Ironi Bangsa dalam Mohenjo Daro

Tulisan dari Adib Abadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Minggu malam saya menonton film India yang berjudul Mohenjo Daro. Sebuah film yang menceritakan asal mula nama sungai Gangga. Temanya sederhana saja: pemerintahan yang memungut pajak dengan semena-mena, sehingga rakyat berontak, Sarman (Hrithik Roshan) pemuda miskin memimpin gerakan rakyat dan penguasa zalim ahirnya berhasil digulingkan.
Seperti biasa, penonton juga dimanjakan musik juga tari dengan ahir cerita bahagia. Dimana Sang Raja baru, Sarman yang mendapatkan hati dan cinta Chaani yang diperankan oleh Pooja Hegde-- cinta pada pandangan pertama, khas film India.
........Sarman, seorang petani miskin, tiba di Mohenjo Daro, sebuah kota yang diperintah oleh pemimpin kejam, Maham. Ia pun berencana untuk membalas dendam keluarganya dan menghancurkan Maham......
Rakyat memberontak karena pajak, bukanlah tema baru dalam sebuah cerita film. Banyak pemerintahan klasik terjungkal karena memungut pajak terlalu tinggi yang menyengsarakan rakyat.
Di era demokrasi ini, pemerintahan manapun menghindari istilah pajak tinggi. Pajak Bumi dan Bangunan saya sendiri cuma 50 ribuan setahun, murah sekali. Tapi pajak (yang memberatkan) rakyat tidak dan bukan hilang, mereka melekat pada barang-barang yang kita konsumsi. Dengan dalih yang sama tuanya: semuanya demi kemajuan bangsa dan negara. Pajak, tetaplah ditagih dengan semena-mena.
Akan tetapi, model pemerintahan modern 'berhasil' menutup lubang kegagalan kepemimpinan model klasik. Tak bisa lagi rakyat di era milenial ini melakukan peberontakan seperti jaman dimana para bandit menjadi penguasa. Lagipula, disini, tak ada Sarman atau Chaani yang cantik dan idealis, ataupun sungai Gangga sebagai dalih melawan kesewang-wenangan.
Pemerintahan sekarang seperti yang dikatakan Karl Mark dalam dikotomi 'kapitalisme dan proletariat'. Sebuah sistem jahat tapi tak terlihat. Muslihat agar orang miskin (proletariat) tak berani melawan orang kaya (kapitalis)-- dimana sistem ini-- selalu saja membantu orang kaya mempertahkankan posisinya. Lebih parahnya lagi, para kapitalis yang berebut kuasa, orang miskinlah yang dijadikan dalih dan diadu secara terbuka-- yang jaman sekarang ini sebagiannya di kendalikan oleh akun anonim bahkan robot.
Iya. Robot! yang bisa berupa love atau like. Ditambah sentimen, kebencian, fanatisme kelompok, golongan, atau agama-- dan kecenderungan kita mengikuti mana yang banyak jempol. Menjadi modal melawan orang yang berbeda, menjadi alat kaum kapitalis untuk mengadu semut-semut kecil yang berbaris di dinding demi kuntungan sendiri.
Sebuah jaman dimana sudah seharusnya publik belajar soal arti pertumbuhan, pendapatan dan kemiskinan. Di adu sedemikian rupa. Kapitalisme justru memanfaatkan sentimen itu untuk melupakan masalah yang sesungguhnya. Menjebak kita dalam pertarungan robot. Alat para elit politik yang membuat publik berkelahi dan menjauhkannya sejauh-jauhnya dari persoalan hidup yang sesungguhnya.
Memang sudah tak ada lagi pungutan pajak ini-itu seperti terlihat dari gambaran pada film Mohenjo Daro. Tapi pajak yang memberatkan ini menyaru dalam bentuk harga BBM, Listrik, Sembako, Perumahan, BPJS, sampai rokok kretek yang saban hari saya hisap nilai pajaknya tertera jelas dibungkusnya.
Sila hitung berapa pajak sebenarnya yang kita berikan pada pemerintah. Sila prosentasekan dengan jumlah pendapatan bulanan masing-masing. Bandingkan dengan pemerintahan klasik yang berhasil terjungkal dengan kesewenangan yang sama. Kita hidup di jaman dimana banyak orang mendapatkan gaji lebih rendah dari budak.
Dengan melihat seremonial pembukaan Asian Games yang membahana itu kita bisa melihat. Ada ironi di sana. Betapa segala sesuatunya bisa dipoles sedemikian rupa sehingga kita bisa terhibur seperti melihat lenggak-lenggok Chaani. Yang sejatinya semua itu menyimpan pertanyaan sunyi bahwa-- jika kau miskin itu hanyalah nasib naas-mu yang tak ada kaitanya dengan negara.
