Konten dari Pengguna

Sambut Ramadhan, PPI Tiongkok di Kunming Bantu KBRI Beijing Tebar Kebahagiaan

Adhita Sri Prabakusuma

Adhita Sri Prabakusuma

Pengajar di Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Ahmad Dahlan dan Peneliti Doktoral di Lab Biomolekuler Pangan, Yunnan Agricultural University, China

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adhita Sri Prabakusuma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PPI Tiongkok di Kunming mendistribusikan paket logistik dari KBRI Beijing ke seluruh WNI di provinsi Yunnan (17/4/2020). (Dok: PPIT Kunming/Adhita Sri Prabakusuma)
zoom-in-whitePerbesar
PPI Tiongkok di Kunming mendistribusikan paket logistik dari KBRI Beijing ke seluruh WNI di provinsi Yunnan (17/4/2020). (Dok: PPIT Kunming/Adhita Sri Prabakusuma)

Menjelang Bulan Suci Ramadhan 1441 H, 9 orang Warga Negara Indonesia (WNI) di kota Kunming, provinsi Yunnan, Tiongkok mendapatkan paket logistik yang ketiga kalinya dari KBRI Beijing. Para WNI di provinsi lain pun juga mendapatkan paket sejenis.

Logistik yang diterima tersebut meliputi 1 kotak masker, 1 botol vitamin C, dan 1 kardus mie instan. Sebelumnya, pada bulan Februari dan Maret, KBRI Beijing juga telah mengirimkan paket logistik serupa.

KBRI Beijing, saat awal lockdown di China tanggal 23 Januari 2020, langsung mendata seluruh WNI yang masih berada di Tiongkok dengan berkoordinasi bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT).

Puncaknya, pada tanggal 1 Februari 2020, Kemenlu, KBRI Beijing, BNPB, dan seluruh stakeholder lain berhasil menjemput 245 WNI dari Wuhan dengan pesawat Batik Air ID 8618. Perjuangan yang sangat heroik untuk menyelamatkan nyawa para WNI di pusat pandemi Covid-19.

Saat awal outbreak Covid-19, sebenarnya sebagian besar WNI telah pulang ke Indonesia untuk liburan musim dingin dan Tahun Baru Imlek. Kemudian, waktu-waktu berikutnya secara berangsur-angsur, bertambah lebih banyak lagi WNI yang pulang sesuai dengan arahan dari KBRI Beijing.

Kondisi terkini WNI di Tiongkok

Pada awalnya, di Tiongkok sendiri, mengutip data KBRI Beijing per Desember 2019, tercatat ada sekitar 15.000 WNI yang belajar, bekerja, maupun menikah dengan orang lokal.

Pada saat oubreak kemarin, hampir semuanya telah meninggalkan Tiongkok dan hanya tersisa sekitar 1.700 WNI yang masih bertahan, menurut Dubes RI untuk Tiongkok yang disampaikan dalam koordinasi Dubes KBRI Beijing dengan seluruh PPI se-Tiongkok via Zoom meeting (23/4/2020).

Rata-rata, WNI yang masih bertahan adalah pelajar yang sedang menyelesaikan penulisan tugas akhirnya sebelum periode kelulusan di tahun 2020.

Sejak masa lockdown dimulai, KBRI Beijing sangat gencar dalam menggerakkan PPIT dalam mencari informasi keberadaan WNI yang ada di daerah kerjanya. Pendataan tersebut berhubungan dengan identitas pribadi, alamat, sekolah, nomor kontak, rencana kepulangan ke tanah air, hingga kondisi kesehatannya.

Hampir setiap pekan data ini selalu di-update. Hal ini dilakukan untuk memastikan kondisi terkini dan keamanan seluruh WNI yang ada di Tiongkok. Hingga periode ini (23/4/2020), dilaporkan tidak ada satupun WNI yang terinfeksi virus SARS-CoV-2. Semua WNI dalam keadaan aman, baik, dan sehat.

Para WNI selalu dihimbau untuk mematuhi semua standar dan protokol kesehatan yang ditetapkan sekolah maupun otoritas pemerintah kota masing-masing. Semuanya disarankan untuk melakukan isolasi diri di tempat tinggal masing-masing, menjaga imunitas, serta tetap menerapkan physical distancing.

PPIT Kunming turut menjaga WNI

PPIT Kunming juga terus aktif dalam memonitor dan membantu seluruh anggotanya. Selain itu, PPIT Kunming turut pula mendistribusikan logistik dari KBRI Beijing ke seluruh WNI di provinsi Yunnan.

PPIT Kunming mencatat ada 5 orang WNI pelajar dan 4 orang WNI non-pelajar di wilayah kerjanya. Untuk WNI pelajar sendiri, terdiri dari satu orang mahasiswa S3 di Yunnan Agricultural University, satu orang mahasiswi S2 di Kunming Medical University, dua orang mahasiswa S2 di Yunnan Normal University, dan 1 orang mahasiswa D3 di Yunnan Forestry Technological College.

Untuk WNI non-pelajar, rata-rata bekerja sebagai karyawan di berbagai perusahaan lokal di Tiongkok.

Pendistribusian logistik dari KBRI Beijing untuk seluruh WNI dibantu oleh PPI se-Tiongkok. (Dok: KBRI Beijing/Adhita Sri Prabakusuma).

Di Kunming sendiri, kondisi kesehatan setiap WNI dipantau setiap dua kali dalam sepekan melalui grup Wechat. Data ini dilaporkan secara rutin ke KBRI Beijing melalui grup Koordinasi Pendataan WNI. Kerja sama ini sangat solid, masif, terstruktur, dan mendetail.

Kampus belum kembali masuk

Sejauh ini, belum semua level sekolah diizinkan untuk memulai kegiatan akademiknya. Hanya SMP dan SMA kelas 3 yang diizinkan masuk dengan berbagai standar keamanan yang ketat. Mereka diizinkan masuk untuk mempersiapkan ujian nasional.

Standar yang diterapkan di sekolah-sekolah tersebut meliputi:

  1. pengecekkan kondisi dan status kesehatan,

  2. desinfektan semua ruangan serta isi kelas,

  3. pemakaian masker setiap hari,

  4. penjagaan jarak antar individu.

Untuk tingkat perguruan tinggi, beberapa daerah yang benar-benar dilaporkan tidak ada kasus dalam sebulan terakhir yang diizinkan masuk. Sebagai contoh kampus-kampus di kota Nanjing, Jiangsu.

Untuk provinsi-provinsi yang masih ada kasus aktif atau tambahan kasus baru baik dari kasus lokal maupun kedatangan luar negeri, maka diwajibkan untuk tetap memperpanjang masa School From Home (SFH) secara daring.

Tiongkok masih terus waspada

Pemerintah Tiongkok sendiri masih sangat waspada terhadap berbagai macam kemungkinan. Secara ekonomi, Tiongkok memang telah berangsur-angsur pulih. Perusahaan sudah kembali buka, pasar beroperasi seperti biasa, dan transportasi publik telah berjalan dengan normal.

Khusus di Kunming, pembukaan lockdown ini dilakukan pada awal Maret. Di pusat pandemi kota Wuhan sendiri, pembukaannya baru direalisasikan tanggal 8 April yang lalu.

Di provinsi Yunnan yang berbatasan langsung dengan negara-negara di Asia Tenggara, seperti Myanmar, Laos, Thailand, dan Vietnam, semua kampus akan diizinkan untuk masuk setelah tanggal 6 Mei.

Hal ini dikarenakan masih terdapatnya kasus impor dari luar negeri. Kasus impor ini menjadi keresahan tersendiri karena dikhawatirkan memicu timbulnya outbreak gelombang kedua.

Provinsi lain seperti Heilongjiang yang berbatasan dengan Rusia juga terdampak kasus impor. Pada hari Rabu (22/4), masih ada tambahan sejumlah 23 kasus impor dan 7 kasus transmisi lokal baru dilaporkan terjadi di sana.

Tiongkok juga masih berjuang untuk mengendalikan wabah di negaranya sampai pada tingkatan paling aman. sejauh ini, Tiongkok berhasil menekan angka fatality rate (tingkat kematian) hingga hanya berkisar 5.59% dan angka recovery rate (tingkat kesembuhan) mencapai 93,3%.

Bagaimana pun kondisinya, KBRI Beijing tetap konsisten dan berkomitmen tinggi untuk melindungi keselamatan seluruh WNI dari berbagai ancaman wabah virus ini.

Dukungan yang tulus dan penuh semangat dari PPI se-Tiongkok, khususnya di Kunming akan terus diberikan sekuat tenaga kepada KBRI Beijing. Hal ini merupakan penegasan jati diri dan spirit gotong royong antar para WNI di tanah perantauan, khususnya menjelang ibadah puasa kaum Muslim di bulan suci Ramadhan 1441 H ini. Marhaban Yaa Ramadhan!*

Ditulis oleh:

Adhita Sri Prabakusuma

Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) di kota Kunming; Wakil Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Tiongkok