Tolok Ukur Kritik Matan: Al-Quran, Hadis Lain, Akal, dan Fakta Sejarah

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Adi bayu pamungkas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang mengira menilai hadis cukup dengan memeriksa siapa yang meriwayatkannya. Itu memang langkah pertama, yang disebut kritik sanad. Namun para ulama hadis juga menguji isi hadis, yang disebut matan. Sebuah riwayat bisa tampak rapi rantainya tetapi isinya bermasalah. Karena itu, ulama menyiapkan beberapa tolok ukur. Di sini kita bahas empat yang paling sering disebut.
1. Apakah Isinya Selaras dengan Al-Quran?
Al-Quran adalah rujukan tertinggi. Jika sebuah riwayat jelas bertentangan dengan pesan pokok Al-Quran dan tidak bisa dipertemukan dengan penafsiran yang masuk akal, ulama menaruh curiga pada riwayat itu.
Contoh yang terkenal datang dari Aisyah. Ia mendengar riwayat bahwa orang yang meninggal disiksa karena tangisan keluarganya. Menurut riwayat yang tercatat, Aisyah membandingkannya dengan ayat bahwa seseorang tidak memikul dosa orang lain, lalu menjelaskan bahwa kejadian yang dimaksud hadis itu berbeda dari pemahaman yang beredar. Ulama menyebut contoh ini sebagai bukti bahwa kritik terhadap isi riwayat sudah dilakukan sejak masa sahabat.
2. Apakah Bertentangan dengan Hadis Lain yang Lebih Kuat?
Hadis tidak berdiri sendiri. Sebuah riwayat sebaiknya dibaca bersama riwayat lain tentang topik yang sama. Jika dua hadis tampak berlawanan, ulama tidak langsung membuang salah satunya. Langkah yang biasa ditempuh:
Dipertemukan: dicari penjelasan yang membuat keduanya benar, misalnya karena konteks atau sasaran pembicaraannya berbeda.
Dikuatkan salah satunya: dinilai mana yang sanadnya lebih kokoh atau lebih banyak jalurnya.
Ditangguhkan: jika belum ada kejelasan, ulama memilih tidak menyimpulkan dulu.
Pembahasan ini punya nama sendiri dalam ilmu hadis, yaitu mukhtalaf al-hadits. Karya klasik seperti Ta'wil Mukhtalaf al-Hadits oleh Ibnu Qutaibah membahasnya.
3. Apakah Masuk Akal dan Sesuai Kenyataan?
Ulama juga memakai akal sehat sebagai penyaring, terutama untuk hadis yang terdengar berlebihan, mustahil, atau tidak pantas disandarkan kepada Nabi. Contoh yang sering disebut dalam kitab ulama, termasuk karya Ibnul Qayyim tentang ciri hadis palsu, adalah kisah-kisah fantastis yang tidak punya dasar dan tidak sejalan dengan ajaran dasar Islam.
Akal di sini bukan berarti selera pribadi. Ia dipakai untuk menolak yang jelas mustahil. Hal-hal yang di luar jangkauan akal tetapi didukung riwayat kuat tetap diterima.
4. Apakah Cocok dengan Fakta Sejarah?
Kadang isi hadis sendiri membongkar kepalsuannya. Contoh klasik adalah riwayat tentang pembebasan jizyah bagi penduduk Khaibar. Riwayat itu menyebut dua orang sahabat sebagai saksi, yaitu Sa'ad bin Mu'adz dan Mu'awiyah. Menurut para ulama, Sa'ad sudah wafat sebelum peristiwa Khaibar, sedangkan Mu'awiyah baru masuk Islam jauh sesudahnya. Ketidakcocokan seperti ini yang membuat ulama menilai riwayat itu bermasalah.
Peringatan Penting: Ini Bukan Alasan untuk Menolak Seenaknya
Ada salah paham yang sering muncul, yaitu mengira kritik matan boleh dipakai untuk menolak hadis yang tidak kita sukai. Ulama sangat berhati-hati soal ini:
Pemahaman kita bisa keliru. Hadis yang terlihat aneh bisa jadi baru terasa janggal karena kita belum memahami konteks, bahasa, atau situasi saat itu.
Kritik matan dilakukan oleh ahlinya. Ia menuntut penguasaan bahasa Arab, riwayat-riwayat lain, dan sejarah.
Pertentangan sering hanya tampak di permukaan. Sebagian besar kasus selesai dengan penjelasan, bukan penolakan.
Jadi tolok ukur ini adalah alat bantu para ahli, bukan jalan pintas bagi siapa pun.
Apa yang Bisa Dilakukan Pembaca Awam?
Kita tidak perlu menguasai semua ilmu itu, tetapi bisa meniru sikapnya. Sebelum membagikan "hadis" yang viral, tanyakan tiga hal:
Apa sumbernya? Di kitab apa, dengan nomor berapa?
Apakah isinya terdengar sejalan dengan nilai pokok Al-Quran, seperti keadilan, kasih sayang, dan menjauhi kezaliman?
Apa kata ulama atau lembaga yang kompeten tentang riwayat ini?
Bila tidak ada jawaban yang jelas, lebih aman menahan diri daripada ikut menyebarkan.
Penutup
Kritik matan bukan upaya meragukan agama. Ia adalah cara ulama menjaga agar apa yang disandarkan kepada Nabi benar-benar terjaga. Di era media sosial, semangat itu terasa makin penting: teliti sebelum percaya, dan teliti sebelum menyebarkan.
Rujukan yang bisa dibaca lebih lanjut
Salahuddin al-Idlibi, Manhaj Naqd al-Matn 'inda 'Ulama' al-Hadits an-Nabawi, kajian khusus metode kritik matan.
Ibnu Qutaibah, Ta'wil Mukhtalaf al-Hadits, tentang hadis-hadis yang tampak bertentangan.
Ibnul Qayyim al-Jauziyah, Al-Manar al-Munif fi ash-Shahih wa adh-Dha'if, tentang ciri-ciri hadis sahih dan lemah.
M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Bulan Bintang), rujukan berbahasa Indonesia tentang kritik sanad dan matan.
