Konten dari Pengguna

Godaan Era Digital: Marah Wajar, Bully Jangan

Adib Abadi

Adib Abadi

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adib Abadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi blog. (Foto: kaboompics via Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi blog. (Foto: kaboompics via Pixabay)

Beberapa hari yang lalu, teman saya mengunggah screenshoot profil seseorang yang diduga telah mencuri konten blog miliknya. Meski bukan suatu fenomena baru di dunia blogging, postingan facebook itu nyatanya mendapatkan cukup banyak ‘like’, emoticon marah dan beberapa orang tersulut emosinya: ayoo kita bully si pencuri!

Apa? Mem-bully? Tunggu-tunggu. Mencuri konten boleh jadi perbuatan tak elok, tapi bukan berarti otomatis melegalkan perlakuan bullying pada pelaku. Masih banyak jalan lain sebagai teguran yang bisa dilakukan. Copas konten artikel blog adalah tindakan tidak bertanggungjawab yang didorong oleh semangat kebutuhan akan pencapaian (need to achieve), semacam tindakan terburu-buru. Godaan 'micro selebriti' di era digital - marah wajar, bully! jangan.

Bukan bermaksud membuat pembenaran pada laku plagiat. Seorang penulis besar Pracis Jean Paul Sartre pun pernah membongkar kegelisahan hatinya dalam bukunya yang berjudul "Les Most" bahwa tulisan pertamanya yang berjudul "Pour un Papilon" adalah jiplakannya dari sebuah cerita bergambar milik orang lain.

Jika bicara soal laku plagiat konten yang terjadi pada teman facebook saya itu tak bisa diperbadingkan dengan ulah ribuan guru yang melakukan plagiarisme pada karya tulis demi mendapatkan tunjangan profesi, misalnya. Imbasnya tak bisa disamakan dengan calon maha guru yang melakukan plagiasi yang secara logika seharusnya menjunjung tinggi dan menjadi contoh etika akademik, bukan?

***

Seperti dinyatakan Andy Warhol, bahwa di masa depan setiap orang akan populer mendunia untuk waktu lima belas menit. Kultur modern dan teknologi sebagai alat memungkinkan siapapun untuk menjadi selebriti. Media mendemokratisasikan sesorang untuk menjadi selebriti dan memungkinkan orang-orang berbakat menjadi terkenal.

Menarik untuk dikaji proses labelling selebriti yang disandang seseorang dalam fenomena media sosial sekarang ini. Dalam sejarahnya, lebel pahlawan lebih dahulu disematkan sebelum selebriti sebagai sosok yang dipuji masyarakat. Seluruh tipe pahlawan memiliki kualitas yang menempatkan mereka terpisah dari orang awam. Hal ini jugalah yang bisa jadi melatar belakangi seseorang untuk melakukan tindakan ilegal di internet.

Internet menghubungkan orang dan informasi. di sisi lain, internet ibarat pasar, internet sekarang ini tak bisa lepas dari hukum penawaran-permintaan. Hal ini menguatkan relasi konten atau informasi yang termanifestasi dalam bentuk posting. Mesin pencari mengakomodir penawaran dan permintaan yang dikonversikan dalam konten.

Internet memungkinkan siapapun untuk menyediakan konten yang memungkinkan seseorang menjadi terkenal dan atau menjadi mikro selebriti. Oleh sebab itulah jebakan internet sesungguhnya. Orang-orang melupakan bahwa semua 'prestasi' itu adalah buah dari latihan yang tak sebentar.

Ada tiga hal yang kemudian hukum penawaran-permintaan menjadi menarik-- Pertama, internet memudahkan siapapun untuk mengakses konten-konten dengan mudah yang tadinya hanya ada di media masa dan buku-buku. Kedua, internet memberi peluang seluas-luasnya pada siapapun untuk ikut aktif membuat konten. Ketiga, dan ini masalahnya, internet memberi ruang ‘pertarungan’ terbuka antar konten, konten siapakah yang akan menduduki urutan pertama google, ini tak bisa di lepaskan dari kemahiran dalam menulis, SEO, kata kunci, dlst.

Kemudahan teknologi komunikasi pada pemanfaatanya mempermudah deseminasi informasi, termasuk konten dan popularitas. Menjadikannya sarana publisitas dan iklan. Membuat orang lupa dan enggan melalui proses. Kalau bisa instan kenapa harus repot-repot? Di sini poin penting yang harusnya kita permasalahkan. Bagaimana membangun konsep digital literasi yang mendorong setiap pengguna internet untuk mau berproses secara baik. Karena itu pulalah literasi digital menjadi sangat penting. Dengan banyak berlatih disertai dengan banyak melakukan riset dan latihan, akan mengalirkan ide-ide yang akan dituangkanya dalam sebuah tulisan. Tulisan akan menjadi kaya dan berdampak

Pada kenyataanya, digital teknologi sebagi media baru hanyalah menyediakan outlet dalam eksploitasi selebriti. Bukankah dalam relasi selebriti dan internet, gejala selebrifikasi akan makin masif melalui media modern? Internet menciptakan mode baru komunikasi manusia dalam mendorongnya untuk menciptakan konten informatif dan promosional. Dalam facebook relasi antara penggemar dan selebriti ditunjukan melalui basis penggemar dengan interaktivitas, komentar serta tombol ‘like’. Dalam twetter, relasi ini secara kuantitatif ditunjukan melalui jumlah follower. Inilah penggoda yang sesungguhnya.

Sekarang ini, dunia digital khususnya media sosial memampukan seseorang yang populer dan non populer untuk meningkatkan kuantitas media personal, melalui manipulasi dan distribusi konten secara luas, termasuk meraih audiensnya sendiri, baik nyata maupun imajinasi.

Apa yang diharapkan dari mengambil tulisan orang lain? Pada umumnya, pencurian semacam ini didasari keinginan dari seseorang untuk meraih rekognisi, atau gampangnya, ingin menjadi terkenal, mendapatkan label (mikro) selebriti.

Ingin terkenal adalah hal yang wajar dan manusiawi, dampak dari dorongan kebutuhan generasi jaman now; like dan follower! Tapi dorongan keterkenalan yang diperoleh dengan cara ilegal tentu cukup beresiko di tengah masyarakat masih tak segan-segan melakukan praktek main hakim sendiri di ranah internet. Memang adakalanya praktek pencurian konten pada titik tertentu bisa jadi memupus semangat seseorang untuk melanjutkan kreatifitasnya. "Ngapain nulis capek-capek kalau toh cuma akan dicuri?" tapi menurut saya suatu sikap terlau berlebihan.

Pilihan sikap tersebut paling buruk berimbas pada diri sendiri, yang artinya juga adalah sebagai ujian seseorang yang mencintai dunia penulisan konten. Karena sejatinya menjadi penulis ibarat jalan pedang yang perlu dilewati dengan berdarah-darah. Bukankah siapapun bisa mengambil tulisan kita, tapi tidak kepala kita, bukan? Selama kepala kita masih ada, masih ada banyak kesempatan bagi kita untuk terus berkarya dan menulis.

Di lain sisi, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan tak terkecuali melakukanya di media internet. Sejurus dengan itu internet bisa menghabisi siapa saja tanpa ampun. Jejak digital bisa ditelusuri. Memulai berinternet dengan cara yang baik dan mematuhi disclaimer adalah syarat awal sebagai upaya memulai membenahi diri. Dunia digital tak ubahnya dunia nyata, menjaga rasa malu dan menjaga tabiat baik menjadi PR maha besar bagi para penggunanya meski godan itu akan selalu ada -- dalam bentuk yang berbeda.

Tidak pernah benar-benar berubah apa-apa yang ada di bawah kolong langit. Dibutuhkan kerja keras agar bisa menjadi baik dan terkenal. Tak ada gunanya keterkenalan tanpa dilandasi kebaikan. Membagi kebaikan yang diperoleh dari mencuri tak ubahnya seperti berwudhu dengan air kencing, bukan? Buat apa. Begitupun sebaliknya, kebiasaan melakukan tindakan bullying justru akan membuat keadaban dan peradaban kita tak bisa melangkah maju.

Limpahan kemudahan yang disajikan oleh teknologi memang pantas disyukuri. Memungkinkan siapapun untuk sekedar membikin drama di sosial media, pamer, (main drama) jadi orang sempurna atau jadi bahan bully dan lain-lain. Tapi apakah betul demikian yang benar-benar kita inginkan? Saya rasa tidak.

Merayakan kemajuan teknologi di sisi lain mengulik sisi terdalam dari diri kita. Lagi-lagi menjadi terkenal ataupun tidak bukanlah tujuan ideal dari menulis. Keterkenalan hanya bonus dari kerja keras, kesabaran, ketekunan dan integritas yang di dasari rasa iklas serta kesetiaan tiada tara dalam menjalani proses. Kadang dalam menghadapi masalah seperti plagiasi ini yang diperlukan adalah menjadi baik, daripada menjadi benar.

Menjadi pintar memang suatu keharusan. Tapi seringkali dalam mengolah satu masalah kita lebih memerlukan hati yang sabar, mendengarkan dengan baik, untuk mau memahami. Marah itu wajar, bully! Jangan.

*Adib Belaria Abadi, Gusdurian, tinggal di Musi Rawas, Sumatera Selatan.