu hanya main air bukan berwudu. Orang-orang yang sedang shalat nanti terganggu mendengar tangismu!” ujar si ibu yang suaranya terdengar lebih keras dari isak tangis anaknya.
Saya melihat semburat rasa malu di wajah si anak. Malu, sakit, dan tangisan tertahan berbaur menjadi satu.
Saya tidak melihat anak itu berlari ke tempat wudu. Ia hanya mencoba mendekati kami dan mencari-cari ibunya. Namun, karena lantai di sekitar kami cukup licin, anak itu jatuh terpeleset. Ibu itu tidak peduli dengan alasan yang disampaikan anaknya. Pernyataan si ibu yang bernada tuduhan terhadap anaknya dan disampaikan di depan orang banyak merupakan tindakan yang tidak bijak.
Pada kejadian di atas sebaiknya si ibu itu menolong dan menunjukkan empati pada anaknya. Anak akan merasa lebih nyaman jika sang ibu membantu membangunkan anaknya dengan lembut dan memeluknya. Menunjukkan empati pada anak secara langsung akan membantu anak mengatasi rasa malu jatuh di depan umum dan meringankan sakitnya karena terjatuh. Sang ibu sebaiknya membawa anaknya menjauh dari orang banyak ketika menyampaikan pesan dan menasihati anaknya. Memarahi dan menasihati anak di depan orang banyak dapat membuat anak merasa malu dan merasa tidak dihargai.
Anak-anak seperti juga orang dewasa perlu dijaga harga dirinya. Orang tua yang memarahi atau menasihati anaknya di depan orang banyak sesungguhnya ia juga sedang mempermalukan dirinya sendiri. Orang lain dapat berpersepsi bahwa sang ibu kasar, tidak dapat mengendalikan diri, bahkan sang ibu dapat dicap tidak dapat mengurus serta kurang bijak mendidik anak.
Mari tunjukkan bahwa jika kita menyayangi anak, kita tidak mempermalukannya. Kita harus menjaga harga dirinya.
My children may not have everything they want in life but they have a mom who love them more than anything in the world"
