Konten dari Pengguna

Menyusuri Jenewa dari Markas PBB, Broken Chair, Kota Tua Sampai Toko Recycles

Ade Tuti Turistiati

Ade Tuti Turistiati

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Anggota ICA, APJIKI, ASPIKOM. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjalanan menuju kawasan PBB di Geneva atau Jenewa menghadirkan suasana khas kota internasional. Trem listrik melintas tenang bolak-balik di jalanan yang bersih, sementara para turis mancanegara mengabadikan momen di depan markas PBB dan tugu peringatan Broken Chair.

Markas PBB di Jenewa. Sumber: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Markas PBB di Jenewa. Sumber: Dok. Pribadi

Jenewa dikenal sebagai salah satu pusat diplomasi dunia, tempat bermarkasnya berbagai organisasi internasional. Wisatawan dapat melakukan tur resmi ke Palais des Nations atau markas PBB. Dengan dipandu guide resmi, wisatawan dapat melihat langsung ruang sidang utama, Human Rights and Alliance of Civilizations Room, Assembly Hall, sejarah diplomasi internasional, kerja organisasi kemanusiaan dunia, dan jalan-jalan di Ariana Park. Sayangnya, untuk mengikuti tur, pengunjung tidak dapat mendaftar langsung di tempat. Wisatawan harus memesan tiket masuk berbayar secara online dan memilih slot jadwal yang kosong. Namun demikian, wisatawan bisa mengambil spot foto di depan gedung PBB dari kejauhan dan di dekat Broken Chair alias Kursi Patah Raksasa.

Broken Chair alias Kursi Patah Raksasa yang Ikonik

Di seberang depan markas PBB terdapat monumen ikonik, yaitu Broken Chair yang dibuat Daniel Berset pada 18 Agustus 1997. Kursi Patah Raksasa tersebut terbuat dari kayu merah tua dengan tinggi 12 meter. Kursi ini melambangkan penolakan terhadap ranjau darat dan korban perang. Dengan kata lain, kursi itu menjadi metafora korban perang yang kehilangan anggota tubuh akibat ranjau darat, senjata yang sering tetap aktif bahkan setelah konflik berakhir.

Broken Chair difoto dari bus. Sumber: Dok.Prbadi

Bagi para pengunjung, Broken Chair bukan hanya lokasi foto wisata. Kursi berkaki tiga itu seolah berubah menjadi “saksi bisu” berbagai isu global. Secara visual, Broken Chair menghadirkan paradoks. Kursi biasanya identik dengan kenyamanan dan kestabilan. Namun, karya ini justru dibuat “tidak lengkap”. Kesan ganjil itulah yang menjadi kekuatan utamanya. Pesan yang ingin disampaikan sederhana namun tajam, yaitu dunia belum benar-benar aman bagi semua orang.

Para wisatawan di sekitar Broken Chair. Sumber: Dok. Pribadi

Air Mancur, Gereja Tua dan Peninggalan Sejarah

Di tepi Danau Jenewa, pemandangan kota menghadirkan perpaduan indah antara ketenangan alam dan jejak sejarah yang kuat. Ikon paling terkenal adalah air mancur raksasa Jet d’Eau, yang menyemburkan air setinggi sekitar 140 meter ke langit. Dari kejauhan, semburannya tampak seperti pilar putih yang terus hidup, seolah menjadi napas kota yang tak pernah berhenti bergerak.

Air Mancur Jet d’Eau dari kejauhan. Sumber:Dok. Pribadi

Tidak jauh dari sana, berdiri kawasan kota tua Old Town Geneva dengan jalan berbatu dan bangunan bersejarah. Di dalamnya terdapat St. Pierre Cathedral serta Maison Tavel, yang menyimpan cerita panjang kehidupan Jenewa. Kontras antara modernitas Jet d’Eau dan suasana klasik kota tua menjadikan Jenewa begitu khas dan berkarakter.

Katedral dan bangunan tua di Kota Lama. Dok. Pribadi
Salah satu sudut bangunan di Kota Tua. Sumber: Dok. Pribadi

Recycle Shops, Kehidupan Kedua Bagi Ribuan Barang

Di tengah citra Jenewa sebagai kota diplomasi dan markas organisasi internasional, tersimpan sisi lain yang jauh lebih santai dan membumi, yaitu budaya thrifting dan recycle shop. Salah satu yang paling menarik perhatian wisatawan maupun warga lokal adalah La Recyclerie milik Caritas Genève. Tempat ini bukan sekadar toko barang bekas biasa, melainkan ruang “kehidupan kedua” bagi ribuan barang yang masih layak pakai. Tentunya dengan harga murah untuk ukuran warga Jenewa.

Pakaian dan barang-barang seken di toko recycle. Sumber: Dok. Pribadi

Dari luar, bangunannya tampak sederhana. Namun begitu, pengunjung langsung disambut suasana unik yang terasa seperti perpaduan gudang vintage, pasar loak modern, dan galeri nostalgia. Rak-rak dipenuhi pakaian warna-warni, tas klasik, sepatu, buku lama, piring dan gelas antik, lampu jadul, hingga furnitur kayu bergaya Eropa.

Piring gelas seken di toko recycle. Sumber: Dok. Pribadi

Banyak wisatawan datang bukan hanya untuk berbelanja murah, tetapi juga untuk mencari pengalaman berbeda dari pusat perbelanjaan mewah Swiss. La Recyclerie juga memperlihatkan bagaimana Jenewa serius menjalankan budaya keberlanjutan. Di kota dengan biaya hidup tinggi, recycle shop menjadi simbol gaya hidup ramah lingkungan sekaligus bentuk solidaritas sosial.