Dijon, Kota Kecil di Burgundy Prancis dengan Daya Tarik Besar

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Anggota ICA, APJIKI, ASPIKOM. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah hiruk-pikuk destinasi wisata populer di Prancis, Dijon hadir sebagai kota kecil yang tenang namun penuh pesona. Kota ini merupakan persinggahan di wilayah Burgundy dan destinasi yang mampu menawarkan pengalaman autentik khas Prancis, hangat dan bersahabat.
Dari segi akses, Dijon cukup mudah dijangkau dari Paris. Perjalanan dengan kereta cepat (TGV) hanya memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit, menjadikannya pilihan ideal untuk perjalanan singkat. Alternatif lain, bus antarkota tersedia atau melalui bus travel dengan waktu tempuh sekitar 3 hingga 4 jam. Perjalanan naik bus lebih cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan darat dengan biaya lebih terjangkau.

Pada tanggal 1 Mei, bertepatan dengan Hari Buruh Internasional, Dijon menunjukkan sisi kota kecil yang santai, penuh pesona. Banyak toko tutup, jalanan tidak seramai biasanya, dan warga lokal memilih menikmati hari libur di taman-taman kota. Pemandangan keluarga yang piknik, pasangan yang berjalan santai, pelajar yang sedang mengerjakan tugas kelompok, hingga anak-anak yang bermain di ruang terbuka menjadi gambaran umum. Suasana ini memberi kesan bahwa Dijon bukan hanya kota untuk dikunjungi, tetapi juga untuk “dirasakan”.
Salah satu daya tarik utama Dijon adalah ruang hijaunya yang terawat rapi. Taman-taman kota seperti Jardin Darcy menjadi tempat favorit warga. Rumput hijau yang bersih, bunga yang tertata indah, serta fasilitas umum, termasuk toilet kota yang bersih dan nyaman, menunjukkan bagaimana kota ini memperhatikan detail kecil yang berdampak besar bagi kenyamanan pengunjung. Yang pasti toilet-toilet umum di Dijon gratis tidak seperti di Paris yang membandrol harga 2 euro.
Tak hanya itu, Dijon juga kaya akan warisan arsitektur religius. Katedral Saint-Bénigne Dijon berdiri megah dengan gaya Gotik yang memikat, menghadirkan suasana khidmat sekaligus mengagumkan. Sementara gereja-gereja tua di sudut kota menyimpan cerita panjang sejarah yang masih terjaga dengan baik. Berjalan kaki di pusat kota Dijon seperti menelusuri lorong waktu, setiap bangunan memiliki kisah. Berdasarkan informasi dari warga Dijon, beberapa bangunan gereja telah beralih fungsi menjadi tempat pertunjukan musik atau opera.
Mitos Burung Hantu Pembawa Keberutungan
Di Dijon beredar sebuah legenda popular tentang seekor burung hantu ajaib yang muncul di malam hari. Konon barangsiapa yang melihatnya akan mendapatkan keberuntungan berupa rezeki, menemukan cinta yang didamba, dan kehidupan yang bahagia. Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, burung hantu ajaib itu bisa ditemukan di sekitar Gereja Notre-Dame de Dijon. Akibatnya, banyak orang yang datang mengunjungi Gereja Notre-Dame de Dijon. Kedatangan mereka ke gereja tersebut entah untuk beribadah atau sekadar mencari keberuntungan bertemu dengan sang burung hantu.
Warga Dijon yang Ramah
Keindahan Dijon bukan hanya fisiknya, seperti gedung-gedung tua yang artistik, melainkan keramahan penduduknya. Warga lokal menunjukkan keramahan dan tidak segan membantu wisatawan, meski terkadang dengan bahasa Inggris yang terbatas. Jika kita menanyakan letak suatu tempat, tak segan-segan mereka menunjukkan langsung atau berjalan ke arah tempat yang ditanyakan. Selain itu, kata-kata seperti “enjoy your trip”, “have a nice day”, “take care” terdengar dari warga setempat ketika mengakhiri percakapan.
Dijon adalah bukti bahwa kota kecil bisa menghadirkan pengalaman besar. Di tengah dunia yang bergerak cepat, kota ini mengajarkan arti menikmati waktu secara perlahan, sederhana, dan penuh makna.
