Konten dari Pengguna

Soal yang berat, sangat berat dan yang mudah

Adib Abadi

Adib Abadi

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adib Abadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Yang berat itu konsisten. Yang sangat berat itu menyingkirkan perasaan bahwa ‘saya’ lebih baik dari mereka yang belum konsisten, dan yang mudah adalah berkometar”

Polemik cadar sudah mengundang perdebatan di kalangan warganet. Larangan penggunaan cadar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, yang disebut 'untuk mencegah radikalisme dan fundamentalisme' yang kemudian direspon sebagi sesuatu yang - jangan-jangan larangan cadar ini hanyalah awal dari bentuk larangan-larangan yang lebih diskriminatif.

Bagi mereka yang selow, pelarangan pemakaian cadar tak ubahnya seperi larangan mengenakan celana jeans saat perkuliahan. Aturan berpakaian biasa yang berlaku di kampus. Bukan bagian dari pembatasan ajaran agama. Sama seperti larangan memakai helm saat ke ATM.

***

Sebagai muslim, menjalankan kewajiban salat, puasa, sodakoh - termasuk (kewajiban) memakai cadar itu berat - diluar konteks perbedaan pendapat soal hukum pemakaiannya. Dan banyak lagi yang berat lainnya. Sabda nabi .....demi Allah, yang mampu mengecap nikmatnya rasa ini hanyalah orang-orang yang khusuk... “Dan pucuk kebahagiaanku dijadikan terletak dalam salat”. (H.R Ahmad).

Konsisten itu berat, my lov? Maka bersyukurlah bagi yang sudah mempunyai kamampuan menjalani yang berat-berat, termasuk didalamnya adalah memakai cadar. Karena tidak semua orang bisa merasa terpanggil dan mampu melakukanya. Disisi lain saya percaya 'krenteke ngati' (baca: panggilan jiwa/hati) itu tidak sekonyong-konyong kehendak kita pribadi. Ada timbal balik. Singkatnya: Allah pun juga ikut berperan menggerakkan hatimu untuk mendekatinya. Kita sebagai manusia hanya bisa berharap agar cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan, bukan?

Dalam khotbah jumat misalnya, kita biasa mendengar khotib menganjurkan untuk selalu berterimakasih karena sudah diberi nikmat iman. Pengertian iman dari bahasa Arab artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan atau perbuatan.

Bagi sebagian orang (laki-laki yang sudah balig), melaksanakan salat jumat itu bisa jadi berat, walaupun ritual itu hanya dilakuan seminggu sekali. Karena kita harus meninggalkan perkara duniawi untuk kemudain melaksanakan salat jumat (uhrawi). Segala urusan duniawi harus stop, termasuk mematikan ponsel saat sudah memasuki masjid. Apakah ketika sudah berada di dalam masjid masalahnya sudah selesai? Belum, bisa jadi, sesampainya dimasjid malah diserang kantuk lalu bablas ngorok. Belum lagi kalau kita bicara soal khusuk. Berat poro rawuh. Kecuali bagi mereka yang sudah diberi nikmat iman tentu saja. Karena itulah mengapa nikmat iman itu patut disyukuri.

Bagi wanita, soal yang berat itu mungkin juga dalam urusan memakai Jilbab atau cadar. Sebab itu juga soal 'krenteke ngati'. Mengamalkan keyakinan. soal membiasakan diri memakai cadar bukan soal mudah. Wah, ini dobel jadinya. Sudah berat, ada yang mau melarang pula. Kalau memang niat(ideal)nya mendekatkan diri dengan sang Halik. Salahnya dimana coba? Kenapa tidak boleh?

Maka itu Tidaklah mengherankan jika kemudian ada yang mengatakan kalau aturan tersebut termasuk diskriminatif. Sebagai umat, bukankah tidak ada hal yang paling membahagiakan didunia ini kecuali saat dipanggil-mendekati kekasih? Dan bukankah tidak ada kekasih yang paling diinginkan oleh umat islam selain bisa lebih dekat dengan sang Halik? Lah kok ada yang mau melarang? Ini gimana coba?

Sederhananya, jika Anda adalah laki-laki yang sudah biasa salat dengan kain sarung dan meyakini hal itu adalah yang terbaik, kemudian anda disuruh salat dengan celana cingkrang yang tidak anda yakini. Bayangkan, apa yang anda rasakan? Perasaan itulah yang sedang dirasakan oleh mereka yang sudah meyakini memakai cadar adalah wajib baginya. Wong yakin kok dilarang?

Dan polemik cadar itu nyatanya sudah menjadi diskusi publik. Diluar dari konteks polemik itu tentu kita semua punya harapan yang sama. Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, bukankah itu adalah doa dan harapan kita semua? Semoga polemik soal cadar ini bisa jadi diskusi keilmuan islam yang menarik dan berbobot, karena konon 'diskusi publik' ini tidak hanya mempertemukan mereka kelompok muslim fundamentalis dan muslim liberal saja tetapi juga mempertemukan mereka kelompok muslim kiri marxis, kelompok tradisional ortodok dan pembela HAM dalam satu kepentingan. Semoga yang muncul ke permukaan dari diskusi 'apik' ini adalah bertambahnya luasan wawasan keislaman yang Rahmatan lil alamin.

Baiknya para ustad atau ulama tidak main klaim tanpa ada tabayun. Artis apalagi politisi baiknya menjauhi ujaran-ujaran yang akan menyulut polemik tak berkesudahan, paling tidak jangan menjadikan masalah ini menjadi ajang cari perhatian. Berhati-hatilah dan bijaksanalah dalam mengeluarkan statmen-statmen apalagi yang hanya akan memperkeruh suasana. Biarkan mereka yang berkompeten berdiskusi. Sebagai masyarakat kita butuh pembelajaran yang baik. Menyelesaikan masalah dengan baik-baik. Tidak perlu bertikai, provokasi apalagi demi menang sendiri tega melempar finah dan hoax. “Na’udzubillah min hadzihil akhlaq” (Kita berlindung kepada Allah dari akhlak seperti ini).

Karena bagaimanapun, hakikat masalah yang sangat berat pada diri-pribadi seorang muslim bukanlah terletak pada yang kasat mata; salat, puasa, sodakoh dan atau mereka muslimah yang sudah terpanggil untuk memakai cadar. Bukankah yang terberat itu adalah bagaimana melepas perasaan merasa-diri lebih baik dari orang lain?

Yah, yang sangat berat adalah menyingkirkan perasaan bahwa diri-ini pasti lebih baik dari yang lain. Merasa lebih baik dari mereka yang belum salat, merasa lebih baik dari mereka yang belum berpuasa, merasa lebih baik dari yang belum ber hijab/bercadar, merasa lebih baik dari yang belum sodakoh, merasa jumawa pada mereka yang di-sodakoh-i? Bukankah kata, "ana khairun minhu" (Aku lebih baik dari dia) pertama kali diucapkan oleh Iblis untuk menunjukkan ketakaburannya? Na’udzubillah min hadzihil akhlaq.

Semoga saja kita termasuk dalam golongan orang-orang yang bisa mengambil hikmahnya. Minimal, salah satu hikmah yang terang benderang tampak di muka kita adalah ketika sekarang melihat banyak orang yang mungkin tadinya tidak tahu dalil soal cadar, kini ikut urun rembug. Yang mungkin tadinya lupa dalilnya sekarang mau membaca lagi dan mau bersusah payah mencari dalil-dalil pembanding. Sebagai bagian dari implementasi "Tholabul 'ilmi faridhotun 'alaa kulli muslimin wal muslimat minal mahdi ilal lahdi" (menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim/muslimah sejak dari ayunan hingga liang lahat) dan semoga Allah akan meninggikan yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Karena jalan menuju kemulian disisi tuhan bukan hanya ada pada sisi pemujaan, tidak kalah penting adalah berbuat kebajikan dan menghindari kejahatan. Karena itulah kanjeng Nabi diutus utamanya adalah untuk memperbaiki ahlak. Wallahualam.

"Halah, situ ngomongin hikmah Dib, emang situ siapa? Ustad bukan Kiai juga Bukan?"

He-he. Bagian saya disini adalah melakukan hal yang mudah dulu; komentar, bukan? Biarlah urusan yang berat dan yang sangat berat saya simpan sendiri dalam-dalam.