Sky and People of Maumere, Jejak Astronomi di Sikka

Dosen Pendidikan Fisika IKIP Muhammadiyah Maumere, saat ini sedang menekuni penelitian dalam bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)
Konten dari Pengguna
12 Agustus 2022 20:27
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Adi Jufriansah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Astronomi adalah ilmu pengetahuan tertua dengan berbagai rahasia di alam semesta. Astronomi memegang posisi istimewa dalam peradaban manusia. Saat ini manusia telah memanfaatkan keteraturan gerak benda langit dalam menentukan penanggalan, waktu terbaik untuk berlayar, dan waktu terbaik untuk menanam.
Anak-anak Tidung Bajo bermain di pantai Nangahale Kabupaten Sikka. sumber: foto pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak Tidung Bajo bermain di pantai Nangahale Kabupaten Sikka. sumber: foto pribadi
Kabupaten Sikka memiliki lima suku asli, yaitu: Suku Tidung Bajo, Suku Sikka-Krowe, Suku Tana Ai, Lio dan Suku Palue. Tiap suku memiliki sejarah perkembanganya masing-masing terkait asal usul, kebudayaan, agama, dan ilmu pengetahuan berbasis kearifan lokal. Dari kelima suku tersebut Suku Tidung Bajo, Suku Lio dan Suku Sikka-Krowe memiliki kemiripan dalam memahami kebudayaan melaut karena dipengaruhi letak geografis wilayah yang dekat dengan pesisir laut.
ADVERTISEMENT
Suku tidung bajo merupakan peranakan dari suku bajo daratan Sulawesi menempati daratan Wuring pada tahun 1950-an. Suku ini memiliki keterikatan dengan laut, sehingga memiliki kemampuan ilmu navigasi kelautan secara turun temurun menggunakan bintang sebagai panduan arah dan posisi di tengah laut.
Selain itu, suku Tidung Bajo juga memiliki perhitungan adat tersendiri yang didasari dari pengalaman dan kemampuan membaca alam. Terdapat musim tertentu yang menjadi waktu terbaik untuk memancing dan waktu untuk istirahat akibat cuaca yang buruk. Musim ini biasanya dikenal dengan musim angin timur dan musim angin barat. Mereka juga bisa menentukan dengan tepat kapan hari itu akan menjadi bulan purnama dan bulan baru.
Persiapan nelayan sebelum melaut. sumber: foto pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Persiapan nelayan sebelum melaut. sumber: foto pribadi
Suku ke dua adalah Suku Sikka-Krowe yang merupakan salah satu suku terbesar dan memiliki silsilah kerajaan tersendiri. Cikal bakal Kabupaten Sikka berasal dari kerajaan Sikka yang terletak di tengah-tengah Kabupaten Sikka. Menurut tetua adat (hasil wawancara), suku Sikka-Krowe terbagi menjadi dua, yakni daerah pesisir dan daerah gunung. Masing-masing terbagi dalam mengolah hasil alam. Masyarakat pesisir kebanyakan berprofesi sebagai nelayan untuk mencari ikan, sedangkan masyarakat gunung berprofesi sebagai petani.
ADVERTISEMENT
Sama halnya dengan suku Tidung Bajo, suku Sikka-Krowe bagian pesisir juga menggunakan bintang penanda untuk arah yang akan dituju. Namun dalam beberapa hal, suku Sikka-Krowe memiliki perhitungan sendiri terkait waktu pergantian bulan. Beberapa tetua adat Sikka-Krowe mampu membaca bulan dan menentukan waktu bulan baru. Hingga saat ini dalam proses penentuan pergantian bulan, masyarakat Sikka-Krowe masih menghitung dan mengamati sendiri dari pada menggunakan penanggalan kalender yang telah ada.
Suku ketiga adalah Suku Lio. Hingga saat ini Suku Lio telah menjadi salah satu suku asli di Kabupaten Sikka dan berada pada perbatasan Kabupaten Sikka dan Kabupaten Ende. Sebagian besar warga suku Lio di pesisir pantai Paga perbatasan Kabupaten Sikka dan Kabupaten Ende berprofesi sebagai nelayan. Suku ini juga menerapkan pemahaman mengenai bintang sebagai arah penunjuk jalan. Menurut tetua adat Suku Lio, perjalanan laut malam mereka biasanya menggunakan bintang yang berbentuk seperti kalung salib (dalam keagamaan katolik) sebagai acuan mengenai posisi mereka dan arah tujuan selanjutnya.
Langit Malam di Waipare, Kabupaten SIkka. sumber: foto pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Langit Malam di Waipare, Kabupaten SIkka. sumber: foto pribadi
Pada dasarnya kemampuan Suku Tidung Bajo, Suku Sikka-Krowe dan Suku Lio merupakan ke-khasan pengetahuan yang hingga saat ini masih diwariskan secara turun temurun pada anak-anak mereka. Pengetahuan tersebut tidak diterima melalui bangku sekolah, melainkan dengan proses belajar langsung dengan ikut turun ke laut.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020