Konten dari Pengguna

Menonton Hilmansyah, Mengingat Ansar Abdullah dan Serunya Laga PSM di Radio

Sapriadi Pallawalino

Sapriadi Pallawalinoverified-green

Founder kabarwajo.id & SulbarKini (part of AMSI Sulbar) // Born at Anabanua, Wajo.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sapriadi Pallawalino tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kiper utama PSM Makassar, Hilmansyah, pada Piala Menpora 2021. Foto: Instagram/@hilman_syah97
zoom-in-whitePerbesar
Kiper utama PSM Makassar, Hilmansyah, pada Piala Menpora 2021. Foto: Instagram/@hilman_syah97

Laga PSM Makassar versus PSIS Semarang di babak perempat final Piala Menpora 2021 berakhir imbang di 2x45 menit laga normal. Meski berakhir tanpa gol, laga dua tim eks Perserikatan yang digelar di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jumat (9/4/2021), malam ini sebenarnya berjalan ketat.

PSM bahkan sempat mencatatkan beberapa peluang yang bisa saja menjadi gol andai kiper PSIS Semarang, Jandia Eka Putra, tak bermain gemilang. Beberapa kali eks kiper Semen Padang itu berhasil menggagalkan peluang gol Pasukan Ramang di waktu normal. Laga kemudian langsung dilanjutkan dengan adu penalti mengingat peraturan pertandingan yang meniadakan babak extra time.

Di babak adu penalti ini, giliran kiper muda PSM Makassar, Hilmansyah, unjuk aksi dan menjadi pahlawan kemenangan tim berjuluk Juku Eja itu. Kiper kelahiran Jeneponto tersebut sukses membaca arah bola dan memblok tendangan dua pemain PSIS Semarang, Pratama Arhan dan Hari Yulianto.

Kesuksesan Hilmansyah menggagalkan dua penendang penalti PSIS tentu saja mengangkat moral skuat PSM. Empat penendang penalti PSM, masing-masing Rasyid Bakri, Hasim Kipuw, Abdul Rahman dengan penalti ala Panenka, dan Sutanto Tan sukses menjalankan tugasnya sebagai eksekutor penalti sekaligus memastikan kemenangan PSM 4-2 dan berhak melaju ke semifinal.

instagram embed

Nama Hilmansyah pun dielu-elukan sebagai pahlawan kemenangan PSM. Di usianya yang masih 23 tahun, kiper bertinggi 1,83 meter ini sukses membayar kepercayaan pelatih Syamsuddin Battola yang memberinya kepercayaan sebagai kiper utama.

Sejatinya, kegemilangan Hilmansyah dalam mengawal gawang PSM Makassar bukan kali ini saja. Sebelum menjadi kiper utama tim kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat di ajang Piala Menpora 2021, Hilmansyah sudah menunjukkan potensinya sebagai kiper masa depan PSM saat menjadi pelapis dua kiper utama sebelumnya, Deny Marcel dan Rivki Mokodompit.

Melihat kegemilangan Hilmansyah yang tenang dan cekatan dalam mengawal gawang PSM, mengingatkan saya pada satu nama kiper legendaris yang dimiliki PSM, Andi Ansar Abdullah, dan tentu saja, bernostalgia serunya mendengar live pertandingan sepak bola lewat radio.

Sebagai seorang bocah yang tumbuh dan besar di Kabupaten Wajo, Sulsel (berjarak sekitar 224 kilometer dari Makassar) di awal 1990-an, nama Ansar Abdullah sangat identik dengan PSM Makassar. Hampir di setiap pertandingan kandang PSM yang saat itu hanya bisa didengar dari siaran radio melalui RRI, nama Ansar Abdullah selalu menghiasi line up PSM.

Selain Ansar Abdullah, ada nama-nama lokal familiar lainnya seperti Syamsuddin Battola yang kini menjadi pelatih PSM, Bahar Muharram yang merupakan ayah kandung pemain muda Asnawi Mangkualam, kapten PSM saat itu Ansar Razak, Yusrifar Djafar, Ali Baba, hingga sejumlah nama asing yang pernah memperkuat PSM macam Luciano Leandro dan Carlos de Mello.

Terbayang kan rasanya menikmati pertandingan sepak bola melalui siaran radio? Ya, hanya bisa menerka-nerka, menerawang, berimajinasi ketika komentator RRI Makassar saat itu, Bung Bosco, melaporkan jalannya pertandingan dengan suara khasnya.

Kita hanya bisa ikut menggerutu saat Bung Bosco berujar "Kandas lagi serangan PSM." Turut deg-degan saat ia mengatakan "satu peluang Mastrans Bandung Raya berhasil digagalkan Ansar Abdullah." "pelanggaran Syamsuddin Battola di dekat kotak penalti", hingga ikut larut kegembiraan saat Bung Bosco berteriak "Gol untuk PSM saudara-saudara di menit ke-27".

Rivki Mokodompit, Hilmansyah, dan Ansar Abdullah. Foto: Instagram/@andiansarabdullah

Tahun 2001, saat duduk di bangku SMP, saya sebenarnya mempunyai kesempatan untuk menonton langsung pertandingan PSM untuk pertama kalinya di Stadion Mattoanging. Kala itu, PSM yang menjadi juara Liga Indonesia musim 1999/2000 tampil mengesankan di ajang Liga Champions Asia.

Selain berhasil lolos 8 besar Liga Champions Asia 2001, Stadion Mattoanging saat itu juga dipercayakan menjadi tuan rumah dengan format grup. PSM berada satu grup dengan tim-tim kuat Asia, seperti Jubilo Iwata dari Jepang, Shandong Luneng dari China, dan Samsung Suwon Bluewings dari Korea Selatan.

Saat bersamaan, saya yang mewakili sekolah tengah mengikuti lomba Geografi dan Peta Buta yang dilaksanakan di kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Usai lomba dan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, saya pun minta izin ke guru pendamping untuk menonton langsung pertandingan PSM.

Sialnya, kami tidak dapat tiket pertandingan saat itu meskipun sudah berkeliling ke beberapa tempat penjualan tiket. Salah seorang mahasiswa sekampung saya saat itu kemudian berujar, "Tentu saja tidak kebagian tiket. Di pertandingan biasa saja tiket PSM cepat habis laku terjual, apalagi sekelas Liga Champions Asia."

Benar saja, penonton ketika itu membludak bahkan hingga ke lintasan tepi lapangan (sentel ban). Dengan rasa kecewa, kami lalu bergegas pulang ke rumah keluarga yang ditempati menginap. Sebagai pabbura kecele (penawar rasa kecele), sang pemilik rumah pun menyodorkan radionya untuk mengikuti jalannya pertandingan.

Barulah saat kuliah dan bekerja di Makassar beberapa tahun kemudian, saya beberapa kali berkesempatan menonton langsung pertandingan PSM, mengikuti saat latihan di lapangan Karebosi, bahkan ngobrol dan foto bersama pemain.

Balik lagi ke sosok Ansar Abdullah, rasanya tak salah jika dia kemudian dinobatkan sebagai kiper legendaris PSM. Ansar Abdullah terbilang cukup lama memperkuat PSM Makassar, yaitu selama 14 tahun atau dari rentang 1987 sampai 2003.

Dia tercatat dua kali mengantarkan PSM sebagai juara, yakni pada Perserikatan 1992 dan Liga Indonesia musim 1999-2000. Ansar Abdullah juga sukses membawa PSM di posisi runner up Liga Indonesia pada musim 1993-1994, 1995-1996, dan 2001, serta bagian dari skuat PSM menembus 8 besar Liga Champions Asia 2000-2001, meskipun tak pernah mendapatkan kesempatan membela Timnas Indonesia.

instagram embed

Di lain kesempatan, Ansar Abdullah menceritakan bahwa dirinya mulai memperkuat PSM pada tahun 1987. Saat itu, dia masih berumur 18 tahun dan masih duduk di bangku kelas 3 SMA di Makassar.

Ia kala itu tak serta-merta menjadi seorang kiper. Ansar Abdullah mengaku awalnya berposisi sebagai bek kanan dan hanya menjadi pemain cadangan ketika masih bermain di kompetisi internal PSM. Namun kiper utama klubnya saat itu sakit, dan Ansar Abdullah lalu diberi kesempatan bermain sebagai kiper dan bermain baik hingga kemudian berhasil menembus skuat utama PSM.

Hal sama dialami Hilmansyah. Meski sempat menjadi kiper saat memperkuat klub kota kelahirannya, Persijo Jeneponto, Hilman juga pernah mencoba bermain sebagai gelandang saat awal bergabung di SSB Hasanuddin.

Sama halnya Ansar Abdullah, jalan takdir kemudian menuntun Hilman menjadi penjaga gawang. Saat melakoni laga perdana bersama SSB Hasanuddin, tak ada kiper saat itu sehingga oleh pelatih, Hilman diplot sebagai kiper yang kemudian mengantarkannya bergabung dengan klub kebanggaannya, PSM Makassar, di tahun 2017.

Jadi, mungkinkah Hilmansyah bisa mengikuti jejak kiper legendaris PSM Ansar Abdullah dan mengembalikan kejayaan tim Juku Eja? Biar waktu yang akan menjawabnya.

Ewako PSM!