kumparan
search-gray
News16 April 2020 15:54

Modal Optimisme Pemimpin Menghadapi Covid-19

Konten kiriman user
Modal Optimisme Pemimpin Menghadapi Covid-19 (202961)
Ilustrasi Optimisme Pemimpin
Saat wabah Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) kali pertama muncul akhir tahun lalu di Kota Wuhan, Tiongkok, banyak pemimpin negara yang abai terhadap ancaman virus tersebut. Bahkan, tak sedikit yang mengalihkan perhatian publik dengan narasi optimisme yang bias. Sehingga bias optimisme ini menjadi pangkal dari kegagapan mereka mengantisipasi ancaman secara akurat.
ADVERTISEMENT
Di Indonesia sendiri, informasi tentang adanya wabah Covid-19 di Tiongkok sudah banyak menghiasi media sejak bulan Januari. Alih-alih menyiapkan sistem kesehatan secara komprehensif, pemerintah justru terkesan denial dan menebarkan narasi-narasi yang tidak relevan dengan upaya pencegahan Covid-19.
Padahal kita semua tahu, di era globalisasi seperti sekarang, saat sebuah negara terjadi epidemi penyakit menular, tak ada negara lain yang kebal dari penularannya. Bila pemerintah Indonesia merasa optimis virus Corona tidak masuk ke Indonesia, maka jelas itu adalah klaim optimis yang tidak realistis. Sebab, sebelum virus yang berasal dari keluarga Corona ini muncul, sudah ada virus lain yang juga masuk di Indonesia, seperti SARS di tahun 2003, MERS di tahun 2012, juga virus flu burung (H5N1) dimana Indonesia menempati kasus terbanyak di dunia.
ADVERTISEMENT
Kita bisa mengupas kembali jejak digital pernyataan para menteri menyikapi wabah Covid-19. Sebut saja Menteri Kesehatan yang terlalu percaya diri dan menganggap Covid-19 tidak lebih bahaya dari batuk pilek biasa. Selain itu, ada juga menteri yang menganggap virus Corona bisa dicegah dengan minum jamu dan susu kuda liar. Dan, belakangan ada anggota kabinet yang menyatakan bahwa iklim di Indonesia tidak memungkinkan virus Corona berkembang. Juga beragam pernyataan lain dari para anggota kabinet yang terang-terangan menyepelekan ancaman virus ini.
Hingga setelah malapetaka ini benar-benar terjadi. Tak ada satupun anggota kabinet yang mencabut pernyataannya dan meminta maaf pada publik atas sikap optimisme buta yang menyesatkan tersebut.
Jarak Pemimpin Populis dan Sains
ADVERTISEMENT
Jauh-jauh hari para pakar dan ilmuan bidang kesehatan telah mewanti-wanti pemerintah tentang ancaman wabah ini. Berharap agar pemerintah segera menyiapkan langkah-langkah antisipatif, mengingat virus Corona mampu menyebar dengan sangat cepat, juga mempertimbangkan fasilitas kesehatan kita belum cukup mampu untuk menampung ledakan jumlah pasien bila kasus Covid-19 tumbuh secara eksponensial.
Saran dari para pakar tentang pentingnya kesiapan pemerintah mengantisipasi wabah Covid-19 rupanya tidak begitu direspon dengan serius. Bahkan, tidak jarang mereka yang berbicara tentang isu Covid-19 dinilai hanya menakut-nakuti masyarakat. Hal ini terjadi lantaran masalah kesehatan bukanlah isu yang populer bagi pemerintah, sehingga tidak mendapat perhatian khusus, sebagaimana isu ekonomi dan politik.
Karakter pemimpin populis yang tampak cekatan, responsif terhadap aspirasi rakyat, dan kerap turun langsung ke masyarakat ternyata kontras saat dihadapkan dengan masalah kesehatan seperti wabah Covid-19 ini. Bagi pemimpin populis, saran dari para pakar kesehatan mungkin tidak lebih penting dari agenda ekonomi dan politik. Sehingga jarak yang menganga antara pemimpin populis dan ilmu pengetahuan menjadikan pertimbangan sains bukan aspek penting dalam merumuskan kebijakan. Maka wajar bila hampir semua anggota kabinet pemerintah kompak mengeluarkan pernyataan yang terkesan anti terhadap sains.
ADVERTISEMENT
Optimisme Berbasis Sains
Kita semua menyadari bahwa manusia bukan satu-satunya makhluk hidup yang mendiami bumi. Ada beragam makhluk hidup lain yang juga hidup bersama manusia di planet ini. Bukan hanya hewan dan tumbuhan yang kasat mata, namun juga makhluk-makhluk lain seperti bakteri, virus, dan kuman yang tak kasat mata.
Hidup sealas dengan makhluk hidup lain tentu saja bukan tanpa resiko. Apabila tidak ada relasi yang positif antara manusia dan makhluk hidup lain, bisa saja makhluk-makhluk tersebut mengancam kehidupan umat manusia. Seperti yang pernah terjadi di daerah Karanganyar saat kawanan kera turun gunung dan memasuki pemukiman warga. Juga yang terjadi di Aceh ketika gerombolan gajah keluar sarangnya melintasi jalan raya dan memasuki pemukiman penduduk. Maka disinilah pentingnya manusia melakukan moderasi hubungan dengan makhluk lainnya agar tercipta harmonisasi kehidupan sesama makhluk hidup di muka bumi.
ADVERTISEMENT
Namun, bagaimana caranya membangun moderasi dengan makhluk yang tak kasat mata seperti kuman, bakteri, dan virus? Keberadaan mikroba tidak bisa dinafikan begitu saja. Bahkan, di dalam tubuh manusia terdapat banyak bakteri yang memiliki peran positif dalam proses metabolisme tubuh. Tapi juga tak sedikit makhluk mikroba yang dapat mengancam kehidupan manusia.
Peran ilmu pengetahuan, seperti bakteriologi, virologi dan mikrobiologi, memiliki andil dalam mencermati kehidupan mikroba tersebut. Hasil riset dan kajian bidang ilmu tersebut memberi panduan bagi umat manusia tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk menghindari ancaman virus, atau menghasilkan vaksin untuk memagari manusia dari virus, juga memproduksi obat untuk menyembuhkan penyakit akibat virus. Dan, tentu saja hasil riset tersebut menjadi rekomendasi bagi pengambil kebijakan tentang langkah yang seharusnya dilakukan dalam menghadapi ancaman virus.
ADVERTISEMENT
Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan memainkan peran penting dalam menjamin keberlangsungan hidup umat manusia. Sebelum ilmu pengetahuan berkembang seperti saat ini, banyak wabah penyakit yang tidak ditemukan obatnya sehingga mengakibatkan tewasnya jutaan umat manusia. Seperti wabah hitam atau biasa disebut Black Death yang merenggut tidak kurang dari 25 juta nyawa manusia, dan Flu Spanyol (H1N1) yang menginfeksi sekitar 500 juta orang.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, kini para ilmuan bisa mengetahui perkembangan virus lebih dini, sehingga bisa mencegah penyebaran virus tersebut. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk memberi perhatian yang besar terhadap program-program riset ilmiah. Selain untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, hasil dari riset-riset ilmiah tersebut juga bisa menjadi bahan pemerintah dalam pengambilan kebijakan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
ADVERTISEMENT
Dengan bermodalkan hasil riset tersebut, seorang pemimpin bisa memiliki optimisme yang kuat berbasis data ilmiah dalam merespon wabah penyakit yang disebabkan oleh virus. Tanpa pertimbangan ilmu pengetahuan, optimisme pemimpin tak ubahnya seperti jargon politik, sehingga mustahil dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Sebaliknya, justru mengancam masa depan umat manusia.
Adhi Nur Seto, Aktif di Pusat Studi Kesehatan Masyarakat dan Kesejahteraan Sosial
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white