Kumparan Logo

Buntut Kisruh Final Piala Dunia 2026, Timnas Argentina Terancam Sanksi FIFA

kumparanBOLAverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lamine Yamal berdoa usai membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia pada 19 Juli 2026. Foto: Pedro Ugarte/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Lamine Yamal berdoa usai membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia pada 19 Juli 2026. Foto: Pedro Ugarte/AFP

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) telah membuka proses investigasi resmi terhadap tim nasional Argentina menyusul serangkaian insiden perilaku buruk yang terjadi sepanjang turnamen Piala Dunia 2026. Investigasi ini mencakup aksi keributan pasca-pertandingan final melawan Spanyol hingga isu sensitif terkait penggunaan simbol politik di lapangan.

Investigasi Serius Insiden Final

FIFA telah menunjuk jaksa penuntut disiplin dan etik untuk mendalami kericuhan yang pecah saat peluit akhir pertandingan final di New York New Jersey Stadium pada 19 Juli lalu. Dalam kekalahan 1-0 Argentina atas Spanyol tersebut, sejumlah pemain dan staf pelatih terlibat dalam tindakan agresif terhadap pemain lawan.

Berdasarkan rekomendasi jaksa, FIFA kini melakukan penyelidikan terhadap pemain seperti Nahuel Molina dan Leandro Paredes, serta asisten pelatih Roberto Ayala atas dugaan penyerangan. Berdasarkan kode disiplin FIFA, pelanggaran perilaku tidak sportif minimal berbuah sanksi satu pertandingan, sementara tindakan penyerangan dapat diganjar larangan bertanding minimal tiga laga.

Para penggemar Argentina bentrok dengan polisi anti huru hara di Obelisk setelah Argentina kalah dalam pertandingan final Piala Dunia FIFA melawan Spanyol di Buenos Aires pada 19 Juli 2026. Foto: Luis Robayo / AFP

Polemik Banner Politik dan Pelanggaran Kode Etik

Selain insiden fisik, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) juga menghadapi dakwaan atas pelanggaran multidimensi di berbagai pertandingan. Salah satu yang menjadi sorotan utama adalah penggunaan ajang olahraga untuk demonstrasi non-olahraga, yakni saat para pemain merayakan kemenangan di semifinal dengan membentangkan spanduk bertuliskan 'Las Malvinas son Argentinas' yang merujuk pada klaim wilayah sengketa Kepulauan Falkland.

Selain masalah banner, otoritas sepak bola dunia ini juga tengah mendalami laporan terkait tindakan diskriminatif, perilaku rasis, serta pelanggaran keamanan selama pertandingan. FIFA menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap kode disiplin, termasuk gestur yang tidak pantas dan gangguan keamanan dari penonton, akan diproses secara transparan demi menjaga integritas kompetisi.