Buku Don't Be Evil Ungkap Asal Usul Aksi Protes Massal Karyawan Google

Pada akhir Oktober 2018, gelombang kemarahan internal melanda Google akibat penanganan kasus pelecehan seksual oleh pihak manajemen yang dinilai tidak adil. Dipelopori oleh Claire Stapleton, seorang manajer pemasaran YouTube saat itu, gerakan protes yang dikenal sebagai Women’s Walkout pun mulai terbentuk.
Stapleton mengungkapkan dalam buku terbarunya berjudul Don’t Be Evil bahwa inisiatif ini bermula dari pembuatan Google Group sederhana bernama womens-walk. Grup yang awalnya hanya menampung beberapa nama itu mendadak dibanjiri ratusan karyawan yang ingin menyuarakan keresahan mereka secara terbuka.
Melalui email yang dikirim pada Sabtu pagi, 27 Oktober 2018, Stapleton mengajak rekan-rekannya untuk bersatu.
“Selamat datang di titik nol aksi mogok kerja perempuan Google,” tulis Stapleton dalam pesan pembukanya yang dikirim menggunakan identitas aslinya tanpa anonimitas.
Dalam waktu singkat, diskusi tersebut berkembang dari sekadar ungkapan kemarahan menjadi penyusunan strategi aksi nyata di lapangan.
Menggalang Solidaritas Global dalam Lima Hari
Para pekerja memutuskan untuk menggelar aksi mogok kerja pada Kamis, 1 November 2018, demi mempertahankan momentum kemarahan publik sebelum Pemilu Sela Amerika Serikat. Dalam menyusun rencana tersebut, Stapleton dibantu oleh Tanuja, seorang manajer proyek yang merancang situs internal sebagai pusat koordinasi untuk seluruh kantor Google di dunia.
Kendati demikian, disebutkan dalam buku tersebut tentang tantangan besar yang membayangi gerakan ini. Seorang rekan Stapleton bernama Amr memperingatkan adanya potensi tekanan balik yang kuat dari manajemen Google.
Aksi protes ini akhirnya mencatatkan sejarah sebagai salah satu gerakan penolakan massal terbesar dari kalangan pekerja industri teknologi global. Beberapa tuntutan yang diajukan para karyawan Google dalam aksi ini adalah meminta komitmen perusahaan untuk menghentikan ketidaksetaraan pemberian gaji dan kesempatan dan pelaporan masalah pelecehan seksual secara lebih transparan.
Aksi turun ke jalan itu dilakukan para karyawan Google di San Francisco, Singapura, Zurich, London, Dublin, Sydney, Tokyo, Berlin, dan New York. Sebuah akun Twitter bernama @GoogleWalkout mengumpulkan dokumentasi aksi turun ke jalan tersebut.
