Konten dari Pengguna

Bukan Sekadar Latar: Ruang Trauma dalam Cerpen Perempuan yang Menunggu Hujan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adiba Nayla Hasna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo Credits by Adiba Nayla Hasna |Featured Book: 10 years that i've loved you by Windy Joana
zoom-in-whitePerbesar
Photo Credits by Adiba Nayla Hasna |Featured Book: 10 years that i've loved you by Windy Joana

Ada tempat-tempat yang tidak pernah benar-benar bisa kita tinggalkan. Bukan karena tempat itu indah, tetapi karena di sanalah kenangan terakhir tertinggal. Begitu pula dengan hujan. Bagi sebagian orang, hujan hanyalah perubahan cuaca. Namun bagi yang pernah kehilangan seseorang di bawahnya, hujan bisa menjadi ruang untuk kembali mengingat, merasakan, bahkan menghidupkan luka yang belum selesai.

Cerpen Perempuan yang Menunggu Hujan karya Rida K. Liamsi sekilas memang tampak seperti kisah cinta yang berakhir tragis. Namun, jika dibaca lebih dalam, kekuatan cerpen ini justru tidak hanya terletak pada jalan ceritanya, melainkan pada cara pengarang membangun latar. Hujan, pelantar rumah, lapangan sepak bola, hingga waktu menjelang magrib bukan sekadar tempat dan suasana yang mengiringi cerita. Semua latar tersebut perlahan berubah menjadi ruang yang menyimpan ingatan tokoh perempuan. Karena itulah, pembaca tidak hanya melihat hujan sebagai latar peristiwa, tetapi sebagai bagian dari trauma yang terus hidup dalam dirinya.

Herman J. Waluyo menjelaskan bahwa "Setting atau landas tumpu menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan." Selain itu, ia juga menegaskan bahwa "Fungsi setting adalah untuk: (1) mempertegas watak pelaku; (2) memberikan tekanan pada tema cerita; (3) memperjelas tema yang disampaikan; (4) metafora bagi situasi psikis pelaku; (5) sebagai pemberi atmosfir (kesan); (6) memperkuat posisi plot." Berdasarkan penjelasan tersebut, latar dalam sebuah karya sastra tidak hanya berfungsi menunjukkan lokasi terjadinya peristiwa, tetapi juga ikut membangun suasana, memperjelas tema, bahkan menjadi cerminan kondisi batin tokohnya.

Hal tersebut terlihat jelas dalam cerpen Perempuan yang Menunggu Hujan. Sejak paragraf pertama, pembaca langsung diperkenalkan pada hujan sebagai latar yang terus berulang.

"Setiap langit mendung dan tebal, perempuan itu pergi ke ujung pelantar rumahnya. Dia duduk menatap langit, menunggu hujan turun sambil mendengar suara gemuruh ombak."

Pengarang sengaja membuka cerita dengan kebiasaan tokoh perempuan yang selalu menunggu hujan. Pada bagian ini, pembaca belum mengetahui alasan di balik kebiasaan tersebut. Hujan hanya tampak sebagai latar yang mengawali cerita. Namun, justru pengulangan inilah yang membuat pembaca mulai bertanya-tanya mengapa hujan selalu hadir setiap kali tokoh perempuan muncul.

Rasa penasaran itu semakin kuat ketika pengarang menuliskan,

"Dia berharap hujan segera turun dan ingin merasakan tajamnya jarum air menerpa kepalanya, tubuhnya. Jarum air hujan yang membangkitkan endapan memori di kepalanya."

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa hujan tidak lagi berfungsi sebagai latar fisik. Hujan telah berubah menjadi pemicu ingatan. Tokoh perempuan tidak sekadar menikmati air hujan, tetapi sengaja mencarinya karena setiap tetes hujan mampu membangkitkan kenangan yang selama ini tersimpan dalam dirinya. Di sinilah fungsi latar sebagaimana dijelaskan Herman J. Waluyo mulai terlihat. Hujan menjadi "metafora bagi situasi psikis pelaku." Setiap kali hujan turun, tokoh perempuan seolah kembali memasuki ruang yang mempertemukannya dengan masa lalu.

Pengarang juga memperkuat kesan tersebut melalui gambaran fisik yang dialami tokoh perempuan.

"Tubuhnya terasa berdenyar dan seperti ada geliat halus merayapi energi hidupnya. Dia akan segera memejam matanya, dan merasakan sensasi jarum hujan itu menjelajah pembuluh darahnya."

Deskripsi ini memperlihatkan bahwa hujan bekerja bukan hanya di luar tubuh tokoh, tetapi juga di dalam dirinya. Sensasi hujan digambarkan menjalar hingga pembuluh darah, seolah-olah setiap tetes air membawa kembali ingatan yang selama ini tidak pernah benar-benar hilang. Pengarang berhasil memanfaatkan latar untuk menunjukkan kondisi psikologis tokoh tanpa harus menjelaskan secara langsung bahwa perempuan tersebut sedang mengalami trauma.

Makna hujan semakin jelas ketika pengarang membawa pembaca kembali pada peristiwa masa lalu yang menjadi awal dari seluruh konflik dalam cerita. Pertemuan tokoh perempuan dengan seorang guru sekolah swasta juga terjadi di bawah hujan.

"Satu ketika perempuan itu berjalan dalam hujan, hujan sore. Renyai. Rambutnya basah. Baju dan celana jinsnya juga sudah mulai lembap. Tiba-tiba lelaki itu berada dan berjalan di sisinya."

Lapangan Sepak Bola yang Menjadi Ruang Kenangan

Latar hujan pada bagian ini menghadirkan suasana yang hangat sekaligus sederhana. Tidak ada peristiwa besar ataupun dialog yang berlebihan. Hubungan mereka justru tumbuh melalui percakapan ringan sambil berjalan di bawah hujan. Pilihan latar tersebut membuat momen pertemuan terasa lebih intim dan alami. Hujan menjadi saksi lahirnya kedekatan antara dua tokoh yang sebelumnya hanya saling melempar senyum.

Dari sinilah pembaca mulai memahami mengapa tokoh perempuan selalu menunggu hujan. Bukan karena ia menyukai hujan semata, melainkan karena hujan menjadi satu-satunya jalan untuk kembali merasakan kehadiran lelaki yang telah pergi. Latar dalam cerpen ini akhirnya tidak hanya memperkuat suasana romantis, tetapi juga menjadi dasar berkembangnya konflik. Ketika kenangan itu berubah menjadi kehilangan, hujan pun ikut berubah makna. Ia tidak lagi sekadar cuaca, melainkan ruang yang menyimpan seluruh luka tokoh perempuan.

Latar yang paling kuat dalam cerpen ini bukan hanya hujan, tetapi juga lapangan sepak bola. Tempat inilah yang menjadi ruang terakhir kebersamaan tokoh perempuan dengan lelaki yang dicintainya. Awalnya, lapangan itu hanyalah tempat yang mereka lewati setelah berjalan bersama. Namun, perlahan tempat tersebut berubah menjadi ruang yang menyimpan kenangan paling berharga.

Pengarang menuliskan,

“Mereka duduk di rerumputan lapang bola itu. Sesekali di langit tampak kilat dan suara petir.”

Tidak lama kemudian, suasana semakin hangat ketika lelaki itu mulai menggenggam tangan tokoh perempuan.

“‘Kenapa? Dingin?’ Lelaki itu kembali menatap perempuan itu. Tiba-tiba lelaki itu menyorongkan tangan kanannya. Menggenggam jari-jari perempuan itu. Membagi hangat tubuhnya.”

Bahkan, hubungan keduanya semakin dekat.

“Lelaki itu mendekatkan tubuhnya. Merapatkan sampai bahu mereka bersentuhan. Dan perempuan itu merebahkan kepalanya ke bahu laki-laki itu.”

Melalui rangkaian peristiwa tersebut, lapangan sepak bola tidak lagi berfungsi sebagai tempat berlangsungnya cerita. Pengarang menjadikannya sebagai ruang yang menyimpan pengalaman emosional tokoh perempuan. Seluruh kenangan indah bersama lelaki itu terjadi di tempat yang sama. Akibatnya, lapangan tersebut berubah menjadi simbol kehilangan yang terus hidup di dalam ingatan tokoh utama. Inilah yang dimaksud Herman J. Waluyo ketika menyebut bahwa latar dapat menjadi “metafora bagi situasi psikis pelaku.” Tempat yang secara fisik tidak berubah justru mengalami perubahan makna karena dipenuhi oleh kenangan yang tidak pernah selesai.

Perubahan makna latar itu semakin terlihat setelah lelaki tersebut meninggal dunia akibat kecelakaan. Sejak saat itu, lapangan sepak bola tidak lagi menjadi tempat yang menghadirkan kebahagiaan, melainkan ruang yang selalu ingin dikunjungi tokoh perempuan untuk mengulang kembali kenangan terakhirnya.

Pengarang menuliskan,

“Berkali-kali dia mengajak suami keduanya itu untuk pergi ke lapangan bola, saat hujan tiba. Mengajaknya berbaring, bermesraan. Dia ingin tidur dan bercinta di sana.”

Kutipan tersebut sering kali dipahami sebagai perilaku yang aneh. Padahal, jika dilihat dari fungsi latar, tindakan tokoh perempuan justru menunjukkan bahwa ia belum mampu melepaskan ruang yang menyimpan pengalaman paling berarti dalam hidupnya. Ia tidak sedang mencari sensasi atau memiliki penyimpangan, melainkan berusaha menghadirkan kembali suasana yang pernah membuatnya merasa dicintai. Sayangnya, orang-orang di sekitarnya hanya melihat perilakunya, bukan alasan yang melatarbelakanginya.

Hal itu tampak dari respons suaminya.

“Gila kamu. Ini kan tempat terbuka dan orang bisa melihat kita melakukan apa-apa. Kan kita punya rumah. Punya ranjang. Mengapa mesti bermesraan di sini? Di tempat terbuka dan dalam hujan pula. Aneh kamu ini!’ kata suaminya itu.”

Melalui dialog tersebut, Rida K. Liamsi memperlihatkan bahwa tempat yang memiliki makna mendalam bagi seseorang belum tentu dipahami oleh orang lain. Lapangan sepak bola bagi tokoh perempuan adalah ruang yang menyimpan cinta terakhirnya, sedangkan bagi suaminya tempat itu hanyalah lapangan biasa. Perbedaan cara memaknai latar inilah yang akhirnya melahirkan konflik dalam cerita.

Selain lapangan sepak bola, pengarang juga menghadirkan pelantar rumah sebagai latar yang terus diulang hingga akhir cerita. Jika lapangan menjadi ruang yang menyimpan kenangan masa lalu, pelantar rumah justru menjadi ruang tempat tokoh perempuan terus menghidupkan kenangan tersebut.

Hal itu tampak ketika pengarang kembali menuliskan,

“Perempuan itu kembali kesepian dan tiap sore kembali menunggu mendung datang, menunggu hujan renyai turun. Perempuan itu kembali berbasah-basah di pelantar. Tidur telentang di sana.”

Kebiasaan tersebut bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi bentuk pelarian tokoh perempuan terhadap kehilangan yang belum pernah selesai. Ia memilih tetap berada di pelantar setiap kali hujan turun karena hanya di tempat itulah ia merasa masih dapat merasakan kehadiran lelaki yang telah meninggal. Latar rumah yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi tempat untuk terus mengulang luka yang sama.

Pengarang bahkan menegaskan kembali hubungan antara hujan, pelantar, dan kondisi batin tokoh perempuan.

“Hal yang paling sering, dia akan bergegas pulang ke rumahnya, dan berbaring di pelantar rumahnya. Tidur di bawah deraian hujan. Menikmati tikaman jarum hujan dan kemudian malamnya dia demam dan mengigau. Bermimpi seakan dia bercinta di lapangan terbuka, di bawah tikaman jarum hujan.”

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tiga latar utama dalam cerpen, yaitu hujan, pelantar rumah, dan lapangan sepak bola, saling berkaitan satu sama lain. Ketiganya menjadi ruang yang terus membawa tokoh perempuan kembali kepada masa lalu. Karena itulah, latar dalam cerpen ini tidak bisa dipisahkan dari perkembangan cerita. Tanpa pengulangan tempat dan suasana tersebut, pembaca tidak akan benar-benar memahami mengapa tokoh perempuan terus hidup dalam bayang-bayang kehilangan.

Selain latar tempat, pengarang juga memanfaatkan latar waktu untuk memperkuat suasana cerita. Hampir seluruh peristiwa penting berlangsung ketika langit mendung, hujan renyai, atau menjelang malam.

Misalnya pada bagian ketika mereka berpisah.

“Tiba-tiba mendung pergi. Renyai beranjak teduh. Dan sayup-sayup terdengar suara azan magrib.”

Pemilihan waktu menjelang magrib bukanlah kebetulan. Dalam kehidupan sehari-hari, waktu tersebut sering dipahami sebagai batas antara terang dan gelap. Di dalam cerpen ini, magrib juga menjadi batas antara kebahagiaan dan kehilangan. Setelah perpisahan singkat itu, tokoh perempuan tidak pernah lagi bertemu dengan lelaki yang dicintainya. Dengan demikian, latar waktu tidak hanya berfungsi menunjukkan kapan peristiwa berlangsung, tetapi juga mempertegas perubahan nasib tokoh utama.

Semua unsur latar tersebut akhirnya saling mendukung hingga membentuk satu kesatuan makna. Hujan menjadi pemicu ingatan, lapangan sepak bola menjadi ruang kenangan, pelantar rumah menjadi tempat mengulang luka, sedangkan waktu menjelang malam memperkuat suasana kehilangan. Inilah yang membuat latar dalam Perempuan yang Menunggu Hujan terasa hidup dan memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi lokasi berlangsungnya cerita.

Latar sebagai Ruang yang Menyimpan Trauma

Kekuatan cerpen Perempuan yang Menunggu Hujan tidak hanya terletak pada kisah cintanya yang tragis, tetapi juga pada keberhasilan Rida K. Liamsi menjadikan latar sebagai bagian penting dalam membangun makna cerita. Hujan, lapangan sepak bola, pelantar rumah, hingga waktu menjelang magrib tidak pernah hadir sebagai pelengkap semata. Setiap latar memiliki hubungan yang erat dengan perjalanan batin tokoh perempuan. Pembaca tidak hanya diajak melihat tempat-tempat tersebut sebagai lokasi berlangsungnya peristiwa, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan ingatan, kehilangan, dan trauma yang tidak pernah benar-benar selesai.

Hal tersebut selaras dengan pendapat Herman J. Waluyo yang menyatakan bahwa "Fungsi setting adalah untuk: (1) mempertegas watak pelaku; (2) memberikan tekanan pada tema cerita; (3) memperjelas tema yang disampaikan; (4) metafora bagi situasi psikis pelaku; (5) sebagai pemberi atmosfir (kesan); (6) memperkuat posisi plot." Dalam cerpen ini, seluruh fungsi tersebut tampak bekerja secara bersamaan. Hujan mempertegas perubahan watak tokoh perempuan setelah kehilangan, lapangan sepak bola memperjelas tema tentang kenangan yang tidak pernah selesai, sedangkan pelantar rumah menjadi metafora atas usahanya yang terus mengulang masa lalu. Di sisi lain, suasana mendung, hujan renyai, dan waktu menjelang malam juga berhasil menghadirkan atmosfer sendu yang mengiringi hampir seluruh perkembangan cerita.

Melalui pemanfaatan latar tersebut, Rida K. Liamsi memperlihatkan bahwa kehilangan tidak selalu hadir dalam bentuk tangisan atau ratapan. Terkadang, kehilangan hidup di dalam tempat-tempat yang pernah menyimpan kebahagiaan. Seseorang bisa saja tetap menjalani hidup seperti biasa, tetapi diam-diam terus kembali pada jalan yang sama, duduk di tempat yang sama, atau menunggu hujan yang sama karena di sanalah ia merasa masih memiliki hubungan dengan seseorang yang telah pergi. Dalam cerpen ini, latar menjadi media yang memperlihatkan bahwa trauma bukan hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga melekat pada ruang-ruang yang pernah menjadi bagian dari pengalaman hidup seseorang.

Di sisi lain, cerpen ini juga menyampaikan kritik terhadap cara masyarakat memandang perilaku yang lahir dari pengalaman traumatis. Sepanjang cerita, hampir tidak ada tokoh yang mencoba memahami mengapa perempuan itu terus menunggu hujan atau mengapa ia selalu ingin kembali ke lapangan sepak bola. Orang-orang di sekitarnya hanya melihat tindakan yang dianggap tidak wajar tanpa berusaha memahami pengalaman yang melatarbelakanginya. Akibatnya, latar yang bagi tokoh perempuan menjadi ruang untuk mengenang justru dipahami sebagai tanda kelainan oleh orang lain.

Pada akhirnya, Perempuan yang Menunggu Hujan menunjukkan bahwa sebuah tempat tidak selalu sekadar tempat. Bagi sebagian orang, tempat dapat menjadi rumah bagi kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Melalui hujan, lapangan sepak bola, dan pelantar rumah, Rida K. Liamsi berhasil membuktikan bahwa latar mampu berbicara lebih banyak daripada dialog para tokohnya. Pembaca akhirnya tidak hanya mengingat kisah cinta tokoh perempuan, tetapi juga memahami bahwa setiap hujan yang ia tunggu sesungguhnya adalah upaya untuk kembali menemui seseorang yang hanya bisa ia jumpai melalui kenangan.

Daftar Pustaka

Liamsi, Rida K. (2022, 27 November). Perempuan yang Menunggu Hujan. Kompas.id.

Waluyo, H. J. (2017). Pengkajian dan Apresiasi Prosa Fiksi. Yogyakarta: Penerbit Ombak.