Konten dari Pengguna

Dari Gemerlap Milan ke Turin yang Tenang: Menuju Pesona Danau St. Moritz

Ade Tuti Turistiati

Ade Tuti Turistiati

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Anggota ICA, APJIKI, ASPIKOM. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Milan dan Torino (Turin) adalah dua wajah berbeda dari Italia. Milan merupakan kota besar modern, glamor, dan penuh energi. Sementara itu, Turin adalah kota kecil di wilayah pegunungan dekat perbatasan antara Italia dan Swiss. Suasana di kawasan Turin tenang dengan udara segar dan dikelilingi oleh Pegunungan Alpen (Alps).

Dari Milan kita bisa menuju Turin dengan kendaraan pribadi, bus atau kereta ikonik Bernina Express. Para wisatawan yang menggunakan bus dengan jasa travel agent biasanya bus telah termasuk dalam harga paket. Sementara itu, naik kereta Bernina adalah opsional. Kita bisa membeli tiket Bernina melalui aplikasi SBB Mobile dengan harga kurang lebih Rp 750.000 sekali jalan per orang. SBB Mobile adalah aplikasi resmi transportasi umum di Switzerland yang dikelola oleh Swiss Federal Railways.

Kereta Bernina. Sumber: Dok. Ica
zoom-in-whitePerbesar
Kereta Bernina. Sumber: Dok. Ica

Dalam perjalanan Milan-Turin sekitar tiga jam, kita bisa menikmati pemandangan Pegunungan Alpen yang masih diselimuti salju di awal musim semi. Rumah-rumah penduduk tersebar dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain, atau berkelompok-kelompok di tempat tertentu dengan nuansa berwarna pastel. Rumah-rumah tersebut seperti tak berpenghuni pada saat awal musim semi yang masih relatif dingin. Namun, di padang rumput nan hijau kita bisa menyaksikan sapi dan kambing yang sedang merumput. Bisa dipastikan, hewan-hewan ternak, termasuk ayam, yang bebas mencari makan sendiri, harga daginnya lebih mahal dibanding hewan ternak yang lebih banyak hidup di kandang. Konon, hewan yang hidupnya bebas mencari makan akan lebih senang atau 'bahagia', sehingga memengaruhi kualitas dagingnya.

Rumah penduduk di Turin. Sumber: Dok. Ica

Daya tarik utama Turin selain pemandangannya yang memesona adalah Danau St. Moritz. Nama “Maurice” dalam bahasa lokal berkembang menjadi “Moritz”, terutama dalam bahasa Jerman yang digunakan di wilayah Swiss tersebut. Terletak tepat di wilayah St. Moritz, danau tersebut secara alami disebut Danau St. Moritz. Jadi, di balik nama danau yang terdengar elegan ini, sebenarnya ada cerita tentang keberanian, sejarah Romawi, dan pengaruh agama yang membentuk identitas wilayah tersebut selama berabad-abad.

Danau dengan latar pegunungan Alpen. Sumber: Dok. Pribadi

Waktu terbaik untuk menikmati Danau St. Moritz adalah pada pagi hari antara jam 08:00–10:00 pada saat musim semi. Udaranya cukup sejuk dengan angina sepoi-sepoi dan terpaan hangatnya mentari pagi. Air danaunya jernih, dikelilingi jalur pejalan kaki dan pemandangan pegunungan yang luas. Orang datang untuk berjalan santai, bersepeda, atau sekadar duduk menikmati udara segar dan pemandangan salju yang mulai mencair.

Danau St. Morizt nan sejuk di musim semi. Sumber: Dok.Pribadi

Musim semi di Danau St. Moritz bukan tentang hasil akhir, tetapi tentang proses yang terlihat jelas di depan mata. Es yang perlahan mencair, air yang mulai bergerak kembali, dan kehidupan yang bangkit tanpa terburu-buru. Semuanya mengingatkan bahwa perubahan besar tidak terjadi sekaligus. Di tengah pegunungan Alpen, musim semi bukan hanya pergantian musim, tetapi pengingat bahwa setiap perubahan, sekecil apa pun, adalah tanda kehidupan yang terus bergerak maju.