Brain Rot di Kelas: Ketika Siswa Kehilangan Fokus karena Scroll Tanpa Henti

Bachelor of Indonesian Language and Literature Education, Muhammadiyah University of Surabaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Adimas Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siswa yang gelisah menatap layar, menunggu waktu istirahat agar bisa scroll TikTok, Reels, atau Shorts bukan karena mereka ingin kabur dari pelajaran, tapi karena otak mereka sudah terbiasa mendapatkan rangsangan instan setiap beberapa detik. Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah “brain rot” sebuah kondisi di mana otak kehilangan kemampuan untuk fokus dan berpikir mendalam akibat terlalu sering mengonsumsi konten cepat, dangkal, dan menghibur.
Jika dulu gangguan di kelas datang dari teman sebangku yang suka mengobrol, kini distraksi datang dari dalam genggaman tangan. Setiap notifikasi membawa dunia luar masuk ke ruang belajar: video viral, gosip seleb, tren musik, hingga meme baru yang wajib diikuti agar tak dianggap “kudet”. Sementara itu, sekolah masih berdiri kokoh dengan cara lama papan tulis, catatan, tugas, dan ujian. Guru berbicara di depan kelas, siswa menunduk menulis, sementara pikirannya melayang ke notifikasi yang belum dibuka.
Di titik inilah terjadi pertarungan tak seimbang antara algoritma dan kurikulum. Yang satu dirancang untuk menahan perhatian selama mungkin yang lainnya masih berharap pada kesabaran dan fokus yang makin langka. Banyak siswa kini sulit membaca teks panjang tanpa merasa lelah. Esai dua halaman terasa membosankan, sementara scroll video 10 detik terasa memuaskan. Inilah dunia baru tempat generasi muda hidup dunia yang cepat, ringkas, dan penuh stimulasi.
Generasi yang Tak Lagi Tahan Diam
Fenomena brain rot bukan hanya soal kecanduan gawai, tapi soal pola pikir baru yang terbentuk akibat budaya digital. Otak yang terbiasa mendapat informasi cepat akan menolak proses belajar yang lambat. Dalam satu menit, mereka bisa melihat puluhan klip, mendengar banyak suara, dan tertawa berkali-kali. Bandingkan dengan pelajaran sejarah yang butuh waktu 45 menit untuk menjelaskan satu peristiwa.
Akibatnya di banyak kelas, siswa tampak hadir tapi tidak benar-benar ada. Tatapan kosong, tangan tak berhenti bermain pena, atau sesekali melirik layar HP di pangkuan. Bukan karena malas, tapi karena mereka sudah kehilangan toleransi terhadap kebosanan. Padahal, di situlah inti belajar bertahan dalam ketidaknyamanan untuk memahami hal yang kompleks.
Menyalahkan siswa atas hilangnya fokus hanya akan membuat kita menutup mata terhadap akar masalahnya. Sistem pendidikan kita masih berjalan dengan logika lama: guru sebagai sumber utama pengetahuan, siswa sebagai penerima pasif. Padahal, di luar sana, informasi berhamburan bebas dan menarik.
Bukan siswa yang kehilangan semangat belajar, melainkan sekolah yang kehilangan relevansi. Pelajaran sering terasa jauh dari kehidupan nyata, tidak menyentuh rasa ingin tahu mereka yang tumbuh di dunia digital. Akibatnya, otak mereka mencari pelarian sesuatu yang cepat, menyenangkan, dan memberikan reward instan seperti konten hiburan.
Guru hari ini menghadapi tantangan yang belum pernah ada sebelumnya. Mereka harus bersaing dengan dunia digital yang menawarkan dopamin setiap beberapa detik. Namun di sisi lain, mereka juga memiliki peluang: menjadikan dunia digital bukan musuh, tetapi sekutu. Kelas bisa menjadi ruang kreatif yang menggabungkan media sosial, video, atau simulasi digital untuk memancing diskusi. Bukankah lebih baik mengajak siswa membuat konten edukatif daripada sekadar melarang?
Fokus Itu Bukan Bakat, Tapi Latihan
Kehilangan fokus bukan akhir segalanya. Otak manusia punya kemampuan luar biasa untuk menyesuaikan diri. Fokus bisa dilatih, seperti halnya otot yang menguat karena latihan teratur.
Sekolah bisa berperan penting di sini bukan dengan menambah tugas, tapi dengan menanamkan budaya hening, refleksi, dan kesadaran penuh (mindfulness).
Bayangkan jika setiap pagi siswa diajak duduk tenang selama lima menit untuk mengatur napas dan menyiapkan diri belajar. Atau jika setiap pelajaran diakhiri dengan momen refleksi, bukan sekadar catatan tugas. Di tengah hiruk-pikuk notifikasi, latihan seperti ini bisa jadi oasis kecil bagi otak yang lelah.
Selain itu, sekolah perlu memperkenalkan literasi digital yang benar bukan hanya cara memakai teknologi, tapi juga cara mengatur diri di dalamnya. Siswa perlu tahu bahwa otak lelah karena scroll tanpa henti bukan hal sepele, melainkan tanda bahwa mereka kehilangan kendali atas waktu dan perhatian mereka sendiri.
Peran Guru dan Orang Tua di Era Otak Sibuk
Guru dan orang tua kini memegang peran baru, bukan sekadar pengajar dan pengasuh, tetapi pengelola fokus. Anak-anak membutuhkan panduan, bukan larangan. Larangan tanpa arah hanya membuat mereka mencari jalan lain untuk tetap terhubung dengan dunia digital. Di sisi lain, guru bisa mulai mengadopsi pendekatan belajar yang lebih kontekstual seperti belajar melalui proyek, kolaborasi, atau simulasi dunia nyata.
Cara ini bukan hanya menarik perhatian siswa, tapi juga menghidupkan kembali makna belajar sebagai proses, bukan hasil instan. Orang tua juga perlu terlibat aktif. Daripada sekadar menyalahkan anak karena terlalu sering main HP, mungkin saatnya duduk bersama dan memahami apa yang mereka tonton, apa yang mereka cari, dan mengapa mereka betah di sana. Percakapan semacam ini jauh lebih efektif daripada teguran.
Brain rot bukan penyakit yang bisa disembuhkan dengan larangan atau hukuman. Ia adalah gejala dari zaman yang serba cepat, dan kita semua bukan hanya siswa adalah bagian darinya. Namun, pendidikan punya peran untuk mengembalikan makna dari proses berpikir yang mendalam. Tugas sekolah hari ini bukan sekadar mengajar, tapi melatih otak generasi muda untuk tetap tenang di tengah banjir informasi. Kita tidak bisa melawan arus digital, tapi kita bisa mengajarkan cara berenang di dalamnya agar otak mereka tidak membusuk oleh kecepatan, tapi tumbuh karena kedalaman.
