Konten dari Pengguna

Dukung Siapapun Boleh, Tapi Mbok Hargai Akalmu

Adib Abadi

Adib Abadi

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adib Abadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dukung Siapapun Boleh, Tapi Mbok Hargai Akalmu
zoom-in-whitePerbesar

ilustrasi dari https://ru.kisspng.com

Orang kaya makan orang miskin, orang miskin makan sesamanya, begitulah ujar Made Supriyatma. Suatu hal ironis tapi benar-benar hidup di masyarakat kita, apalagi menjelang pilpres begini. Fenomena makan-memakan ini agaknya dimulai dengan mengubur akal sehat.

Tidak perlu predikat 'cerdas' untuk bisa berpendapat. Semua orang, yang ke-enam indranya berfungsi, pasti bisa punya pendapat. Anak saya yang baru lulus TK lancar sekali mengungkapkan pendapatnya. Diranah publik, menyuarakan pendapat adalah hak yang dilindungi undang-undang.

Pendapat bisa diperoleh hanya dengan modal menyusun pengalaman-pengalaman. Sumber pendapat ini bisa muncul dari mana saja. Salah satunya kita bisa menggalinya dengan menanyakan: Apa, Mengapa dan Bagaimana. Maka lahirlah pendapat. Atau jika caranya dibuat secara terstruktur maka hasilnya disebut hasil survei. Sesederhana itu.

Di temlen belakangan muncul orang yang mengakui kecerdasan orang lain jika orang itu mengakui hasil survei-nya. Menurut survei nganu, hanya orang cerdas yang memilih si A. Menurut survei twetter, Si B mengungguli Si A. Hanya orang-orang yang imannya lurus, benar, dan enggak mlunggker-mlungker yang memilih capres ini,.. Lah ini apa lagi? Hal pekok yang dilakukan orang yang baru bisa kentut belagak memberi pernyataan ilmiah padahal menyesatkan.

Semestinya hasil Survei bisa menjadi bahan diskusi dan mengundang beragam pendapat bahkan perdebatan serius-- yang kecenderunagannya bisa bernilai positif atau negatif, menyenangkan atau menyedihkan, optimis atau pesimis. Suatu hal yang seharusnya menjadi wilayah adiluhung. Sebuah cara yang melahirkan hipotesa, tesis atau antitesis dan atau teori-teori kritis yang bisa menjadi modal kemajuan. Sebuah cara ilmiah yang biasa digunakan oleh para ahli dalam berbagai bidang pengetahuan untuk merumuskan masalah dan mencari solusi.

Ada beberapa hal yang menurut saya sangat merugika dari tindakan ini.

Pertama, sikap menyenangkan diri sendiri dengan cara membohongi diri atau orang lain adalah cara bodoh dan menghianati fitrah manusia sebagai mahluk yang berpikir. Kedua, menjauhkan publik dari masalah sebenarnya adalah kegoblokan turunannya. Masihkah kita mau menggunakan cara nista seperti ini?

Bagaimanapun, survei itu sekedar prediksi, yang belum terjadi-- maka hal itu belum terjadi. Dan acapkali yang terjadi tidak seperti yang terlihat. Apalagi itu survei cuma akal-akalan. Survei bodong. Masih percaya yang begituan? Masih ingat survei beberapa tivi yang mengukuhkan PS sebagai pemenang pilpres 2014? Ayolah kawan, sehebat apapun jagoanmu, kalau tidak bisa menyelesaikan persoalan, sejarah akan tetap mencatat mereka sebagai pecundang!

Dukung siapapun boleh, tapi mbok ya hargai akalmu.....