Kopi KTH Cibulao, Contoh wisata Berbasis Hutan yang Menghidupi Petani Lokal

Mahasiswa aktif ilmu komunikasi Universitas Pancasila
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari adiba Khanza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kopi KTH (Kelompok Tani Hutan) Cibulao tidak hanya dikenal sebagai tempat menikmati kopi di tengah alam Puncak, Bogor. Lebih dari itu, kawasan ini menjadi contoh bagaimana pengelolaan hutan berbasis masyarakat mampu menciptakan nilai ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Berada di kawasan hutan pinus Perhutani, KTH Cibulao dikelola langsung oleh petani hutan setempat. Mereka mengembangkan kopi sebagai komoditas utama dengan prinsip pengelolaan berkelanjutan, mulai dari penanaman hingga penyajian kepada pengunjung. Konsep ini membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada hasil hutan non-kayu.
Kopi yang disajikan di KTH Cibulao berasal dari hasil panen petani lokal. Proses budidaya dilakukan dengan menjaga keseimbangan ekosistem hutan, sehingga keberadaan tanaman kopi tidak merusak fungsi kawasan. Model ini menjadikan kopi bukan sekadar produk konsumsi, tetapi juga alat pelestarian lingkungan.
Keberadaan wisata kopi turut memberikan dampak sosial bagi warga sekitar. Selain meningkatkan pendapatan petani, aktivitas wisata membuka lapangan kerja, mulai dari pengelolaan saung, pemandu wisata, hingga pengolahan hasil kopi. Pengunjung yang datang tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga mengenal proses panjang di balik secangkir kopi.
Di tengah meningkatnya minat wisata alam dan kesadaran akan isu lingkungan, KTH Cibulao menunjukkan bahwa pengelolaan hutan berbasis komunitas dapat berjalan beriringan dengan pariwisata. Pengalaman ngopi di tengah hutan pun menjadi sarana edukasi tentang pentingnya menjaga alam sekaligus mendukung kesejahteraan petani.
