Konten dari Pengguna

Paris: Dari Romansa Menara Eiffel hingga Toilet 2 Euro

Ade Tuti Turistiati

Ade Tuti Turistiati

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Anggota ICA, APJIKI, ASPIKOM. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik julukan “Kota Cinta”, Paris menyimpan lebih dari sekadar kisah romantis yang sering kita lihat di film-film. Kota ini adalah panggung besar tempat keindahan, kenyataan, dan kejutan bertemu.

Di musim semi, bulan April, Paris, ibu kota Prancis, udaranya cukup bersahabat. Matahari bersinar hangat, bahkan kadang-kadang terasa cukup terik bagi yang tidak terbiasa. Namun, angin sejuk yang berhembus ringan membuat paduan cuaca terasa nyaman untuk jalan-jalan di sekitar kota.

Pesona Menara Eiffel di malam hari. Sumber: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Pesona Menara Eiffel di malam hari. Sumber: Dok. Pribadi

Tak jauh dari pusat kota, berdiri megah ikon dunia: Eiffel Tower. Menara besi ini tetap memancarkan pesonanya, siang maupun malam. Namun, di sini kewaspadaan harus dijaga. Di bawah bayangan kemegahan Eiffel, para turis yang berdesakan dari berbagai penjuru dunia dan pedagang keliling harus hati-hati terhadap copet yang menyelinap di tengah lautan manusia.

Masuk ke area Museum Louvre, pengunjung disambut oleh keajaiban arsitektur, termasuk fenomena “prisma terbalik” atau piramida terbalik yang menggantung elegan di bawah tanah. Ia bukan sekadar elemen desain, tetapi simbol bahwa Paris selalu punya cara unik untuk membalik perspektif siapa pun yang datang. Museum Louvre merupakan museum terbesar di dunia dengan luas area mencapai 60.600 meter persegi. Museum seni yang terletak di jantung Kota Paris ini menyimpan lebih dari 35.000 karya (www.visitlouvreparis.com). Pengunjung rela antre panjang untuk masuk museum dan menikmati salah satu lukisan fenomenal di dunia. Apa lagi kalau bukan lukisan Mona Lisa.

Museum Louvre antreanah antrian pengunjung. Sumber: Dok. Pribadi

Menyusuri Sungai Seine dengan Kapal Wisata

Kita dapat menikmati perjalanan Seine River cruise dengan menaiki kapal kecil yang cukup panjang dan berlangsung selama 1 jam. Harga tiketnya relatif terjangkau untuk ukuran Prancis dan pengalaman sekelas ini, sekitar 35 euro (Rp 700 ribu) tergantung jenis kapal dan fasilitas.

Menara Eiffel dilihat dari cruise di Seine River. Sumber: Dok. Pribadi

Begitu kapal mulai bergerak, suasana berubah. Riuh kota menghilang, digantikan oleh suara air yang beriak lembut. Wisatawan dapat menikmati Menara Eiffel perlahan menjauh, lalu justru terlihat lebih megah dari kejauhan. Sepanjang perjalanan, kapal melewati lorong-lorong jembatan tua yang penuh cerita, seperti Pont Alexandre III yang berhiaskan patung emas dan Pont Neuf, jembatan tertua di kota itu. Namun, yang paling berkesan bukan hanya pemandangannya, melainkan perasaan yang muncul. Di atas kapal itu, kita bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara. Semua berbeda, tapi disatukan oleh satu hal: keinginan untuk menikmati momen. Sering juga terjadi wisatawan atau orang-orang yang sedang berjalan di pinggiran sungai melambai-lambaikan tangan dan disambut hal serupa oleh penumpang kapal.

Bangunan tua sepanjang Sungai Seine. Sumber: Dok. Pribadi

Makanan harga selangit, Toilet 2 Euro, dan Suvenir

Soal makanan, Paris adalah surga sekaligus ujian. Restoran dengan menu “cruise dinner” di sepanjang Sungai Seine menawarkan pengalaman makan romantis dengan harga yang bisa membuat dompet berdebar. Rasanya luar biasa, suasananya tak tertandingi, tapi tagihannya sering kali lebih membekas daripada kenangannya.

Jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya, Paris membandrol harga termahal untuk penggunaan toilet. Pengguna toilet harus rela merogoh kantong sebesar 2 euro atau kurang lebih Rp 40 ribu sekali pakai. Penjaga toilet sering kali mengingatkan pengunjung agar menjaga toilet tetap kering. Sehingga, penggunaan bidet toilet dilarang.

Masuk toilet 2 euro. Sumber: Dok. Pribadi

Di sudut-sudut kota, tawaran suvenir murah bertebaran. Miniatur Eiffel, gantungan kunci, hingga tas dan selendang bertuliskan “Paris” cukup menggoda. Namun, pembeli harus jeli agar tidak sampai tertipu oleh kualitas barang yang rentan rusak.

Paris bukan kota yang sempurna, dan justru di situlah daya tariknya. Ia tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga pengalaman nyata. Kota ini mengajarkan satu hal: romansa sejati bukan hanya tentang apa yang terlihat indah, tapi juga tentang bagaimana kita menghadapi kenyataan di baliknya.