kumparan
News30 Maret 2020 21:49

Strategi Perang Rakyat Semesta Melawan Corona

Konten kiriman user
Cover Story - Ilustrasi Corona
Ilustrasi Corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan
Perang melawan corona belum berakhir. Bahkan sampai detik ini belum ada tanda-tanda makhluk berukuran sekian nanometer itu menyerah. Justru yang terjadi sebaliknya, corona semakin menggila. Tidak hanya sisi kesehatan saja yang jadi korban keganasannya, bahkan semua lini kehidupan, dari ekonomi, sosial, dan politik, hingga umat beragama turut porak poranda dibuatnya.
ADVERTISEMENT
Di saat-saat seperti ini, kita menyadari bahwa ketahanan negara tak cukup diukur dari banyaknya jumlah pasukan, juga alutsista yang dimilikinya. Karena negara adidaya sekelas USA, pun keteteran menghadapi makhluk tak kasat mata ini. Juga negara-negara lain dengan kekuatan militer yang tak kalah canggih, seperti Rusia, Iran, Inggris, dan Prancis dibuat tak berdaya. Harus diakui Negara-negara kalah cepat melawan pergerakan corona.
Selama ini negara memandang negara lain adalah ancaman keamanan yang harus diwaspadai. Karena gesekan antar negara bisa memicu perang yang dapat menggangu stabilitas keamanan. Namun mereka lupa bahwa selain perang, ada ancaman yang lebih serius dan memakan korban yang tak kalah banyak. Ancaman itu datang dari makhluk mikroba (virus, bakteri, kuman)
ADVERTISEMENT
Jika negara-negara adidaya saja dibuat tak berdaya melawan virus corona, bagaimana dengan Indonesia? Walaupun data menampilkan kasus yang terdeteksi di Indonesia jauh lebih sedikit dari kasus yang dialami oleh negara-negara lain yang lebih canggih, baik dari segi Ilmu Pengetahuan, teknologi, maupun sumberdaya. Namun, bukan berarti Indonesia dianggap lebih mampu menekan jumlah kasus corona.
Persoalannya, sampai detik ini Pemerintah Indonesia belum melakukan pengujian masal, baik pada Orang dalam Pemantauan (ODP), Pasien dalam Pengawasan (PDP) maupun pada masyarakat luas. Maka bisa jadi apa yang terjadi di Indonesia adalah sebuah fenomena gunung Es, yang tampak kecil di permukaan, namun memendam kasus yang lebih besar. Mengingat rasio kematian kasus corona di Indonesia sangat tinggi, bahkan tertinggi se-Asia tenggara.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, Indonesia jelas tak sebanding dengan negara adidaya semacam USA, Rusia, Inggris, dan Prancis. Jangankan mau perang melawan corona, di mana letak corona saja kita belum tahu, karena belum dilakukan tes masal. Maka di posisi yang sulit ini, sebaik-baik strategi melawan musuh yang lebih kuat dan tak terlihat adalah menghindarinya.

Strategi Perang Rakyat Semesta

Di dalam kamus angkatan bersenjata Indonesia dikenal istilah perang semesta. Sederhananya, perang semesta merupakan strategi perang yang menggabungkan taktik perang gerilya dan dukungan rakyat sipil. Walaupun di era kemajuan teknologi seperti saat ini jelas strategi tersebut kurang menemukan relevansinya. Namun, setidaknya kita bisa mengambil poin penting dari strategi tersebut, yaitu keterbatasan sumber daya yang dimiliki, dibalut dengan dukungan rakyat berupa kekuatan solidaritas sosial untuk bersama-sama melepaskan diri dari jerat musuh bernama corona ini.
ADVERTISEMENT
Di dalam strategi perang semesta yang pernah dilakukan Indonesia saat melawan penjajah dulu, rakyat berada di baris terdepan berhadapan langsung dengan musuh. Karena keterbatasan persenjataan, pasukan bersenjata bergerak secara gerilya di hutan-hutan dan gunung-gunung, mengamati pergerakan lawan dan mencari titik-titik kelemahan lawan, sambil sesekali turun gunung untuk menghancurkan pertahanan lawan.
Pun demikian dalam strategi melawan virus corona ini. Rakyat sebagai pilar terpenting berada di garis terdepan menjaga pertahanan utama. Dan, tenaga medis adalah pasukan bersenjata, yang bergerilya, tidak di hutan atau di gunung, namun di ruang-ruang ICU melawan virus corona. Maka, tidak tepat bila kita menempatkan tenaga medis sebagai garda terdepan melawan corona. Pasalnya, jumlah tenaga medis dan sumberdaya medis lainnya sangat terbatas, tidak sebanding dengan kecepatan penyebaran virus corona. Mereka adalah benteng pertahanan terakhir kita. Jika tenaga medis dan pelayanan kesehatan kita sudah kewalahan, perang selesai. Negara kalah dengan virus.
ADVERTISEMENT
Bagaimana dengan rakyat yang tidak dibekali dengan senjata namun berada di garis terdepan? Jika musuh datang dengan jumlah sedikit maka tangkap, dan isolasi mereka sehingga mereka tak dapat mengundang bala bantuan yang lebih besar. Namun bila musuh datang dengan jumlah besar, maka satu-satunya cara adalah menghindari mereka dengan cara bersembunyi dan mengisolasi diri. Sebisa mungkin menjauhi dan menjaga jarak dengan musuh. Dan, istilah yang tepat menggambarkan taktik di atas adalah karantina.

Kesiapan Perang Semesta

Selain dukungan solidaritas rakyat, strategi perang semesta juga mensyaratkan dukungan kekuatan logistik berupa ketersediaan pangan. Pada masa itu, Indonesia sebagai negara agraris memiliki kekayaan alam berlimpah khususnya bahan makanan seperti padi, sagu, jagung dan bahan makanan lainnya. Logistik tersebut kemudian didistribusikan kepada gerilyawan yang ada di hutan-hutan, juga untuk kebutuhan masyarakat selama masa perang. Sehingga dengan kekuatan logistik yang memadai, Indonesia mampu meladeni perang melawan penjajah dalam durasi waktu yang cukup lama.
ADVERTISEMENT
Lalu, bagaimana dengan kekuatan logistik Indonesia saat ini dalam perang semesta melawan virus corona? Semenjak perekonomian Indonesia mengalami transformasi struktural dari agraris ke industri, kebutuhan pangan dalam negeri lebih banyak dipenuhi dengan produk impor. Hal ini lumrah terjadi karena peningkatan populasi penduduk telah mengubah lahan-lahan pertanian menjadi kawasan industri. Ditambah lagi teknologi pertanian kita belum cukup canggih untuk meningkatkan produktivitas dari lahan yang semakin terbatas.
Selain itu, dua masalah yang tidak kalah penting yaitu; menurunnya regenerasi petani kita. Yang membuat para petani saat ini didominasi oleh penduduk usia lanjut. Dan yang kedua, perubahan iklim yang berdampak langsung pada penurunan produktivitas pertanian, bahkan tak jarang berujung pada gagal panen.
Dalam waktu yang bersamaan, negara-negara pemasok pangan dunia juga mengalami masalah yang serupa. Negara seperti Cina, Brasil, dan USA, yang selama ini memasok kebutuhan pangan dunia juga tak lepas dari hantaman corona. Sehingga, seperti yang disampaikan oleh direktur IMF, Corona tidak hanya menjadi masalah kesehatan global, namun telah menjadi krisis ekonomi dan keuangan global.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, kita berada dalam situasi yang dilematis. Di satu sisi, situasi saat ini mengharuskan melakukan karantina untuk menghindari penyebaran corona yang lebih luas. Di sisi lain kesiapan logistik selama masa karantina juga belum terjamin. Juga, tak ada yang tahu sampai kapan masa darurat wabah ini berakhir.
Selain masalah kerawanan pangan, kita juga dihadapkan masalah yang sangat fundamental, yaitu minimnya sumberdaya medis sebagai komponen pertahanan kita. Dengan semakin membludaknya kasus corona, jumlah tenaga medis yang terinfeksi virus ini juga semakin meningkat. Bahkan, terakhir ada 10 dokter telah meninggal dunia, menjadi korban keganasan corona. Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat, seiring dengan meningkatnya kasus corona yang memasuki fase eksponensial.
ADVERTISEMENT
Hal ini terjadi, selain karena faktor kelelahan yang dialami oleh tenaga medis, tak jarang para tenaga medis harus tetap merawat pasien corona walau dengan tangan hampa dan peralatan seadanya. Kelangkaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga medis menjadi penyebabnya.
Namun kita patut berbangga. Di tengah banyaknya kekurangan di sana-sini dalam menangani kasus corona, masyarakat Indonesia mampu menunjukkan solidaritasnya dengan bahu-membahu membantu saudara-saudara kita yang terdampak corona, baik kepada tenaga medis maupun kepada para pekerja harian yang harus menelan pil pahit atas lesunya perekonomian akibat wabah corona.
Namun diluar itu, harus ada langkah-langkah cepat dan strategis dari pemerintah untuk segera mengatasi situasi yang semakin genting ini.

Peran Pemerintah

Penulis teringat kutipan menarik dari seorang ahli strategi perang bernama Sun Tzu di dalam bukunya The Art Of War. Ia menulis: "If you know the enemy and know yourself you need not fear the results of a hundred battles".
ADVERTISEMENT
Maka, Jika pemimpin yang baik dapat mengetahui kelemahan dan kekuatan pasukannya. Pemimpin sejati dapat mengetahui kelemahan dan kekuatan pasukan dan musuh, sekaligus dapat mengubah kelemahan pasukan menjadi sebuah kekuatan. diantaranya mengubah keterbatasan tenaga medis dan kerawanan logistik sebagai sebuah kekuatan.
Melihat kebutuhan tenaga medis semakin besar untuk menghadapi corona yang penyebarannya semakin masif. Maka, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah cepat, dengan mempersiapkan mahasiswa dari rumpun kesehatan untuk terjun langsung menangani corona. Keberadaan mereka sangat penting, mengingat tenaga medis sebelumnya telah banyak yang mengalami kelelahan. Juga untuk mempersiapkan periode perang panjang, yang tak seorang pun tahu kapan berakhirnya.
Selain itu, melihat ketahanan pangan yang tak cukup kuat, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah cepat untuk meningkatkan produksi pangan lokal kita. Salah satunya adalah melalui insentif produktivitas, agar generasi muda terdorong terjun dalam dunia pertanian. Keberadaan generasi muda yang kreatif dan inovatif tentu dapat meningkatkan produktivitas pertanian melalui pemanfaatan teknologi. Hal ini penting dilakukan, sebab, ketersediaan logistik merupakan syarat utama dalam peperangan. Apalagi perang dengan durasi yang panjang.
ADVERTISEMENT
Jika kedua hal tersebut berjalan dengan baik, ditambah dengan solidaritas sosial masyarakat yang menjadi kekuatan utama, maka pelaksanaan karantina sebagai bagian dari perang semesta melawan corona benar-benar mampu memutus mata rantai penyebaran corona. Karantina jelas bukan asal karantina, karena tidak kecil dampak yang menyertainya. Oleh karenanya, karantina harus dipersiapkan secara matang, dengan cara memastikan kunci keberhasilan perang semesta yaitu; dukungan rakyat, kesiapan pasukan (tenaga medis) dan ketersediaan logistik (pangan). Indonesia, Jiayou!
Adhi Nur Seto
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan