Selebritas, Sinema, dan Impresi Sosial dalam Peningkatan Minat Baca

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Adiba Raisya Ar Rayan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Latar Belakang
Sebagai salah satu hasil dari perkembangan zaman, media sosial kini menjadi elemen yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu profil yang sering menjadi topik di media sosial adalah selebritas. Berbeda dengan beberapa dekade yang lalu, selebritas tidak hanya dapat dikenal melalui televisi atau radio, tetapi juga media sosial. Campbell (2022) menyatakan bahwa selebritas merupakan sosok yang dikenal luas atas pencapaian yang diraih baik dalam hal tindakan, bakat, maupun eksistensi di media sosial. Seiring dengan perkembangan zaman, selebritas seolah memiliki “kekuatan” untuk mempengaruhi masyarakat kontemporer dalam berbagai aspek kehidupan (West Georgia Psychiatric Center, n.d.).
Pengaruh selebritas terhadap pola kehidupan masyarakat yang paling familiar adalah pada aspek promosi produk. Minat beli konsumen terhadap suatu produk dapat meningkat apabila selebritas yang mempromosikan tampak jujur dan memiliki pengetahuan mendalam terkait produk tersebut (Hananto et al., 2024). Akan tetapi, selain pada aspek promosi, kita juga dapat melihat pengaruh selebritas terhadap kehidupan masyarakat dalam aspek sosial. Selebritas dapat berperan sebagai agen sosial perubahan pada sisi positif (Hoffman et al., 2017).
Fakta dan Data
Di Indonesia, kita dapat melihat bagaimana pengaruh seorang selebritas, baik dari kalangan pemusik, pemain film, maupun pebisnis terhadap masyarakat. Melalui film, misalnya, kita dapat melihat ketika suatu film ramai diperbincangkan, para penonton akan mencari informasi mengenai pemeran dalam film tersebut dan bahkan menjadikan mereka sebagai role model dalam beraktivitas.
Bagaimana sebuah film dan para pemerannya dapat berpengaruh pada kehidupan masyarakat? Film dapat berperan sebagai media hiburan bagi masyarakat (Kumari & Kumar, 2022). Aspek-aspek yang ada pada film dapat memunculkan kesadaran sosial serta membawa perubahan positif bagi setiap elemen pada masyarakat. Film yang mengangkat isu sosial seperti misalnya kesenjangan sosial, gaya hidup masyarakat, serta prinsip-prinsip kehidupan dapat menjadi cermin sosial bagi para penonton. Kemudian, ditambah dengan masifnya perkembangan teknologi terutama media sosial, para pemeran dari film-film tersebut juga dapat memberikan dampak bagi masyarakat.
Kemudian, salah satu isu yang masih menjadi sorotan dari masyarakat Indonesia adalah terkait angka minat baca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia mengalami fluktuasi selama beberapa tahun ke belakang. Istilah yang digunakan untuk mengukur tingkat minat baca tersebut adalah TGM (Tingkat Kegemaran Membaca). Pada tahun 2020, skor TGM Nasional berada pada angka 55,74 (Sari, 2024). Empat tahun setelahnya, pada tahun 2024, skor TGM Nasional berhasil mencapai kenaikan, yaitu sebesar 72,44. Hal tersebut menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia mulai meningkat ke arah yang positif. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti program pemerintah, sinergi antara banyak pihak, serta merebaknya tren yang dapat berkembang dengan begitu cepat di media sosial.
Pembahasan
Selama beberapa dekade, terdapat banyak tren nostalgia, terutama pada budaya pop seperti munculnya remake, rebirth, dan reboot acara televisi, film, serta lagu (Clawsie, 2023). Pada bulan Oktober ini, terdapat salah satu film yang sedang ramai diperbincangkan oleh para pengguna media sosial di Indonesia, yaitu film Rangga dan Cinta yang merupakan rebirth dari film Ada Apa dengan Cinta? yang dirilis pada tahun 2002. Pada tahun tersebut, film Ada Apa dengan Cinta? menjadi salah satu penanda bangkitnya industri perfilman di Indonesia. Dalam film Ada Apa dengan Cinta? serta Rangga dan Cinta, diceritakan bahwa tokoh Rangga dan Cinta sangat menyukai buku. Ketertarikan keduanya terhadap dunia sastra menjadi salah satu premis utama dalam film tersebut. Selain itu, film Ada Apa dengan Cinta? pada tahun 2002 juga memunculkan tren baru dalam gaya hidup remaja, mulai dari cara berbicara hingga cara berpakaian. Pada tahun 2025, melalui film Rangga dan Cinta, kilas balik tren pada tahun 2002 tersebut muncul kembali dengan dibalut nuansa musikal. Para Generasi Z, terutama remaja pada jenjang SMP dan SMA, dapat mengetahui bagaimana perkembangan pada tahun 2002 di Indonesia melalui film tersebut. Lalu, bagaimana pengaruh dari film tersebut dan para pemeran di baliknya terhadap masyarakat Indonesia, terutama Generasi Z?
Daya Tarik Rangga dan Cinta
Daya tarik interpersonal merupakan salah satu konsep yang dapat menjelaskan bagaimana seseorang dapat memiliki ketertarikan pada orang lain. Aronson mengemukakan beberapa faktor munculnya daya tarik interpersonal, di antaranya yaitu sebagai berikut:
Faktor pertama adalah kedekatan. Dalam pendekatan klasik, kedekatan diartikan hanya sebatas kedekatan secara fisik. Namun, seiring berkembangnya zaman dan munculnya pendekatan modern, kedekatan tersebut dapat melampaui perbedaan ruang dan waktu. Kedekatan juga dapat dipahami sebagai hubungan yang dengan sederhana berkembang karena “kita berada pada ruang dan waktu yang tepat” (Aronson, 2013). Kemudian, faktor berikutnya adalah kesamaan. Seseorang akan merasa lebih tertarik dengan orang lain yang memiliki kesamaan seperti dirinya, seperti hobi atau genre film yang sama. Faktor ketiga yang dapat menjabarkan daya tarik pemeran Rangga dan Cinta bagi para penonton dan penggemar adalah daya tarik fisik. Melalui pembawaan suasana diri yang ditunjukkan para pemeran film tersebut, para penonton dan para penggemar merasa tertarik untuk memperhatikan.
El Putra Sarira dan Leya Princy yang berperan sebagai Rangga dan Cinta telah mulai menginisiasi kembali tren membaca di kalangan Generasi Z. Pada tanggal 12 Oktober lalu, Leya Princy mengunggah foto-foto promo Film Rangga dan Cinta dan pada salah satu foto, terlihat bahwa ia dan El Putra sedang membaca buku. Kolom komentar postingan tersebut sontak ramai dengan komentar para penonton dan penggemar yang sebagian besar memuji dan berkeinginan untuk membaca buku seperti keduanya. Melalui daya tarik interpersonal yang dimiliki seorang selebritas, keterlibatan yang dirasakan oleh para penggemar juga akan meningkat (Wang & Lio, 2023).
Dalam hal ini, seorang selebritas yang membagikan aktivitasnya di laman media sosial cenderung dapat menarik perhatian pengguna media sosial. Terlebih apabila aktivitas yang dibagikan dipandang sebagai aktivitas yang bermanfaat seperti membaca buku, berolahraga, atau melakukan kegiatan sosial. Melalui pengungkapan diri (self disclosure), daya tarik interpersonal seseorang dapat meningkat karena pengungkapan diri menunjukkan adanya niat positif dari orang tersebut (Mahmudah, 2021). Dapat kita cermati bahwa Leya Princy dan El Putra merupakan pendatang baru di industri perfilman Indonesia yang kini menjadi salah satu figur publik yang dianggap dapat membantu meningkatkan minat baca masyarakat, terutama Generasi Z. Dibandingkan hanya menjadi penerima pasif, adanya kecenderungan untuk meniru perilaku kesehatan selebritas dapat berasal dari proses yang spesifik, seperti misalnya keinginan menjadi seperti selebritas tersebut (Hoffman & Tan, 2015). Generasi Z melihat Leya Princy dan El Putra sebagai pendatang baru dalam bidang perfilman yang merepresentasikan Generasi Z yang positif. Melalui kegiatan yang sering dilakukan keduanya seperti menjadi sukarelawan, membaca buku, serta mengembangkan minat dan bakat, ketertarikan para penonton dan penggemar keduanya terhadap buku dapat terpantik untuk muncul.
Belajar Sosial
Bandura (1977) mengemukakan empat tahap dari belajar sosial melalui modeling, yaitu atensi, retensi, reproduksi motorik, dan motivasi. Proses belajar sosial dengan menambahkan aspek kognitif yang menjadi perantara antara stimulus dan respons, atau yang dikenal sebagai mediasi (Bandura, 1986 seperti dalam Mcleod, 2025).
Film Ada Apa dengan Cinta? serta Rangga dan Cinta memiliki aspek sastra sebagai salah satu ciri utama. Pada era perkembangan teknologi yang sangat pesat seperti pada saat ini, meningkatkan minat baca pada Generasi Z. menjadi tantangan. Namun, melalui teknologi itu pula, peningkatan minat baca dapat diupayakan.
Kini, melalui film Rangga dan Cinta, para penonton mulai tertarik untuk membaca buku kembali. Hal ini dapat dijelaskan melalui perspektif belajar sosial. Para pemeran film Rangga dan Cinta, seperti misalnya Leya Princy dan El Putra, menjadi sosok yang diamati (model). Dengan daya tarik interpersonal yang keduanya miliki, para penonton dan penggemar tergerak untuk mengikuti aktivitas membaca buku yang keduanya lakukan. Proses mediasi yang terjadi pada hal ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
Pada tahap atensi, masyarakat atau terutama Generasi Z, menangkap adanya daya tarik interpersonal yang dimiliki El Putra Sarira sebagai Rangga dan Leya Princy sebagai Cinta. Penggambaran karakter keduanya sebagai tokoh ikonik mampu menarik perhatian para penonton. Kemudian, perilaku membaca buku dan ketertarikan keduanya pada dunia sastra dipaparkan melalui dialog, latar, serta penjiwaan yang mendalam berhasil membuat para penonton fokus dan menaruh perhatian. Selain itu, melalui media sosial, keduanya menunjukkan kegiatan membaca dan mengunjungi toko buku serta perpustakaan yang memunculkan ketertarikan para pengguna media sosial. Beranjak pada tahap berikutnya yaitu retensi, para penonton film tersebut atau mereka yang mengikuti keduanya di media sosial, akan me-recall ingatan mengenai perilaku membaca buku. Kemudian, perilaku membaca tersebut akan disimpan di dalam ingatan, contohnya melalui potongan adegan yang muncul di media sosial secara terus menerus dan memunculkan keinginan untuk mengikutinya. Memasuki tahap reproduksi motorik, ingatan mengenai perilaku membaca akan diterjemahkan menjadi tindakan nyata, misalnya mulai mencari informasi mengenai buku yang ingin dibaca dan mengunjungi toko buku untuk membeli atau perpustakaan untuk meminjam buku tersebut. Pada tahap terakhir, yaitu motivasi, akan ditentukan apakah peniruan perilaku membaca akan dilanjutkan atau tidak. Penentuan dilakukan berdasarkan konsekuensi yang akan muncul apabila perilaku dilakukan. Apabila konsekuensi dirasa baik, maka perilaku akan dilanjutkan dan sebaliknya, apabila konsekuensi dirasa buruk maka perilaku akan berhenti dilakukan (Mcleon, 2025). Dalam hal ini, perilaku membaca oleh sebagian besar orang dirasa akan berdampak baik, sehingga mereka akan melanjutkan membaca buku.
Kesimpulan
Rangga, Cinta, El Putra, dan Leya Princy adalah salah satu contoh bagaimana perilaku masyarakat dapat dipengaruhi oleh daya tarik interpersonal. Para pemeran film Rangga dan Cinta sebagian besar merupakan Generasi Z yang memiliki ketertarikan pada hal-hal yang berbeda seperti musik, fashion, teknologi, dan sains. Hal ini dapat menjadi pijakan baru bagi perkembangan Generasi Z di Indonesia untuk mengembangkan minat serta bakat yang dimiliki. Selebritas dapat berperan sebagai penggerak dan role model untuk mencapai hal tersebut.
Selain itu, selebritas juga dapat menjadi model yang akan menjadi acuan bagi para penggemar dalam melakukan sesuatu kembali atau bahkan sesuatu yang baru. Dalam konteks peningkatan minat baca, dengan ditunjukkannya hobi membaca oleh Leya Princy dan El Putra Sarira dapat mulai digerakkan kembali semangat membaca pada kalangan muda seperti Generasi Z.
Rekomendasi
Sebagai upaya konkret peningkatan minat baca pada masyarakat, terutama Generasi Z, sinergi antara pemerintah selaku penyusun dan pemangku kebijakan serta sineas dan selebritas selaku pihak pelaksana industri kreatif. Dengan mengadakan program berkelanjutan yang mengutamakan inklusivitas serta pemerataan literasi publik, bersama dengan kerja sama antara pemerintah serta sineas dan selebritas, tingkat minat membaca di Indonesia dapat diupayakan untuk meningkat.
Referensi
Aronson, E., Wilson, D., & Akert, M. (2013). Social Psychology (8th ed.). Pearson.
Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice Hall.
Cashmore, E. (2024). Celebrity Culture. (3rd Ed.). Routledge.
Campbell, J. (2022). Celebrity. EBSCO: Research Starters Home. https://www.ebsco.com/research-starters/social-sciences-and-humanities/celebrity
Clawsie, E. (2023). Nostalgia’s Complicated Role in Contemporary Pop Culture. Pop Culture Intersections. https://scholarcommons.scu.edu/engl_176/57/
Hananto, J., Ayuni, N., Abidah, A., Novitri, A., Salsalbilah, N., & Shodiq, R. (2024). Peran endorsement artis dalam mempengaruhi minat pembelian produk fashion. Jurnal Ilmu Pengetahuan Naratif, 05(3). https://ijurnal.com/1/index.php/jipn
Hoffman, S. & Tan, C. (2015). Biological, psychological, and social processes that explain celebrities’ influence on patients’ health-related behaviors. Archives of Public Health, 72(3), 1-11. http://www.archpublichealth.com/content/73/1/3
Hoffman, S., Mansoor, Y., Natt, N., Sritharan, L., Belluz, J., Caulfield, T., Freedhoff, Lavis, J., & Sharma, A. (2017). Celebrities’ impact on health-related knowledge, attitudes, behaviors, and status outcome: protocol for a systematic review, meta-analysis, and meta-regression analysis. Systematic Review, 6(13), 1-13. https://doi.org/10.1186/s13643-016-0395-1
Mahmudah, S. (2021). Conceptual review: Interpersonal Attraction dalam Pandangan Sosial, Perkembangan, dan Kognitif. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial, 7(2). http://dx.doi.org/10.23887/jiis.v7i2.37736
Mcleod, S. (2025, Oktober 16). Albert Bandura’s Social Learning Theory. SimplyPsychology. https://www.simplypsychology.org/bandura.html
Princy, H. [@harleyavaprincy.] (2025, Oktober 12). Malang-Surabaya cinema visit dumpsies… jangan lupa nonton film Rangga & Cinta dan ajak Milly Mamet Rangga Cintanya kalian! [Foto]. Instagram. https://www.instagram.com/p/DPskUDLEe_M/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
Sari, D. (2025, Juni 10). Tingkat Kegemaran Membaca Indonesia Terus Naik. GoodStats.
https://goodstats.id/article/indeks-tingkat-kegemaran-membaca-indonesia-meningkat-jlMJL
Sonker, P., Kumari, G., & Kumar, N. (2022). Role of Films in Societal Change. Dalam Transcending the Horizon. (hlm. 49-61). Crescent Publishing Corporation. https://www.researchgate.net/publication/386388201_Role_of_Films_in_Societal_Change
The Impact of Celebrity Culture on Adolescent Self-Esteem. West Georgia Psychiatric Center. (2025). https://www.westgeorgiapsychiatriccenter.com/the-impact-of-celebrity-culture-on-adolescent-self-esteem.html
Wang, E. & Liao, Y. (2023). Contribution of internet celebrities’ self disclosure to fan-perceived interpersonal attraction and enduring involvement. Computers in Human Behavior, 140(2023), 1-9. https://doi.org/10.1016/j.chb.2022.107601
