Konten dari Pengguna

Toxic Relationship or Saling Memperbaiki

Adinda Agustin Pryanti
saya mahasiswa aktif universitas negeri Jember dengan bidan prodi S1 sosiologi
3 Desember 2025 16:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Toxic Relationship or Saling Memperbaiki
Tidak semua toxic relationship berakhir dengan luka. Beberapa justru menemukan happy ending setelah proses panjang saling memahami, berubah, dan bertahan.
Adinda Agustin Pryanti
Tulisan dari Adinda Agustin Pryanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Toxic relationship sering dianggap sebagai hubungan yang tidak memiliki masa depan karena penuh pertengkaran, manipulasi, atau salah paham. Namun kenyataannya, tidak semua toxic relationship harus berakhir perpisahan. Ada cerita lain di mana hubungan yang sulit itu justru menemukan tempat untuk tumbuh menjadi lebih sehat, kuat, dan dewasa.Banyak orang memilih menyerah, tetapi ada pula yang bertahan bukan karena takut kehilangan, melainkan karena percaya bahwa hubungan tersebut masih bisa diperbaiki.
ADVERTISEMENT
Dalam toxic relationship, rasa lelah, marah, dan kecewa memang sering muncul. Namun ketika dua orang mulai menyadari sumber keretakan lalu berusaha memperbaikinya melalui komunikasi yang jujur, batasan yang sehat, dan saling menghormati hubungan yang dulu penuh luka bisa berubah menjadi hubungan yang lebih baik.Proses ini tidak instan. Butuh ketulusan, komitmen, dan keberanian untuk berubah, termasuk mengakui kesalahan dan memperbaiki diri.

Bagaimana Toxic Relationship Bisa Menjadi Happy Ending?

Tidak semua hubungan toxic langsung layak diperjuangkan. Namun jika kedua pihak bersedia introspeksi, belajar, dan tumbuh, maka hubungan tersebut mungkin justru menjadi salah satu perjalanan terbesar dalam hidup. Perubahan dimulai dari Belajar mendengarkan tanpa menghakimi, mengurangi ego dan saling menghormati, tidak lagi mengulang pola toksik yang sama dan memaafkan tanpa membawa masa lalu sebagai senjata.
ADVERTISEMENT
Ilustrasi pasangan memperbaiki toxic relationship hingga menjadi happy ending.https://chatgpt.com/s/m_69269bb572188191ad7419101203514e

POV

Kadang saya bertanya pada diri sendiri, kenapa saya tetap bertahan? Saya dan dia bukan dua manusia yang selalu sejalan. Kami sering berbeda pendapat. Hal kecil bisa jadi besar, dan kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan kadang terlanjur melukai. Ada momen ketika salah paham membuat kami diam berhari-hari. Ada pertengkaran yang terasa seperti akhir dari segalanya. Terkadang, rasanya lebih mudah menyerah dibanding mencoba lagi.
Namun setiap kali hubungan itu hampir runtuh, kami selalu menemukan alasan untuk kembali.Di antara ego, marah, dan luka, ada juga pelukan, permintaan maaf, dan upaya untuk menjadi lebih baik. Kami belajar bahwa mencintai bukan hanya tentang rasa nyaman, tapi juga tentang tanggung jawab terhadap hati yang pernah kita sakiti termasuk hati sendiri.
ADVERTISEMENT
Dari hubungan yang penuh benturan itu, kami tumbuh. Kami belajar bahwa, tidak semua yang tidak sejalan harus menjadi alasan berpisah, tidak semua pertengkaran berarti tidak saling mencintai, kadang cinta butuh ruang untuk belajar menjadi dewasa.
Dan entah bagaimana, setelah berkali-kali jatuh, hubungan ini justru terasa lebih kokoh. Mungkin karena kami akhirnya belajar bahwa menang dalam argumen tidak pernah lebih penting daripada menjaga satu sama lain. Pada akhirnya, happy ending kami bukan berarti tidak pernah berantem lagi. Happy ending kami adalah ketika dua orang yang sama-sama keras kepala memilih tetap tinggal, tumbuh, dan memperbaiki bukan menyerah.
Membangun hubungan yang sehat setelah toxic relationship bukan perjalanan mudah. Tetapi ketika dua orang saling memilih, saling memperbaiki, dan mau belajar mencintai dengan cara yang lebih dewasa akhirnya yang tersisa bukan lagi luka, melainkan versi terbaik dari hubungan itu.
ADVERTISEMENT