Konten dari Pengguna

Tsunami Selat Sunda: ‘Saat Negara Api Menyerang’

Adhi Muhammad Daryono

Adhi Muhammad Daryonoverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adhi Muhammad Daryono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kondisi Desa Way Muli, Lampung Selatan usai terkena tsunami. (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi Desa Way Muli, Lampung Selatan usai terkena tsunami. (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)

Bencana kembali menghampiri negeri ini. Tsunami dan gelombang tinggi menerjang Pantai Anyer, Banten, dan Lampung Selatan pada Sabtu malam (22/12). Bencana tersebut kini dikenal dengan Tsunami Selat Sunda.

Ada dugaan Tsunami Selat Sunda disebabkan oleh adanya longsoran dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang berada di tengah Selat Sunda. Kejadian tsunami ini, atau lebih tepatnya tsunami vulkanik, mengingatkan kita pada letusan Gunung Krakatau pada Agustus 1883 silam.

Letusan vulkanik tersebut menyebabkan seluruh badan gunung ikut hancur. Dan kini, hanya menyisakan bagian dari gunung tersebut dan dikenal dengan Gunung Anak Krakatau. Pada saat itu, Gunung Krakatau meletus secara dahsyat dan menyebabkan air laut pasang kemudian menyapu daratan di sekitarnya.

Letusan Gunung Krakatau ini menyebabkan kurang lebih 36 ribu jiwa tewas. Tak hanya gempa dan tsunami yang disebabkan oleh letusan Krakatau, tetapi awan panas di sekitar Anyer dan bagian selatan Lampung.

Gambar dari udara kondisi Anak Gunung Krakatau. (Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dari udara kondisi Anak Gunung Krakatau. (Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan)

Namun, tahukah kalian semua? Jauh sebelum Gunung Krakatau meletus, meluluhlantakkan wilayah Selat Sunda pada 1883, sejarah Nusantara pernah mencatat ada sebuah kerajaan bernama Salakanagara.

Kerajaan tersebut diperkirakan sebagai kerajaan pertama di Nusantara. Namun, hingga kini, belum diketahui di mana letak persis Kerajaan Salakanagara.

Menurut beberapa versi sejarah, pusat kerajaan berada di Teluk Lada, Pandeglang, Banten.

Hal ini berdasarkan catatan Claudius Ptolemaeus, seorang ahli geografi dan astronomi asal Yunani, yang hidup pada masa Kerajaan Romawi. Ptolemaeus pernah menyebut suatu tempat bernama Argyre dalam bukunya, Geographia, yang ditulis kira-kira tahun 150 Masehi.

Tsunami Selat Sunda: ‘Saat Negara Api Menyerang’ (2)
zoom-in-whitePerbesar

Claudius Ptolemaeus

Argyre, menurut ilmuwan Yunani itu, berada di dunia timur yang sangat jauh, tepatnya di bagian barat sebuah pulau bernama Iabodio. Penyebutan pulau ini kemudian dikait-kaitkan dengan istilah atau lafal Yawadwipa alias Jawa (Jawadwipa). Dalam Bahasa Yunani, argyre berarti 'perak'.

Dari berbagai sumber hipotesis sejarah, Kerajaan Salakanagara memiliki sejumlah kerajaan bawahan atau kerajaan mandala. Beberapa kerajaan bawahan Salakanagara tersebut adalah Kerajaan Mandala Sangiang, Kerajaan Mandala Agnynusa, Kerajaan Hujung Kulon, dan Kerajaan Hujung Kidul.

Nah, yang menarik di sini, salah satu kerajaan bawahan bernama Kerajaan Agnynusa atau Kerajaan Pulau Api. Dalam Bahasa Sansekerta, agny berarti 'api' dan nusa adalah 'pulau'. Kerajaan tersebut diperkirakan tepat berada di Pulau Krakatau (Gunung Krakatau).

Tsunami Selat Sunda: ‘Saat Negara Api Menyerang’ (3)
zoom-in-whitePerbesar

Wilayah Kerajaan Salakanagara. (dok: onokopo.com)

Terus, apa kaitannya dengan bencana tsunami dan letusan Gunung Krakatau?

Ini hanya sebuah anekdot saja, ternyata negara api itu memang ada. Kita hanya mendengar negara api itu ada dalam film Avatar: The Last Airbender. Dan dari film itu kita sering mendengar istilah ‘ketika negara api menyerang’.

Ya, ada sedikit persamaan dengan tsunami dan letusaan Gunung Krakatau ini dengan ‘Serangan Negara Api’.

Tsunami Selat Sunda: ‘Saat Negara Api Menyerang’ (4)
zoom-in-whitePerbesar

Ilustrasi negara Api.

(Jadi, negara api itu memang benar-benar ada, ya?)

Namun, terlepas dari cerita mengenai negara api, bencana ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua. Indonesia, berada di wilayah cincin api dunia (ring of fire) dan berada di antara tiga lempeng, yakni Eurasia, Australia, dan Pasifk. Tentunya, berbagai macam bencana mulai dari letusan gunung berapi, gempa bumi, hingga tsunami harus sudah harus siap siaga.

Jadi, sebelum ‘negara api menyerang’, kita sudah memiliki persiapan yang lebih matang. Kita tak mungkin melawan ‘serangan negara api’ tersebut. Tapi sebisa mungkin bisa menghindari dan mengantisipasinya.