Enaknya Menjadi Nasabah Prioritas

Tulisan dari Adib Abadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pagi ini saya hadir ke kantor salah satu Cabang bank BUMN untuk menyetor giro. Setibanya disana, saya langsung mengambil nomor antrean. Ada sekitar 7 orang di depan antrean saya.
Saya duduk di kursi yang berjajar di depan kasir, basa-basi, saya membuka obrolan dengan seseorang yang lebih dulu duduk di situ.
"Nomor antrian berapa, ms?" dia menujukan nomor antriannya, sebagai gantinya saya pun menunjukan nomor antrian saya.
Disaat itulah muncul ibu-ibu berkacamata yang tiba-tiba nyelonong menuju teller yang sedang melayani seseorang sesuai nomor antre. Sontak obrolan yang sudah saya buka terhenti, mata kami memandang tajam punggung ibu yang berkacamata itu, sambil menerka secantik apakah wajahnya.
Saya kira orang yang duduk di sebelah saya itu bukanlah penggosip, sama seperti saya, dan saya yakin dia sama menahan geram. Sejenis kegeraman yang masih mungkin saya kontrol. Kami berdua diam, saya kira ibu berkacamata itu sudah merusak mood kami..... Yah, saya pikir lebih baik saya ngobrol dengan diri sendiri.
Setelah kurang lebih 10 menit, muncul lagi seorang lelaki setengah baya yang bertubuh gempal serta bercelana pendek yang langsung menuju teller, pria di sebelah saya menggelengkan kepalanya, tanpa ekspresi, dengan tatapan mata yang mencoba menahan kegeramannya agar tidak bertambah.
Saya yakin dia sama seperti saya. Ingin protes. Tapi, nyatanya kami berdua hanya saling diam-diaman. Tak ada inisiatif untuk bersekongkol untuk menyampaikan protes.
Lelaki gempal bercelana pendek itu setelah menyerahkan buku tabunganya pada teller lantas menyapa ibu berkacamata. Ternyata mereka saling kenal. Pikir saya. Setelahnya ia memilih tempat duduk dengan para karyawan Bank tersebut, mungkin untuk menghidari tatapan kami para pengantre yang sudah mulai memandangnya dengan sorot mata muak.
Setengah jam berlalu. Pengantre semakin banyak saja. Ibu penyerobot antrian yang berkacamata itu selesai urusanya. Senyum-senyum sendiri, dengan segepok uang yang dimasukannya dalam tas kresek berwarna hitam. Sejenis senyum kemenangan yang ditunjukannya pada mata para pengantre..... Dia melangkah keluar dengan bangga sekali.
Setelah perempuan berkacamata itu pergi. Tidak ada panggilan nomor antrean. Tiba-tiba pria bercelana pendek bertubuh gemopal itu langsung menuju teller.
Ada seorang bertopi yang kelihatanya sudah berumur 50 tahunan senyum-senyum pada pria disebelahku. Kelihatanya dia bisa membaca gerak-gerik kami yang sedang bekerja keras menahan geram.
"Dia tetanggaku, dia juragan pelet (pakan ikan)" Katanya, bermaksud menunjukan identitas pria gempal bercelana pendek yang menyerobot antrian.
"Kalau aku sudah protes, bukankah sekarang giliran sampeyan?" Pria bertopi ini memanas-manasi. Kemudian pria bertopi ini ngomong banyak soal kebiasaanya yang doyan protes. Aku senyum-senyum saja, basa-basi. Orang di sebelahku cuek bebek mendengar ocehan pria bertopi itu.
Suara lelaki betopi itu keras sekali. Saya membayangkan dia ini mirip seperti Sri Bintang Pamungkas waktu dia orasi,... Saya kira semua orang mendengarnya, walau keliahatanya semua orang yang berada disitu malas menggubris. Hingga suaranya kemudian di dengar oleh seorang karyawan bank yang duduk di depan komputer yang agak jauh posisinya.
"Dia nasabah prioritas, Bapak"
Suara karyawan perempuan itu sontak menghentikan ocehan pria bertopi itu. Setidaknya pria bertopi itu kini memelankan suaranya. Sambil seolah berbisik. Dan mungkin karena respon orang-orang tak seperti apa yang diharapkannya.
"Jadilah orang kaya biar di prioritaskan" Kata-katanya itu entah ditunjukan pada siapa. Saya kemudian mengangkat kedua tangan saya. Tanpa berkata-kata, sedikit memiringkan kepala. memberi tanda padanya. Seolah saya berkata padanya: Apa boleh buat? Kemudian pria bertopi ini meninggalkan ruangan itu, sepertinya pria bertopi ini menggerutu, dan mungkin pria bertopi ini menyadari nomor antreanya yang masih cukup lama.
Apa boleh buat?
Setengah jam kemudian terdengar suara mesin penghitung uang memecah keheningan. Beberapa saat para pengantre menatap dingin pria bercelana pendek itu yang membawa pergi kantong kresek hitam berisi uang.
Setelah satu jam lamanya. Nomor antrean kembali di bacakan.
"Nomor antrean sembilan" Pria di sebalah sayapun berdiri dan menuju meja teller. Saya melihat kembali nomor antrean saya. Setelah ini saya.
Saya pulang dari bank sambil mengingat-ingat kejadian tadi. Dua orang nasabah prioritas saja bisa memakan waktu seitar satu jam. Bagaimana kalau empat, lima, ah, pasti antrean akan butuh waktu lebih lama lagi.
Di atas motor, saya membayangkan pria bertopi yang sedang mengantre, dan siapa pula pria pendiam yang duduk di sebalah saya itu. Dalam perjalanan pulang, saya kemudian lebih memilih mengaminkan ucapan orang bertopi itu.
Jadilah orang kaya biar bisa menjadi nasabah prioritas. Amin, yaa Robbal Alamin......
Walaupun kemudian saya berpikir, jika kelak saya benar-benar ditakdirkan tuhan menjadi orang kaya, saya tidak akan melakukan hal buruk semisal memotong antrean seperti yang dilakukan oleh ibu berkacamata dan pria gempal bercelana pendek itu.
