Konten dari Pengguna

Para Perawi Perempuan yang Menjaga Hadis: Kisah yang Jarang Diceritakan

Adi bayu pamungkas

Adi bayu pamungkas

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adi bayu pamungkas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Generated by AI (Meta)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Generated by AI (Meta)

Ketika membicarakan hadis, nama yang muncul biasanya laki-laki: Bukhari, Muslim, Abu Hurairah. Padahal sejarah hadis juga ditulis oleh perempuan. Mereka meriwayatkan, mengajar, dan menjadi tempat para ulama besar belajar.

Dimulai dari Rumah Nabi

Aisyah binti Abu Bakar adalah salah satu sahabat dengan jumlah riwayat hadis terbanyak, sekitar 2.210 hadis menurut perhitungan yang umum dikutip. Ia dikenal cerdas dan berani mengoreksi pendapat sahabat lain. Ulama kemudian mengumpulkan koreksi-koreksinya dalam sebuah karya khusus.

Ada juga Ummu Salamah, Hafshah, dan Ummu Athiyyah. Mereka menyampaikan hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan perempuan, seperti ibadah, rumah tangga, dan adab, sehingga tidak semuanya bisa diwakili oleh perawi laki-laki.

Setelah Masa Sahabat, Peran Itu Tidak Berhenti

Salah satu muridnya Aisyah, Amrah binti Abdurrahman, begitu dipercaya sehingga Khalifah Umar bin Abdul Aziz disebut memerintahkan pencatatan hadis darinya. Itu berarti ilmunya dijadikan rujukan resmi.

Pada abad-abad berikutnya, pendidikan hadis terbuka bagi banyak perempuan. Karimah al-Marwaziyah (wafat 463 H) terkenal sebagai periwayat Sahih Bukhari. Ulama besar seperti Khatib al-Baghdadi disebut belajar kepadanya. Penelitian modern oleh Mohammad Akram Nadwi mencatat ribuan ulama perempuan hadis (muhaddithat) sepanjang sejarah Islam.

Mengapa Kita Jarang Mendengarnya?

Ada dua kemungkinan penyebab. Pertama, buku pelajaran kita lebih sering menyorot tokoh yang karyanya dibukukan dalam kitab besar, dan penulisnya mayoritas laki-laki. Kedua, peran perempuan sering dianggap "biasa" sehingga tidak banyak diceritakan, padahal catatan biografi para ulama menunjukkan mereka aktif di majelis ilmu.

Akibatnya, sebagian orang mengira ilmu agama adalah wilayah laki-laki saja. Fakta sejarahnya lebih beragam dari itu.

Dekat dengan Kita: Rahmah El Yunusiyah

Kita tidak perlu jauh-jauh ke Timur Tengah. Di Padang Panjang, Rahmah El Yunusiyah mendirikan Diniyyah Putri pada 1923, sekolah agama khusus perempuan. Universitas Al-Azhar kemudian memberinya gelar "Syaikhah" pada 1957, yang tercatat sebagai pertama kalinya gelar itu diberikan kepada seorang perempuan. Ia melanjutkan tradisi lama bahwa perempuan boleh dan perlu berilmu.

Apa Relevansinya Hari Ini?

1. Melawan konten hadis asal-asalan. Kita sering menemukan potongan "hadis" di media sosial tanpa sumber. Tradisi perawi perempuan mengingatkan bahwa ilmu hadis dibangun dengan disiplin: siapa gurunya, siapa muridnya, dan bagaimana ia menerima riwayat.

2. Membuka ruang belajar yang setara. Jika sejarah mencatat perempuan mengajar hadis di masjid dan majelis, maka mendorong perempuan belajar agama secara mendalam hari ini bukan hal baru. Itu kelanjutan dari tradisi lama.

3. Memperkaya cara kita memahami agama. Pengalaman perempuan memberi sudut pandang yang melengkapi, bukan bersaing dengan pandangan laki-laki.

Penutup

Hadis sampai kepada kita lewat rantai panjang manusia yang menghafal, mencatat, dan mengajarkannya, dan sebagian dari mata rantai itu adalah perempuan. Mengenal mereka membuat kita lebih adil membaca sejarah, dan lebih teliti ketika menerima kutipan atas nama hadis.