Konten dari Pengguna

Mengintip Masjid Berusia Satu Abad di Bekasi

Adinda Chelsea

Adinda Chelsea

Saya merupakan mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi di LSPR Institute of Communication & Business yang memiliki ketertarikan dalam dunia penulisan, media digital, dan isu-isu sosial.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinda Chelsea tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasu pribadi (2025)
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasu pribadi (2025)

Di tengah padatnya lalu lintas kota Bekasi dan deru kereta yang tak henti, berdiri tenang sebuah masjid yang telah menjadi bagian dari sejarah panjang masyarakat: Masjid Jami An-Nur. Masjid ini telah berdiri sejak tahun 1916 dan terletak di Kecamatan Kranji, Bekasi Barat dan menjadikannya salah satu masjid tertua di wilayah Bekasi. Namun, sebelum dikenal dengan nama An-Nur, dulunya masjid ini bernama Masjid Iqra, sebuah surau kecil yang berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial warga sekitar.

Untuk menandai usianya yang mencapai satu abad, pada 3 Maret 2017, dibangun sebuah Menara 1 Abad tepat di depan masjid. Menara ini tak hanya menjadi simbol peringatan sejarah, tapi juga menjadi tempat menyimpan foto-foto para pendiri, guru ngaji, dan pengurus lama masjid. Sebuah pengingat nyata bahwa Masjid An-Nur dibangun oleh tangan-tangan masyarakat yang penuh dedikasi.

Menara Satu Abad Masjid Jami' An nur (Dokumentasi pribadi)

Dulu Ramai, Kini Lebih Hening

Dahulu, jamaah dari kampung Rawabambu rutin datang ke masjid ini. Namun setelah area tersebut tertutup rel kereta, mobilitas jamaah pun berubah. Aktivitas masjid kini memang tidak seramai dulu, apalagi dengan lokasinya yang persis di tepi jalan besar dan dekat jalur rel yang ramai.

Meski begitu, semangat komunitas tetap hidup. Setiap sore hari, anak-anak masih belajar mengaji. Saat Jumatan, masjid ini tetap dipenuhi jamaah. Dan walau kegiatan harian berkurang, masih ada pengajian malam yang diisi oleh bapak-bapak seperti:

– Malam Minggu dan Malam Senin oleh pengurus lama

– Malam Rabu, Kamis, dan Jumat (Yasinan) oleh pengurus baru

Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah

Masjid Jami An-Nur ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga ruang sosial dan pelayanan masyarakat. Di sekitar masjid, tersedia ruang istirahat bagi para musafir, dan tiap malam selalu ada petugas jaga atau satpam. Masjid ini juga memiliki mobil ambulans yang bisa digunakan oleh masyarakat umum, khususnya di daerah Kranji dan Kalibaru.

Tiap tahunnya, masjid ini rutin menggelar buka puasa bersama, tadarus, dan kegiatan santunan. Bahkan dalam waktu dekat, minggu ini, akan diadakan sunatan massal dan santunan yang diselenggarakan oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).

Pernah Viral Pada Masanya

Masjid ini juga memiliki catatan sejarah yang unik. Saat Idul Fitri, jamaahnya bisa membludak hingga ke tepi jalan. Suasana tersebut sempat viral di masa pandemi COVID-19, karena menunjukkan kerinduan masyarakat terhadap suasana ibadah berjamaah yang sempat dibatasi.

Kini, dengan kapasitas yang mampu menampung hingga 3.000 jamaah, Masjid An-Nur terus berkembang. Renovasi dan perluasan terus dilakukan, namun nuansa kehangatan dan nilai-nilai sosial tetap dipertahankan. Salah satu bagian unik yang masih dijaga adalah sumur tua di area masjid yang oleh sebagian warga dianggap sebagai sumur keramat, bagian dari sejarah panjang yang tak pernah dilupakan.

Menjaga Warisan Menumbuhkan Kehidupan

Masjid Jami An-Nur bukan sekadar bangunan ibadah. Ia adalah penanda sejarah, pengikat komunitas, dan pengingat bahwa ruang ibadah bisa jadi pusat kehidupan sosial. Dari namanya yang dulu “Iqra” hingga kini dikenal sebagai An-Nur, dari surau kecil ke pusat kegiatan sosial, masjid ini membuktikan bahwa warisan tidak harus mewah yang penting tetap menyala.