Wonderful Japan, Kumpulan Catatan Perjalanan Wisata dan Budaya Negeri Sakura

Ade Tuti Turistiati
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.
Konten dari Pengguna
20 Mei 2021 17:44 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cover buku. Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Cover buku. Dokumentasi pribadi
ADVERTISEMENT
Jepang dikenal dengan keindahan objek wisata dan budayanya yang serbaneka. Jika kita mengunjungi objek wisata di negeri Sakura, akan lebih bermakna dengan mengenal kisah yang melekat padanya dan cerita mengenai tempat di mana objek wisata itu berada. Selain itu, di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang luar biasa, warga di negeri Matahari Terbit ini secara turun-temurun masih terus menjaga ragam budayanya. Budaya tidak hanya sekadar tradisi semata tetapi juga meliputi kebiasaan, norma, kepercayaan, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran yang diwariskan dari generasi ke generasi, dari orang tua pada anak-anaknya. Budaya dibentuk dari banyak elemen kompleks, termasuk sistem politik, kebiasaan, bahasa, alat-alat, pakaian, bangunan, pekerjaan seni, dan agama.
Burung dan pink sakura. Dokumentasi pribadi. Karya: Dini.
Pada kurun waktu 2011-2014 saya dan keluarga berkesempatan bermukim di Jepang, tepatnya di Nara. Selama tinggal di sana, kami banyak mengunjungi objek-objek wisata terutama yang terletak di Nara dan Kansai area serta mengenal dan mempelajari budayanya. Cerita tentang Nara adalah cerita tentang nostalgia. Kondisi dan suasananya tidak jauh berbeda dengan zaman baheula berpuluh tahun pertama kali saya ke sana ketika mengikuti pertukaran pemuda.
ADVERTISEMENT
Kansai adalah istilah yang digunakan untuk menyebut wilayah Jepang di bagian barat Pulau Honshu yang terdiri dari 9 prefektur, yaitu Kyoto, Osaka, Mie, Shiga, Fukui, Wakayama, Hyogo, Tokushima, dan Nara. Nara yang berarti flat land atau tanah dataran merupakan prefektur atau provinsi yang dilingkupi 4 prefektur, yaitu Osaka di sebelah barat, Kyoto di utara, Wakayama di selatan, dan Mi di timur.
Bagi saya, objek wisata dan budaya negeri para Ninja tersebut bak hamparan buku cerita yang menarik untuk dibaca. Cerita tentang budaya Jepang tentu saja tidak semuanya baik di mata kita. Namun, seorang sahabat pernah mengatakan “jika tinggal di negeri orang, bawalah dan ceritakanlah hal-hal baik tentang negeri tersebut, pengalaman dan kenangan buruk tinggalkan ketika kamu kembali ke negerimu”.
ADVERTISEMENT
Nasihat sahabat tersebut kemudian saya tuangkan dalam buku yang berjudul “Wonderful Japan, Kumpulan Catatan Perjalanan Wisata dan Budaya Negeri Sakura.” Judul tersebut merepresentasikan tentang wisata dan budaya Jepang yang menyimpan beragam keindahan, sarat nilai, dan makna.
Buku ini mengupas objek wisata dan budaya yang mengiringinya, di antaranya cerita tentang kijang santun di taman Nara (Nara koen); Nara To-Kae, festival lilin musim panas di Nara; Cantiknya bunga sakura di Nara; Serba bambu aneka fungsi; Eksotisnya negeri Sakura; Ikoma Sanjyo yang memikat; Bertemu Ninja di kampungnya; Menikmati indahnya salju di lembah Biwako; Menikmati salju di Rokko San, Kobe; Sepenggal pengalaman makan mie somen dengan kuah es batu; Pesona Hiroshima; Melintasi Taiko Bashi, jembatan menuju kesucian; dan lain-lain. Pembaca juga dapat menikmati cerita tentang budaya negaranya Oshin, misalnya bagaimana pramuniaga memperlakukan pembeli sebagai raja; Kisah Kabayan ala Jepang; Ojigi, budaya membungkukkan badan; Kisah mualaf Jepang; Lansia di Jepang yang bersekolah; Kotobuki Daigaku, universitas-nya para lansia; Kota Tenri, antara manula dan Rumah Durian; dan lain-lain.
ADVERTISEMENT
Sesungguhnya, banyak yang dapat kita pelajari dari sikap dan perilaku orang Jepang. “Jika ingin melihat banyak orang Islam datanglah ke Indonesia tapi jika ingin melihat banyak orang berperilaku islami datanglah ke Jepang.” Demikian sebuah pendapat yang pernah saya dengar dari satu sisi.
Pendapat tersebut menurut saya ada benarnya walau tentunya tidak semua perilaku orang Jepang islami. Demikian pula sebaliknya banyak perilaku orang Islam Indonesia yang baik dan islami. Intinya, kita dapat belajar dari siapa saja selama itu dapat memperbaiki sikap dan perilaku kita ke arah yang lebih baik.