Membaca Bahasa Politik melalui Linguistik Forensik

Mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Pamulang (UNPAM)
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Adhisty Dwiriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bahasa memiliki peran yang jauh melampaui fungsi komunikatif. Dalam konteks sosial dan politik, bahasa menjadi medium pembentuk makna, pengarah opini, sekaligus alat legitimasi kekuasaan. Politik tidak dapat dilepaskan dari praktik berbahasa karena melalui bahasa, kekuasaan dijalankan, dipertahankan, dan dipertanggungjawabkan.
Linguistik forensik menghadirkan cara pandang baru terhadap bahasa, yakni sebagai bukti. Bahasa tidak hanya dipahami sebagai alat ekspresi, tetapi juga sebagai jejak yang dapat dianalisis untuk mengungkap relasi kuasa.

Bahasa dalam ranah politik berfungsi sebagai sarana pembentukan realitas. Pilihan kata, struktur kalimat, dan cara penyampaian pesan digunakan untuk mengarahkan pemahaman publik terhadap suatu peristiwa. Bahasa politik kerap bekerja secara tidak langsung, menciptakan kesan yang netral, padahal sejalan dengan kepentingan kekuasaan.
Dalam praktiknya, bahasa dapat digunakan untuk menegaskan dominasi maupun menutupi ketimpangan. Ungkapan-ungkapan tertentu berfungsi untuk tindakan politik, sementara makna lain disamarkan atau dihilangkan, bahasa merupakan tempat kekuasaan dijalankan dan dipertarungkan. Bahasa menghadirkan gambaran tentang relasi kuasa yang terjadi dalam masyarakat, bahasa memungkinkan penyampaian kritik terhadap kekuasaan. Bahasa yang digunakan tidak hanya menciptakan keindahan, tetapi juga menyimpan makna sosial dan politik.
Linguistik forensik memandang bahasa sebagai data yang dapat dianalisis, setiap unsur bahasa mulai dari diksi, struktur kalimat, hingga pola wacana dianggap memiliki nilai pembuktian. Bahasa menjadi jejak yang mengungkap maksud, posisi, dan makna dalam suatu teks. Ketika diterapkan pada bahasa politik, linguistik forensik memungkinkan pemaknaan yang lebih kritis. Teks sastra tidak hanya dipahami sebagai karya imajinatif, tetapi juga sebagai dokumen linguistik yang menyimpan bukti tentang bagaimana kekuasaan direpresentasikan dan dipertanyakan melalui bahasa.
Membaca sastra politik melalui linguistik forensik berarti menempatkan teks sastra sebagai objek analisis bahasa. Pendekatan ini menyoroti bagaimana bahasa digunakan untuk membangun citra kekuasaan, membungkam suara tertentu, atau justru menghadirkan perlawanan serta melindungi sesuatu. Bahasa dalam teks sastra menjadi saksi atas praktik kekuasaan yang terjadi dalam masyarakat. Analisis linguistik forensik membantu mengungkap makna-makna tersembunyi yang tidak selalu tampak dalam bahasa.
